Aspirasi Hendaknya Tak Anarkis

MELAKUKAN kegiatan demo untuk menyampaikan aspirasi adalah hak rakyat yang dijamin undang-undang. Cuma yang tidak dijamin oleh undang-undang adalah melakukan kegiatan anarkis, merusak fasilitas umum (fasum) dan sebagainya. Bahkan kegiatan tersebut melanggar undang-undang. Dalam Artha Sastra kehendak rakyatlah yang seharsnya menjadi kehendak pemerintah atau Raaja.

Kata Raaja berarti membahagiakan orang banyak. Kalau pemerintah lebih banyak mengutamakan kebahagiaan mereka, itu artinya belumlah pemerintahan yang benar. Demo salah satu cara agar pemerintah melakukan kegiatan pembangunan bukan hanya untuk rakyat saja. Tetapi harus dari rakyat dan oleh rakyat. Kalau baru untuk rakyat, belum tentu yang dibutuhkan oleh rakyat yang dilakukan oleh pemerintah. Tepatnya oleh rakyat, dari rakyat baru untuk rakyat. Demikianlah proses pembangunan yang demokratis harus dilakukan melalui proses oleh, dari dan kemudian baru untuk rakyat. Kalau demo yang memadukan kehendak rakyat dan pemerintah dilakukan dengan santun, cerdas dan bijak tentunya mulia sekali tujuan demo tersebut.

Demo yang dilakukan dengan anarkhis seharusnya ditindak dengan tegas sebagai pelanggar hukum yang wajib diberi sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku. Demo yang anarkhis seperti melempar petugas keamanan dengan tongkat bambu, batu dan alat lainya itu jelas tidak dibenarkan oleh ketentuan hukum yang mengatur tentang demo. Khusus tentang pembakaran ban bekas itu adalah perilaku yang merusak lingkungan alam dan juga dapat digolongkan juga melanggar hukum tentang pelestarian lingkungan alam.

Atharvaveda XVIII.I.17 menyatakan, ada tiga lapisan bumi yang disebut Tri Chanda harus dilindungi dari pencemaran yaitu apah (air), vata (udara) dan osadha adalah tumbuh-tumbuhan bahan makanan dan obat-obatan. Mencemari tiga lapisan bumi tersebut adalah dosa yang paling besar. Demo dengan membakar ban bekas sangat jelas asapnya mencemari udara. Udara yang tercemar itu dapat merusak kehidupan tumbuh-tumbuhan, hewan dan pernapasan manusia. Menurut penelitian Prof. Dr. Emil Salim mantan Menteri Lingkungan Hidup saat pemerintahan Orda Baru, ada sepuluh kerusakan di kulit bumi ini. Kerusakan tersebut disebabkan bergesernya orientasi hidup umat manusia dari hidup berdasarkan kebutuhan (need) telah bergeser menjadi hidup berdasarkan keinginan (wants) dengan gaya hidup yang hedonis. Di antara sepuluh kerusakan kulit bumi antara lain meningkatnya polusi udara dengan dampak negatifnya pada infeksi saluran pernapasan manusia. Hal ini terjadi karena hampir di semua kota baik di negara maju maupun negara berkembang sudah tampak kongesti kota dengan kemacetan lalu lintas yang semakin serius. Infeksi saluran pernapasan akibat polusi ini tercatat sebagai pemubunuh bayi yang paling kejam di bumi ini. Semakin banyak turunnya hujan asam (acid rain) sebagai hasil proses kimiawi antara butir-butir dengan bahan pencemar dari kegiatan manusia, seperti karbon oksida dan lain-lainya yang berlangsung di udara. Hasil pencemaran di beberapa negara mengakibatkan turunnya hujan asam di beberapa negara lainya. Hujan asam ini mengakibatkan matinya pohon yang dimulai dari pembusukan pucuk pohon.

Naiknya suhu bumi dengan pengaruhnya pada perubahan iklim. Gas-gas karbon yang berasal dari pembakaran minyak fosil di daratan dilepas ke udara dan membentuk semacam “selimut bumi” yang menahan panas bumi untuk naik ke udara lebih tinggi dan memantulkan kembali panas itu ke bumi sehingga suhu bumi naik. Dengan naiknya suhu bumi ikut mempengaruhi iklim global yang sekarang sudah semakin tidak menentu. Musim hujan melewati batas waktunya dan musim kering menjadi lebih kering dari biasanya. Dampak perubahan iklim cukup serius bagi pertanian. Petani sulit memperhitungkan musim tanamnya secara tepat. Terjadinya proses semakin menipisnya lapisan ozon di udara akibat dimakannya lapisan ini oleh gas chloro fluor carbon yang berasal dari industri. Kadar pencemaran industri dan konsumsi di bumi ini sudah begitu tinggi sehingga sampai menipiskan lapisan ozon di angkasa.

Dengan demo yang anarkhis dengan ucapan kasar dengan umpatan melemparkan batu, tongkat bambu dan lain-lainnya. Di samping itu disertai dengan membakar ban bekar jelas sekali cara menyampaikan perbedaan pendapat yang tidak bijak, dan tidak menyelesaikan masalah. Hal itu hanya memicu emosi, kemarahan dan menjauhkan berbagai pihak dengan rasa saling membenci dan saling menyalahkan. Demo yang tidak beretika dan banyak melanggar hukum di samping tidak menyelesaikan masalah malahan menimbulkan masalah baru yang membuat rakyat semakin rumit dalam menjalani kehidupan bersama. Yang sangat disayangkan demo anarkhis itu dilakukan atas nama mahasiswa. Mahasiswa itu adalah calon-calon intelektual harapan bangsa. Demo menyampaikan aspirasi itu seyogianya dijadikan latihan oleh mahasiswa untuk menampilkan kemampuannya untuk memperjuangkan aspirasi rakyat dengan landasan kebijaksanaan ilmu pengetahuan dan kekuatan moral dan mental sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya. Mahasiswa seyogianya melatih diri menampilkan keintelektualannya dalam demo menyampaikan aspirasi rakyat. Bukan justru brutal dan anarkhis. Karena brutal dan anarkis itu ciri orang yang tidak mampu menggunakan kecerdasan intelektualnya mengendalikan dirinya. Anarkhis dan brutal itu merusak lingkungan dan menimbulkam vibrasi buruk pada dinamika psykhologis sosial.

Dalam Canakya Nitisastra XIII.21 ada tiga Ratna Permata Bumi yang wajib dijaga dengan kecerdasan intelektual yang dilandasi oleh moral dan mental tangguh. Tiga Ratna Permata Bumi itu adalah Anna yaitu tumbuhan bahan makanan dan obat. Apah adalah air dan Subha Sita artinya kata-kata bijak yang dirumuskan dari Sabda suci. Demo hendaknya jangan merusak Tri Ratna Permata Bumi tersebut.

Sumber :http://www.balipost.co.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s