Pembelajaran Agama Hindu Berwawasan Sains

Oleh : I Wayan Suja, FMIPA Undiksha Singaraja

“Tidaklah berlebihan jika dikatakan
bahwa masa depan sejarah ditentukan oleh
sikap generasi sekarang terhadap hubungan antara agama dan sains.”
Whitehead

Setiap membuka wacana tentang sains dan agama, dalam pikiran banyak orang sering muncul pertanyaan berikut. Apakah sains dan agama bisa dipertemukan? Haruskah kita memilih antara agama dan sains? Menurut Hewlett pertanyaanpertanyaan seperti itu bisa terjadi karena perjumpaan agama dan sains selama ini digambarkan oleh para “ekstrimis”, yang tidak memahami agama dan sains secara utuh. Sains dan agama sesungguhnya memiliki bahan kajian berbeda dan komplementer. Sains memfokokus-kan perhatiannya pada dunia fisik, sedangkan agama pada domain psikis. Sains menjanjikan kemudahan dan kenikmatan hidup, sedangkan agama menuntun hidup yang benar. Memang, sains bermaksud menyingkap misteri dan ketidakpastian dunia, namun upaya tersebut tidak pernah berakhir. Misteri dunia tidak mungkin dipecahkan oleh para ilmuwan sendiri karena keterbatasan daya nalar dan peralatan yang dimilikinya. Selain keterbatasanketerbtasan tersebut, sebagaimana dinyatakan oleh Max Planck, sains tidak akan dapat memecahkan misteri alam semesta karena pada analisis terakhir kita akan menjadi bagian dan misteri alam semesta karena pada analisis terakhir kita akan menjadi bagian dan misteri yang hendak dipecahkan. Di sisi lain, agama yang selalu mempromosikan diri sebagai ajaran yang lengkap dan sempurna, justru tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan atas berbagai fenomena alam dan sosial yang terjadi dalam kehidupan.

Setiap orang yang merindukan pencerahan, sudah saatnya menyadari perlunya kebebasan berpikir, namun tetap sadar bahwa kita ini hanyalah makhluk Tuhan yang lemah, yang pada suatu ketika mungkin saja bisa salah dalam menafsirkan wahyu suciNya. Kebebasan berpikir untuk mencapai kebenaran ilmiah, sebagaimana juga disampaikan oleh Nasoetion (1999), termasuk pendapat yang berlawanan dengan pandangan agamawan, jangan sampai dikekang, sebab tafsir yang mereka anut juga merupakan hasil olah pikir manusia. Semestinya, setiap orang harus yakin bahwa pada akhirnya setiap pengetahuan hasil usaha menemukan kebenaran ilmiah akan mempunyai titik temu dengan wahyu suci Tuhan. Sebagaimana disampaikan Domb, sainstisme dan teisme memang berhadap-hadapan, tetapi untuk bersalaman dan bekerja sama. Ibarat tangan, jempol memang berbeda dengan jan-jan lainnya, namun perbedaannya itu untuk memperkuat genggaman tangan kita. Tujuan kerja sama diungkapkan olch Radhakrishnan, yaitu untuk menemukan wawasan realitas tertinggi (sarva sastra prayojanam atma darsanam).

Sejalan dengan pertemuan kebenaran ilmiah dan kebenaran normatif agama, para waskita Hindu memandang hanya ada satu kebenaran sejati, namun orang bijaksana memformulasikan dan menyebutnya dengan banyak nama. Ekam sat viprah bhahuda vadanti (Rg.Veda 1.164.46), dan bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa (Kekawin Sutasoma). Oleh Suj amto, pandangan tersebut dilabel sebagai Tantularisme. Tentang kebenaran sejati yang hanya satu adanya, namun sangat beragam persepsinya, mengingatkan kita pada keinginan orang-orang buta untuk mengenal gajah dengan jalan meraba, sebagaimana dilukiskan dalam Wrhaspati Tattwa. Mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang gajah karena perbedaan obyek rabaannya, sedangkan gajahnya hanya satu. Keterbatasan (kebutaan) menyebabkan mereka memiliki perspektif berbeda. Kesadaran inilah yang mestinya dimiliki oleh para ilmuwan dan agamawan. Pemikiran manusia, baik pandangan ilmiah maupun keagamaan, tak pernah mencapai titik final, dan oleh karena itu rekonstruksi adalah proses tanpa henti. Sains tidak seobjektif apa yang dibayangkan, sebaliknya agama tidak sesubyektif apa yang diperkirakan banyak orang.

Kita (semua) lengkap dengan keterbatasan. Mata manusia hanya mampu melihat benda-benda yang memancarkan atau memantulkan cahaya tampak. Batas sensitivitas mata kita antara cahaya ungu (panjang gelombang 400 nm) sampai dengan cahaya merah (panjang gelombang 800 nm). Di luar trayek tersebut mata kita tidak dapat melihat. Telinga hanya mampu juga memiliki kemampuan mendengar sangat terbatas. Telinga hanya mampu mendengar gelombang suara audiosinik dengan frekuensi 20 – 20.000 Hertz. Di luar frekuensi tersebut, kita tidak mampu mendengarkannya.

Selanjutnya, daya nalar manusia juga terbatas. Dalam banyak kasus, keterbatasan memang menimbulkan kertyamanan. Di sisi lain, kemampuan berpikir walaupun terbatas-mendrong kehausan intelektual (intellectual curiosity) dan rasa kagum (thauma) terhadap segala ciptaan Tuhan. Keingin-tahuan dan penyelidikan terhadap aspek fisis alam menghasilkan sains, sedangkan kekaguman dan penyelidikan terhadap aspek psikis memunculkan agama. Berkaitan dengan sains dan agama, Capra (2002) menyebutkan bahwa kedua bidang kajian tersebut mengakui adanya keterbatasan bahasa dan pikiran manusia. Keterbatasan untuk mencapai kesempurnaan inilah yang semestinya dijadikan landasan untuk bekerja sama di antara agamawan dan ilmuwan.

Dalam upaya untuk mengeratkan hubungan antara sains dan agama, walaupun kontribusinya masih sangat kecil urituk mewujudkan tujuan mulia tersebut, saya telah mengembangkan beberapa model pembelajaran sains, berbasis kearifan lokal yang dijiwai oleh nilai-nilai agama Hindu, seperti Tri Hita Karana, Tn Kaya Parisudha, dan Catur Pramana. Pada makalah ini kita justru akan melakukan arus balik dan apa yang saya lakukan selama ini, yaitu mempelajari atau mengajarkan konsepkonsep agama melalui fenomena alam. Hindu mengajarkan bahwa alam adalah badan Tuhan, “Ishvarah sarva bhutanam”, sehingga sudah selayaknya kita juga bisa belajar dan prilaku alam, memperkuat keyakinan kita terhadap nilai-nilai agama yang kita anut dengan memperhatikan berbagai fenomena alam yang ada di sekitar kita.
Hubungan Sains dan Agama
Ketika agama pertama kali bertemu dengan sains modern pada abad XVII, perjumpaan itu bersifat mesra dan bersahabat. Kebanyakan penggagas revolusi ilmiah adalah orang-orang yang taat beragama, dan melakukan penyelidikan ilmiah untuk semakin mengenali ciptaan Tuhan. Seabad kemudian, beberapa ilmuwan yakin bahwa Tuhan Sang Perancang Alam Semesta – bukan lagi Tuhan yang personal– terlibat aktif dalam kehidupan manusia dan dunia. Pada abad XIX sejumlah ilmuwan mengabaikan agama kendatipun Darwin sendiri masih berkeyakinan bahwa proses evolusi merupakan kehendak Tuhan itu sendiri. Selanjutnya, pada abad XX interaksi antara agama dan sains mengambil beragam bentuk. Temuan-temuan baru dalam sains menantang gagasangagasan keagamaan kiasik. Sebagai respon, beberapa orang berupaya mempertahankan doktrin tradisional keagamaan, beberapa orang meninggalkannya, dan beberapa orang lainnya mereposisi konsep keagamaannya secara ilmiah.

Memasuki milenium ketiga masih banyak ada orang memandang sains dan agama sebagai musuh dalam pertempuran hidup-mati. Pembela-pembela dan kedua kubu secara agresif terus melancarkan perang, terutama dalam isu evolusi dan bioteknologi. Konflik tersebut sesungguhnya bisa dielakkan jika sains dan agama bersifat independen, masing-masing menempati domain yang terpisah pada jarak yang aman satu dengan lainnya. Lazim dikatakan, bahwa sains menelusuri hubungan sebab-akibat antar peristiwa, sedangkan agama mencari makna dan tujuan hidup. Dua pencarian ini menawarkan perspektif yang saling melengkapi tentang dunia, masing-masing berdiri sendiri, terpisah, dan tidak terlibat hubungan konfliks.

Beberapa orang kini berupaya mencari kemitraan yang konstruktif di antara keduanya. Mereka mendapatkan bahwa sains telah memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya sendiri. Misalnya, mengapa harus ada alam semesta? Mengapa jagat raya memiliki keteraturän? Apakah alam ini merupakan ciptaan Sang Perancang Yang Cerdas? Beberapa orang ilmuwan menyadari keterbatasan disiplin ilmu mereka dan tidak mengklaim telah mengantongi selunth jawaban. Mereka berprinsip, bahwa kita dapat belajar satu dengan lainnya. Beberapa teolog (agamawan) berupaya merumuskan kembali gagasan-gagasan keagamaan mereka tentang Tuhan, manusia, dan alam dengan mempertimbangkan temuan-temuan sains mutakhir sembari tetap berpegangan pada ajaran utama agama mereka.

Sebagai gambaran umum tentang hubungan sains dan agama, dalam bukunya yang beijudul “Religion in an Age of Science”, Barbour mengusulkan empat tipologi (mazhab) untuk memetakan berbagai pendekatan yang dipakai dalam hubungan sains dan agama, yaitu : konflik, independensi, dialog, dan integrasi. Penganut mazhab konflik memandang agama dan sains bertentangan, sehingga tidak mungkinn dipertemukan. Penganut mazhab independensi memandang sains dan agama merupakan dua domain independen yang dapat hidup bersama sepanjang masing-masing mempertahankan jarak antara aman satu dengan yang lainnya. Sains dan agama melayani fungsi berbeda dalam kehidupan manusia dan berupaya mencari pemecahan atas permasalahan yang berbeda pula, karena itu bersifat saling melengkapi (komplementer), bukan saling meruntuhkan.

Mazhab dialog memungkinkan kerja sama yang lebih erat lagi antara agama dan sains. Salah satu bentuk dialog adalah membandingkan metode kedua bidang kajian tersebut untuk menunjukkan kemiripan dan perbedaan. Misalnya, model konseptual dan analogi dapat digunakan untuk menggambarkan hal-hal yang tidak teramati, seperti Thhan dan partikel subatomik. Dialog juga bisa terjadi ketika konsep-konsep sains digunakan sebagai analogi untuk membahas hubungan Tuhan dengan dunia. Dengan kondisi ini, ilmuwan dan teolog merupakan mitra dialog dalam melakukan refleksi kritis atas topik-topik tertentu dengan tetap menghormati integritas masing-masing. Terakhir mahzab integrasi melibatkan kemitraan yang lebih sistematis antara sains dan agama, yang dilakukan di kalangan pencari titik temu di antara keduanya. Di kalangan mereka, yang diantaranya melahirkan natural theology telah dirumuskan argumentasi tentang keberadaan Tuhan sebagai Perancang Maha-cermat atas berbagai tetapan dalam fisika, dan sebagai perancang yang cerdas atas alam semesta dan penentu “asas ketidakpastian”.

Di dunia Barat pengkajian hubungan sains dan agama, yang semakin harmonis mengalami peningkatan. Rata-rata jumlah buku bertema “sains dan agama” yang diterbitkan setiap tahun menurut Perpustakaan Kongres Amerika mengalami peningkatan tiga kali lipat, yakni 71 pada tahun 1950-an menjadi 211 pada tahun 1990-an. Para agamawan, yang tidak jarang juga berlatar belakang ilmuwan, semakin terbuka untuk menerima kebenaran sains. Bahkan, pandangan heliosentris, yang semula dianggap murtad, kini telah diterima sebagai sebuah kebenaran ilmiah. Dalam Konsili Vatikan Kedua dinyatakan bahwa, “Penelitian yang dilaksanakan benar-benar secara ilmiah tidak rnungkin akan tertentangan dengan irnan, karena baik kenyataan dan luar agama maupun kenyataan keagamaan sama-sama bersumber pada Tuhan yang sama itu juga”. Kesimpulan konsili ini disusun dalam rangka pembebasan dan rehabilitasi nama Galileo Galilei (pencetus pandangan heliosentris) dan hukuman yang dijatuhkan pada tahun 1663. Kenyataannya, rehabilitasi itu baru terlaksana pada tahun 1979 (dalam rangka memperingati seabad kelahiran Enstein).

Mekanika kuantum memandang materi memiliki sifat partikel dan gelombang. Pandangan ini tidak berbeda dengan teori Tantra dan Veda, tentang nada dan bindhu. Jika diterjemahkan secara kasar, nada berarti getaran atau vibrasi. Pada saat Brahma menciptakan materi, nada adalah getaran yang diciptakan pertama kali dalam kesadaran kosmis berpikir. Selanjutnya, secara literer bindhu berarti titik (partikel tanpa dimensi). Menurut ajaran Tantra dan juga sains modern, ketika materi dianggap terpisah dan kesadaran, materi tersebut dianggap teruat dan banyak bindhu. Itulah sebabnya, Partyagatmananda menyebutkan bahwa setiap objek atau proses harus dipelajari sebagai nadawise dan binduwise atau gelombang dan partikel.

Pada akhirnya, kini mahzabmahzab non konflik memiliki pandangan bahwa agama dan sains haruslah berjalan bergandengan. Seperti dikatakan oleh Einstein, “Sains tanpa agama buta, sebaliknya agama tanpa sains lumpuh”. Hal senada juga disampaikan oleh Nasution, yang menyarànkan agar orang-orang beriman perlu mempertemukan pikir dengan zikir secara seimbang , karena terlalu banyak berzikir tanpa berpikir dapat mengekang perkembangan ilmu pengetahuan yang akibatnya hanya merugikan diri (kelompok) sendiri. Dalam perspektif kehinduan, perlu diharmoniskan antara kepala dan hati, antara wiweka dan wirasa. WHD No. 502 Oktober 2008.

sumber : http://parisada.org/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s