Bakti dalam Hindu

Kita sering mengucapkan kata bhakti seperti mebhakti, ngaturang bhakti, satya bhakti dan sebagainya. Istilah bhakti memiliki arti yang luas yaitu sujud, memuja, hormat setia, taat, memperhambakan diri dan kasih sayang, bhakti juga merupakan suatu jalan dalam betuk melakukan sujud dan pemujaan serta memperhambakan diri secara setia kehadapan Hyang Widhi. Rasa bhakti ini juga diwujudkan dengan jalan menghormati dan menyayangi sesama ciptaan Beliau dan orang yang menempuh jalan Bhakti di sebut Bhakta.

Jalan untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi Wasa  ada empat cara/jalan yang sering disebut dengan Catur Marga yang diantaranya karma marga yaitu berbakti dengan cara berbuat/bekerja, Bhakti marga yaitu berbhakti dengan cara melakukan persembahan/sujud bhakti, jnana marga yaitu berbhakti dengan cara mentransper ilmu pengetahuan yang kita miliki, dan raja marga yaitu berbhakti dengan cara mempraktekkan ajaran-ajaran agama seperti melakukan tapa, bratha, yoga dan samadhi.

Dalam kitab Bhagavata Purana VII.52.23 menyebutkan 9 jenis bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut dengan Navavidha bhakti, yang diantaranya :
1.    Srawanam yang berarti berbhakti kepada Tuhan dengan cara membaca atau mendengarkan hal-hal yang bermutu seperti pelajaran/ceramah keagamaan, cerita-cerita keagamaan dan nyanyian-nyanyian keagamaan, membaca kitab-kitab suci.
2.    Kirtanam yang berarti berbhakti kepada Tuhan dengan jalan menyanyikan kidung suci keagamaan atau kidung suci yang mengagungkan kebesaran Tuhan dengan penuh pengertian dan rasa bhakti yang ikhlas serta benar-benar menjiwai isi kidung tersebut.
3.    Smaranam adalah cara berbhakti kepada Tuhan dengan cara selalu ingat kepada-Nya, mengingat nama-Nya, bermeditasi. Setiap indera kita menikmati sesuatu, kita selalu ingat bahwa semua itu adalah anugrah dari Tuhan. Cara yang khusus untuk selalu mengingat Beliau adalah dengan mengucapkan salah satu gelar Beliau secara berulang-ulang misalnya: “Om Nama Siwa ya”. Pengucapan yang berulang-ulang ini disebut dengan japa atau japa mantra.
4.    Padasevanam yaitu dengan memberikan pelayanan kepada Tuhan Yang Maha Esa, termasuk melayani, menolong berbagai mahkluk ciptaannya.
5.    Arcanam yaitu berbhakti kepada Tuhan dengan cara memuja keagungan-Nya.
6.    Vandanam yaitu berbhakti kepada Tuhan dengan jalan melakukan sujud dan kebhaktian.
7.    Dasya yaitu berbhakti kepada Tuhan dengan cara melayani-Nya dalam pengertian mau melayani mereka yang memerlukan pertolongan dengan penuh keiklasan.
8.    Sakhya yaitu memandang Tuhan Yang Maha Esa sebagai sahabat sejati, yang memberikan pertolongan ketika dalam bahaya.
9.    Atmanivedanam adalah berbhakti kepada Tuhan dengan cara menyerahkan diri sepenuhnya kehadapan Hyang Widhi. Seseorang yang menjalankan bhakti dengan cara ini akan melakukan segala sesuatunya sebagai persembahan kepada Tuhan. Hal ini mengacu kepada Bhagawadgita Bab IX,27 yang menyatakan bahwa “apapun yang kau perbuat, apapun yang kau makan, apapun yang kau berikan, laksanakanlah itu sebagai persembahan kepada-Ku.” Para bhakta ini juga sangat yakin bahwa tiada satu pun kejadian tanpa kehendak yang Maha Kuasa, karena itu apapun yang menimpa dirinya, diterimanya secara ikhlas sebagai kehendak Tuhan.

Atmanivedanam ini adalah cara bhakti yang tertinggi karena harus didahului dengan Wairagia yaitu suatu keadaan dimana orang tidak lagi terikat pada hal-hal keduniawian.  Menurut ajaran bhakti marga Tuhan mewujudkan diri-Nya kepada penyembah-Nya dalam berbagai cara dan berbagai wujud.

Jika pemuja-Nya membayangkan Beliau sebagai langit biru, maka Beliau pun akan mendatanginya dalam wujud itu dan sebagainya. Hal ini dinyatakan dalam Bhagawadgita Bab IV,11 yang berbunyi “dengan jalan bagaimana pun orang-orang mendekati, dengan jalan yang sama itu juga aku memenuhi keinginan mereka. Melalui banyak jalan manusia mengikuti jalan-Ku, Oh Partha”.

Sloka ini menunjukan sifat universal dari ajaran agama/kebenaran dan memberikan waranugraha-Nya kepada siapapun yang mendekati Tuhan dengan penyerahan bhakti menurut cara-caranya sendiri, tidak mengikatkan dirinya pada sekte-sekte tertentu, bahkan sebaliknya menerima semua harapan-harapan menurut alamnya sendiri, mulai dari mereka yang hanya dengan sajen-sajen sampai pada tingkatan yang bersamadhi, baik yang mengikuti karma kandha (dengan upacara-upacara sajen) maupun Jnana Kandha (dengan pengetahuan) yang selalu dilandasi dengan Bhakti, Tuhan memberikan waranugraha Beliau. (*)

Sumber :http://www.pontianakpost.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s