Pulau Bagi Diri Sendiri

‘’OLEH karena itu, Ananda, engkau harus hidup bagikan pulau bagi dirimu sendiri, menjadi pelindungmu sendiri, tidak berlindung kepada orang lain, dengan dhamma sebagai pulau, dengan dhamma sebagai pelindungmu, tidak ada perlindungan lain.’’

Ungkapan di atas disampaikan oleh Sang Buddha secara langsung kepada Ananda tiga bulan menjelang Parinibbana-–mangkat dalam kesempurnaan. Pesan tersebut masih tercatat dalam Mahaparinibbana Sutta, bagian dari Sutta Pitaka.

Sang Buddha bukan hanya mengingatkan Ananda, namun juga kepada para siswa yang lain, termasuk semua umat Buddha khususnya dan umat manusia pada umumnya. Hendaknya setiap orang bisa menjadi pulau bagi dirinya sendiri dan tidak tergantung pada pihak luar.

Banyak orang yang tidak bisa menerima kondisi kehidupan yang terjadi dalam dirinya, apalagi bila kondisi yang muncul adalah kondisi yang tidak menyenangkan. Tidak ada orang yang mengharapkan kerugian dalam bisnis atau kehilangan sesuatu. Tidak ada orang yang berharap agar dirinya memiliki gangguan kesehatan. Tidak ada orang yang mengharapkan datangnya usia tua. Tidak ada orang yang mengharapkan kondisi yang tidak menyenangkan.

Sebaliknya, setiap orang tentu mengharapkan keuntungan, wajah yang cantik atau tampan, badan yang sehat, dan usia muda. Semua orang mengharapkan kondisi yang baik dan berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan harapan tersebut.

Buddha menyampaikan agar menjadi dhamma sebagai pelindung yang sejati. Dhamma mengajarkan kebenaran, hukum kesunyataan yang tidak lapuk oleh waktu. Dhamma mengajarkan kebaikan, perbuatan yang pantas dan tidak pantas untuk dilakukan, perbuatan yang benar dan salah. Dhamma mengejarkan tentang hidup dan kehidupan, tentang sebab dan akibat, dan masih banyak yang lainnya.

Bagaimana dhamma dapat melindungi diri kita? Tidak ada cara lain kecuali mempraktikan dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Lakukan praktik dhamma yang bisa dilakukan. Secara garis besar, dhamma mengajarkan kita untuk melakukan perbuatan baik, tidak melakukan perbuatan buruk, dan berusaha untuk mensucikan hati dan pikiran.

Dalam kesempatan itu, Buddha melanjutkan pesannya kepada Ananda; “Di sini, Ananda, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, sadar jernih, penuh perhatian, dan segera menyingkirkan segala keserakahan dan cengkraman terhadap dunia. Dan sedemikian pula sehubungan dengan perasaan, pikiran dan obyek-obyek pikiran.”

Pada bagian selanjutnya, Buddha mengingatkan kepada semua orang untuk selalu melatih diri agar pikiran terkonsentrasi dan waspada. Selalu sadar dengan kondisi yang terjadi. Ini adalah latihan pikiran agar pikiran baik menjadi lebih kuat dan pikiran buruk menjadi lemah; dikenal dengan latihan meditasi.

Mereka yang memiliki pikiran yang kuat dan kokoh, selalu dalam keadaan sadar dan waspada, akan lebih bisa menerima keadaan yang terjadi dan berusaha untuk menjadi yang terbaik dalam kehidupannya. Mereka bisa menerima keadaan yang terjadi, derita, rasa sakit, dan rasa tidak bahagia yang lainnya.

Kita tidak bisa menghindar dari rasa sakit dan usia tua. Ketika usia bertambah tua, banyak rasa tidak nyaman yang muncul di badan. Banyak orang tua yang mengeluh dan tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Buddha sendiri juga mengalami rasa tidak nyaman. Tubuh ini sudah usang, ungkap Buddha, bagaikan kereta yang ditarik dengan tali.

Menjelang datangnya Bulan Waisak, mari kita memperbaharuhi tekad dengan lebih banyak berlatih dalam kehidupan ini. Setiap orang bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Baik atau buruk kehidupan yang Anda jalani, tidak lepas dari berbuatan masa lampau. Baik atau buruk kehidupan masa depan yang Anda harapkan, tergantung dari perbuatan yang kita lakukan dalam kehidupan ini.

Jadikan dhamma sebagai pelindung, pelita dalam menempuh kehidupan ini sehingga kita selalu berjalan di jalan dhamma. Buatlah pulau bagi diri sendiri sehingga tidak tenggelam dalam arus kehidupan membahayakan. Perbaharuhi tekad kita menjelang hari Waisak dengan terus belajar dan berlatih diri.

Sumber :http://www.balipost.co.id/

Iklan

One comment on “Pulau Bagi Diri Sendiri

  1. Salam sejahtera dalam Buddha Abidharma,

    Saya senang sekali membaca artikel-artikel saudara-saudaraku penganut Buddha yang menjalankan Dharma atau Dhamma sebab kami meyakini bahwa mereka pelaku Dhamma akan mendapatkan ketenteraman batiniah, harmonis dan rendah hati.

    Dalam kitab suci kami mengatakan:

    Sefer Akhi Yeshua Mshikha

    Pasal 1

    1 Orang-orang sedang duduk mengelilingi sang Guru, dan mereka mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka ingin mendengar ucapan-ucapan perkataan yang memberikan mereka hidup. Mereka seperti domba yang sedang kelaparan membutuhkan makanan.

    2 Shimun, seorang diantara Murid-murid (Talmidim), berkata: “Kami tidak tahu kebenaran seutuhnya – dan kami butuh mendengarkan pengajaranMu.”

    3 Mshikha menjawab: “Sungguh baiklah hal itu. Segala sesuatu yang ada membutuhkan Torah (Ibrani: Torah dan Pali: Dharma/Dhamma), dan setiap orang bisa menemukan apa yang benar di bawah permukaan – terkubur lebih dalam dari pada mata kita. Kebenaran itu seperti melihat pantulan warna putih cahaya bulan di air. Jika air keruh, kamu tidak bisa melihatnya dengan jelas. Itu seperti jerami terbakar di api – jika jerami lembab, api tak bisa membakar dengan baik. Kebenaran-kebenaran Torah bisa tersembunyi dan menguap seperti hal ini. Oleh sebab itu, Shimun, ketahuilah jika orang ingin mengikuti Jalan Hidup mereka harus menjernihkan pikiran mereka, dan menyingkirkan segala sesuatu yang menghalangi kemampuan mereka belajar memahami kebenaran yang utuh.

    4 Menjadi murni dan hening itu berarti harus membuka diri bagi kemurnian dan keheningan – sebagai hasilnya kamu akan mulai belajar memahami kebenaran. Ini berarti terang bisa bersinar mengungkapkan akibat dan sebab yang menuntun kepada damai sejahtera. Shimun, ketahuilah ini. Sabda-sabda diberikan kepadaKu oleh Bapa di Sorga yang terserak ke segala penjuru.

    5 Orang berjuang keras berusaha belajar memahami terlalu banyak dalam sekejap. Namun, usaha keras ini menciptakan keinginan melakukan sesuatu. Suatu usaha menciptakan gerak yang bisa membuahkan kecemasan: Jika hal itu terjadi maka sulit mendapatkan ketenangan dan rasa puas. Itulah sebabnya Aku mengajarkan kesabaran dan bertahap belajar memahami Torah, karena jika kamu tenang niscaya tidak ada gangguan. Kemudian kamu bisa masuk kedalam Kerajaan Sorga.

    6 Hindarkan dirimu dari semua bentuk yang mengganggu dan memusingkan kepalamu*, dan jadilah semurni orang yang bernafas dalam kemurnian dan kekosongan yang pasrah kepada Mar-Yah. Inilah yang disebut awal mula pengetahuan* – Inilah jalan menuju damai sejahtera dan kebahagiaan.

    7 Shimun, ketahuilah hal ini. Bapa bisa ditemukan di seluruh sorga dan bumi*. Anak Alaha adalah ungkapan gambar Bapa; Anak itu adalah jalan menuju kepada Bapa dan juga bisa dilihat diantara semua orang yang percaya kepadaNya.

    8 Mereka yang berbuat kesalehan segera meraih nama yang tenar namun kemasyhuran membuat orang bertingkah laku aneh. Mereka menjadi hanyut oleh arus gelombang ambisi dunia. Ini membuat mereka membusungkan dada dan meninggikan apa yang mereka lakukan. Orang semacam ini tidak pernah meraih damai sejahtera dan kebahagiaan sebab mereka tidak mengenal Anak dan mereka ini tak memiliki kesabaran.

    9 Mereka ini tidak hidup dalam kehidupan yang sederhana dan mereka berlomba melayani keinginan nafsunya sendiri. Akan tetapi, bagi mereka yang hidupnya sederhana dan lemah lembut dan mereka yang tidak berlomba melayani keinginan nafsu badaniah mereka sendiri ini mengenal jalan menuju kepada damai sejahtera dan kebahagiaan melalui Anak.

    10 Shimun, kamu harus dengar dan perhatikan Torah. Jangan kamu dibingungkan oleh segala sesuatu perihal dunia ini. Pada saat kamu sampai kepada tingkat pemahaman ini maka kamu akan bisa mencicipi Torah. Darah dagingkanlah Torah dalam hatimu.

    11 “Jadilah berbelas kasih dan selalu welas asih tanpa berusaha mengambil muka di hadapan orang lain. Setiap orang yang melakukan dengan cara ini akan merasa lega – dan inilah jalan menuju kepada kedamaian dan kebahagiaan.”

    12 Kemudian semua orang berdiri dan setelah menundukkan kepala mereka menyanyikan kidungan ini:

    “Semua puja puji bagi sang Guru Agung,
    Sebab Engkau mengajari kami Torah dalam kebenaran,
    Seperti apa adanya dan rahasia dan kedalamannya,
    Diluar jangkauan akal.”

    13 Dan salah seorang dari Murid-murid berkata kepada Mshikha, “Guru, meskipun kami tidak menganggap diri memahami segala sesuatu kami akan terus belajar.”

    14 [Yeshua berkata,] “Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu, damai dan kebahagiaan hanya bisa diperoleh di mana dunia ini tidak ada. Hal itu seperti suatu gunung gundul luas yang di kelilingi dengan hutan dan rimba raya. Ada banyak tempat perteduhan dan istirahat. Segala jenis binatang umumnya menyukai tempat itu.

    15 Damai dan kebahagiaan itu juga seperti samudera raya yang luas dan dalam tiada dasar: Kamu tak perlu cemas bagaimana mahluk-mahluknya bertahan hidup. Mereka menyelam ke sana dan mendapatkan semua yang mereka butuhkan.

    Dan kamu, apa yang kamu perbuat? Kamu selamilah dengan alamiah ajaran-ajaran ini, dan melaluinya kamu akan masuk untuk tinggal dalam damai dan bahagia. Binatang-binatang mempraktekkan iman sejati dan hidup dengan aturan hukum kodratnya. Maka semua itu sudah ada di sana, dalam kenyataan itu, dan maka kamu akan masuk kedalam suatu tempat di mana dunia atau keinginan tidak ada.”

    16 Dan semua mereka yang berdiri di sana berkata “Ya! Amin!”
    (Sutra/Sefer Achi Yeshua 1:1-16 Peshitta HESV/Ms92).

    Kami sangat menghormati Mar Siddharta Gottama pendiri Buddhisme, beliau adalah salah satu Guru yang kami hormati yang membabarkan “jalan kebenaran” bagi umat manusia. Beliau ada dalam alam Nirvana yang abad ke-7 Masehi pernah datang menginstruksikan Dharma dalam vihara-vihara kami yang tetap dijaga oleh Sangha kami di Tibet – Cina – Nepal – Mongolia dan Jepang dan Burma – Vietnam-Laos, dll.
    Kami adalah umat Nasraya Yahudi dari Tanah Suci Yerusalem yang sudah ada di wilayah Asia dan Timur Jauh sejak zaman Pembuangan tahun 568 Seb.Masehi dan migrasi terbesar sejak kami terserak tahun 135 Masehi saat Yerusalem dibumihanguskan oleh kaisar Hadrian dari Romawi, sehingga bangsa Yahudi tersebar ke seluruh ujung bumi hingga saat ini dan dikumpulkan kembali oleh El-Shaddai (sang Kesadaran Besar Maha Kuasa) kami menjadi bangsa secara nasional Negara Israel sekuler tahun 1948 sebagai bangsa merdeka di tengah-tengah bangsa Arab di Timur Tengah.

    Sehubungan dengan tulisan saudara yang menyebutkan “… menjadi pulau bagi diri sendiri” adalah identik pada pengajaran kami dalam perintah Dharma/Dhamma/Torah/Taurat: “…kasihilah dirimu sendiri seperti engkau mengasihi orang lain juga”, yang artinya bagaimana kita bisa menjadi wadah /pulau yang akan dihuni orang lain jika kita tidak menjadi pulau yang nyaman, menyediakan segala sumber hayati dan nabati bagi penghuni? Ini harus dibangun dahulu pada diri kita sendiri yang kami sebutkan dalam istilah harus “menjadi garam dan terang bagi orang lain” (Beshura Mattityahu 5:13-16).

    Siddharta Gotama telah mencapai ‘pencerahan’ menjadi garam dan terang dunia yang telah menggarami kehambaran hidup manusia dan menerangi kegelapan dari berbagai keruwetan pikir manusia dan hati yang dipenuhi kegelapan, 8 Jalan Tengah telah memberikan kita menyadari fitrah hidup dan kodrat azali manusia yang sering kali kita lupakan.

    Bagi kami Siddharta Gottama adalah “haTsadiqq Timur” (Jannasuci/Orang Kudus) yang diutus sang Pencipta Alam Semesta untuk menerangi umat manusia di Timur dalam konteks budaya pemikiran Timur untuk mengestafetkan Perjanjian Semestawi nabi Nuh (Kejadian/Bereshet 9:17) dari anak-anak Nuh: Shem, Ham dan Japeth. Alaha sang Pencipta alam semesta ini mengasihi semua umat manusia tanpa pandang bulu, kita semua sama dan sederajat di hadapanNya.

    Persoalannya, seiring dengan perjalanan waktu dalam sejarah dan peradaban manusia nilai-nilai religiositas itu semakin bias sehingga salah satu dari umat saudara kita kaum Manikheanisme dalam pilar Wahyu (mengalami Boddhi) mengatakan:

    Hikayat Para Utusan Awal

    1Dari waktu ke waktu Hikmat dan Pengajaran Murni selalu diberikan kepada umat manusia oleh para Utusan Alaha, dari abad ke abad ada Para Utusan diutus melalui Zurvan – Shitil bar Adam, Zarathustra, Mahavira, Siddhartha, Mashikha dan lainnya. 2. Utusan dari sang Terang, Cahaya gemilang, datang ke Persia kepada Raja Gushtap; ia memilih murid-murid saleh dan jujur dan mewartakan harapannya di Persia. Tetapi Zarathustra, Guru dan Pemimpin agama Mazdean, tidak secara harfiah menuliskan kitab-kitab; para muridnya yang datang setelah dia mengingat dan menuliskan pengajaran dari Kitab-kitab yang mereka baca masa kini, ia mengungkapkan Dua Kodrat yang saling bertarung satu sama lain. Mereka menghormatinya lebih dari semua Para Utusan lainnya, Zarathustra bahkan dikuburkan di makam Raja-raja, mereka membuat pakaian kerajaan dan membaringkannya dengan penuh kehormatan di sebuah makam di negeri orang Hindu. 3. Ketika Siddhartha (Buddha Gautama) datang pada gilirannya ke India, dan Mahavira dan yang lainnya telah dikirim ke Timur, para murid melaporkan kepadanya bahwa ia juga mewartakan Harapannya dan mengajarkan banyak kebijaksanaan. Dia memilih dan melengkapi jemaat-jemaat dan mengungkapkan kepada mereka Amanatnya. Tapi hanya ada fakta bahwa ia tidak menuliskan kebijaksanaannya dalam Kitab-kitab; para muridnya yang datang setelah dia, mereka itulah yang mengingat sesuatu dari kearifan yang mereka dengar dari Siddhartha dan mencatatnya dalam Kitab-kitab Suci (Sutra). 4. Pada abad lainnya mereka diajari oleh Isho (Ibrani: Yeshua) di Barat (Persia arah barat = Yudea); dan agama-agama sebelumnya itu benar selama para pemimpin murni berada didalamnya, namun, dalam perjalanan waktu mereka menjadi serong – baik itu ajaran-ajaran dan Kitab-kitab Suci tercatat dari jemaat-jemaat mereka. Setelah itu Wahyu ini, Nubuat ini di era terbaru, telah turun ke Babilonia melalui aku, Mani sang Utusan dari Alaha Benar yang ditujukan kepada mereka yang beraneka macam mazhab dan aliran. Bagi masing-masing dari mereka aku telah beritahukan bahwa dalam hikmatnya sendiri dan kitab sucinya sendiri kebenaran dapat ditemukan – kebenaran yang telah aku singkapkan dan ditunjukkan kepada dunia. Aku telah menuliskan Pengajaran Murni dalam kitab-kitab Terangku seperti yang telah diwahyukan dalam zamanku, tetapi apa yang aku tidak tuliskan mengingat hal itu sesuai dengan kemampuanmu dan sejauh yang kamu tahu perkara itu, dan kemudian menuliskan suatu sudut pandang (sinopsis) dari banyak hikmat kearifan yang kamu telah dengar dariku, sehingga hal itu tidak bisa dapat dirusak. Jika kamu menuliskan hal itu dan mengaguminya, maka kamu akan sangat tercerahkan, dan mendapatkan manfaat, dan dibebaskan melalui daya kuasa Kebenaran.”— (Kitab Karazuta d’Mar Mani. Bagian 30)

    Dalam dunia agama – agama selalu ada kata “distorsi/ bias” dan lawan kata ini selalu ada kata “kaum Sisa”; kedua kelompok keagamaan ini selalu melakukan perang Mahabarata dalam jagat manusia sepanjang sejarah. Kaum Distorsi (bida’a) selalu merupakan kelompok mayoritas sebab bisa berkompromi dengan segala ketidakmurnian, sebaliknya “kaum Sisa” selalu kaum marjinal dan gaungnya sayup-sayup, jika terdengar dengan cepat diberangus oleh suara mayoritas. Kaum Sisa sangat toleran dan berprinsip “tidak angkat pedang melawan saudara-saudaraku”…(Prasetya Sefasha Nasrani Yahudi Asli tahun 100 M, butir 12) . Kaum Sisa dengan ‘kebenaran’ yang diusungnya tidak pernah melakukan kolonialisasi budaya agama terhadap keagamaan lokal yang dimasukinya tanpa terjadinya sinkretisme dengan agama lokal, tetapi sebagai suluh terang yang menerangi keagamaan lokal serta mengulurkan tangan untuk bangkit berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah sembari membersihkan dari kekotoran ide-ide keagamaan lokal yang tidak sesuai dengan Perintah-perintah sang Pencipta alam semesta dan perjanjian Nuh – Perjanjian Pelanggi bagi bangsa-bangsa Non-Yahudi. Kita semua umat manusia diberikan agama oleh sang Pencipta dan jika ditelusuri mundur ke belakang kepada asal mula semua akan datang pada titik sumber yang sama. Kita tak bisa melenyapkan ekspresi-ekspresi budaya keagamaan lokal sebab itu adalah jati diri mereka di mana ekspresi tersebut sebagai wahana mereka hidup dan juga merupakan jati diri mereka.

    Dalam agama hanya ada dua hal yakni; relasi vertikal dan relasi horizontal membetuk garis SALIB (Buddhisme: Swastika). Relasi Vertikal merupakan Konsep Keagamaan berupa; teologi, ideologi, dogma, doktrin, motto, simbol, secremonial, tradisi dan adat istiadat yang kita ringkas sebagai Tiga Pilar Batu Pualam (Sutra/Kitab Suci, Tantra/Tradisi dan Dzogchen/Wangsit) dan Relasi Horizontal sebagai ekspresi Mengasihi Sesama Manusia, Mahluk dan Alam.

    Bagi kami Salib dan Tanda Salib bukan sekedar Yeshua (Orang Barat sebut sebagai Yesus) mati tersalib pada abad pertama Masehi, pembabaran ini luas sekali mencakup semua apapun. Kaum Kristen cenderung berpikir kerdil memaknai salib hanya seputar kematian seorang Jannasuci di kayu salib. Bagi kami Dia adalah pemeteraian sistem korban bagi Torah/Dharma Nuh dan Dharma Musa. Salib merupakan uluran tangan Ilahi kepada umat manusia dan manusia terhadap sesamanya dan ciptaan lainnya yang dilandasi dari KASIH atau WELAS ASIH (Keluaran 6:4-9; Injil Markos 12:28-34) dan puncak melakukan Dharma/Dhamma/Torah/Taurat adalah menanggalkan KEMELEKATAN DAGING yang merupakan sumber Samsara manusia dan penghalang terbesar pertemuan Ilahi dan Manusia (Mattityahu/Matius 19:21-26). faktor kemelekatan daging inilah merupakan penghalang bagi manusia mencapai terang atau bodhi sehingga mereka tidak bisa menjadi Anak-anak terang (Bnai Or) seperti yang diperintahkan sang Terang Dunia, yakni Yeshua haMashiah sang Amithaba Buddha atau Buddha Maitre-Ya (Injil Yohanes 8:12) yang bagi pengikutNya disebut sebagai ‘anak-anak terang’ (Yohanes 12:36) yang dalam konteks Timur disebut sebagai “buddha – buddha” atau “Bodhisattvas’.

    Saya senang sekali membaca artikel saudaraku kaum Buddhis, meskipun kita ada perbedaan dalam konsep relasi Vertikal tetapi kita bersaudara dalam relasi Konsep Horizontal.

    Semoga sang Dhamma jagat segera datang! Maranatha! (dalam bahasa Aramaik)

    Salam damai,

    Shamasha Hotman Lumbantoruan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s