Bali, di Antara Tradisi dan Modernitas

Setelah membahas tentang subak secara mendalam dan sistematis, Clifford Geertz dalam bukunya yang berjudul “Negara, The Theatre State in Nineteenth Century Bali” (1980) sampai pada suatu kesimpulan, bahwa di seluruh dunia tidak ada organisasi sosial pengairan yang seefektif subak. Demikian pula halnya dengan V.E. Korn dalam bukunya “Het Adat Recht van Bali” (1938) menyatakan kekagumannya kepada kepandaian dan kehebatan orang Bali dalam membuat saluran-saluran air di bawah tanah (bhs. Bali: aungan). Korn menyebut mereka sebagai para insinyur Bali. Kehebatan orang Bali dalam bidang arsitektur bangunan tradisional juga sudah diakui luas oleh para ahli arsitektur modern.

Di bidang ilmu pengobatan tradisional (usada) misalnya, Wolfgang Weck (1976), seorang ahli kedokteran berkebangsaan Jerman, memberikan perhatian yang khusus tentang usada. Dalam bukunya yang berjudul “Heilkunde und Volkstum auf Bali”, disebutkan bahwa tata cara pengobatan tradisional Bali memberi sumbangan yang penting bagi metode pengobatan dalam ilmu kedokteran modern, yang perlu mendapatkan perhatian kita.

Semua penyataan tersebut di atas menunjukkan adanya landasan yang kuat dan segi-segi positif dari kemampuan orang Bali dengan kebudayaannya yang masih bersifat tradisional, untuk maju dan dikembangkan dalam dunia modern serta globalisasi saat ini. Memang tidak semua nilai-nilai budaya tersebut dapat hidup dan berkembang dengan baik dalam kemajuan zaman saat ini, dan tidak semua nilai-nilai yang bersifat tradisional bersifat positif. Namun seringkali nilai-nilai budaya tradisional yang positif tersebut justru terdesak oleh kuatnya arus modernisasi dan globalisasi, karena kurangnya pemahaman terhadap makna tradisi dan modernisasi. Dunia pendidikan modern misalnya, seringkali “menyingkirkan” nilai-nilai budaya tradisional tersebut, sehingga tidak mendapatkan tempat yang sepantasnya dalam sistem pengajaran dan pendidikan, sehingga proses transmisi dan transformasi budaya sering mengalami hambatan. Meskipun arus modernisasi dan globalisasi melanda begitu kuat, sejumlah pengamat dan ahli mengakui bahwa Bali sampai saat ini masih diakui sebagai tempat di mana tradisinya masih hidup dan berkembang dengan baik.

Dualitas tradisi dan modernitas Bali misalnya dikatakan oleh MacRrae (2005:5), “Bali sudah terkenal sebagai pulau yang sangat tradisional, akan tetapi kenyataannya Bali juga menjadi pulau yang sangat modern bila dibandingkan dengan wilayah Indonesia pada umumnya”. Di sisi lain Michel Picard (2006) mengemukakan: dalam sejarahnya orang Bali tampaknya telah memperlihatkan suatu bakat istimewa dalam menyerap secara selektif pengaruh-pengaruh luar, dengan hanya memilih unsur-unsur yang cocok dengan nilai yang ada pada mereka, kemudian dipadukan dengan selaras dalam sistem budaya mereka. Hasilnya bukanlah pelapisan berbagai strata budaya yang terpisah-pisah melainkan suatu perpaduan yang orisinal dari benda-benda dan citra-citra dari parktik-praktik dan kepercayaan yang meskipun berbeda asalnya, namun lambat laun mengambil wujud menjadi sesuatu yang bersifat khas Bali.

Dalam kaitannya dengan kebudayaan Bali pada umumnya dan sastra Bali pada khususnya, setidak-tidaknya untuk saat ini, tradisi dan modernitas dapat hidup saling berdampingan dan saling melengkapi, sebagaimana diungkapkan Diana Askovic, seorang antropolog berkebangsaan Amerika. Pandangan Askovic tersebut dengan jelas menyebutkan bahwa di satu sisi Bali tetap bisa menjaga kebudayaan tradisional yang dilestarikan selama berabad-abad di tengah cepatnya arus modernisasi yang sedang berlangsung saat ini, namun di sisi lain kehidupan kesenian Bali menunjukkan suatu dinamik perubahan bentuk artistik dan gaya yang konstan (terus-menerus). Pernyataan Askovic memang lebih ditujukan untuk menyebutkan tradisi dan modernitas dalam kaitannya dengan seni pertunjukan Bali (Balinese Performing Arts). Meskipun demikian, konsep dan kerangka pemikirannya tersebut dapat juga digunakan untuk memahami aspek realitas sosio-kultural kehidupan masyarakat Bali yang lebih luas, yang tidak dapat dilepaskan dari persoalan tradisi dan modernitas. Walaupun masyarakat Bali telah mengalami gelombang terpaan kebudayaan yang datang dari Timur dan Barat, yang telah menimbulkan terjadinya perubahan-perubahan, menurut Prof. Ngurah Bagus (1995) pada hakikatnya perubahan yang diakibatkan oleh pertemuan budaya tersebut belum begitu berarti, karena masyarakat Bali masih bercorak kolektif, komunal dan ritualistik. Namun seiring dengan makin kuatnya terpaan konsumerisme dan materialisme, kini orang Bali juga sudah menjadi semakin individualistis dan asosial.

Pertemuan dengan Budaya Asing

Hubungan dan interaksi orang Bali dengan kebudayaan asing bukanlah merupakan sesuatu yang baru. Jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kakinya di Nusantara masyarakat Bali sudah dipengaruhi secara mendalam oleh pengaruh-pengaruh luar, khususnya yang dibawa oleh kebudayaan India dan Jawa—tanpa melupakan pengaruh lebih tersamar dari kebudayaan China (Gde Agung, 1987; Picard, 2006). Berdasarkan pengamatan dan penelitian yang dikemukakan oleh Hildred Geertz (1988), bahwa orang Bali telah sejak dahulu kala berkenalan dengan budaya asing dan sudah bersifat internasional. Hildred Geertz selanjutnya mengatakan, masyarakat desa-desa di Bali pada zaman kuno bukan tertutup dan terpencil, malah bersifat ‘internasional’. Hal itu terbukti dari adanya lalu lintas orang-orang dari luar desa (malah mungkin dari luar Bali), adanya beberapa bahasa dan sastra, adanya orang-orang terpelajar, adanya perbedaan sosial yang ditunjukkan dari gelar-gelar, adanya pembuatan perahu dan layangan, adanya emas, perak dan lain-lain barang-barang diimpor dari luar Bali. Semua ciri-ciri itu berarti bahwa dari zaman purbakala sampai sekarang ini penduduk Bali sudah biasa dan lancar mengadakan hubungan-hubungan dengan pendatang dari luar lingkungannya sendiri (Geertz, 1988).

Proses Indianisasi misalnya telah melahirkan sejumlah kerajaan yang pada mulanya betul-betul menjadi negeri-negeri serupa dengan di India, kemudian berubah mengikuti lokal jenius tersendiri akibat kebudayaan setempat (Coedés, 2010). Berkat pengaruh agama Hindu, berkembanglah sistem pertanian yang tangguh, sistem sosial-politik, bahasa dan sastra, serta seni lainnya sehingga mencapai tingkat yang tinggi (Bagus, 1995). Melalui pertemuan dengan kebudayaan-kebudayaan luar tersebut Bali diperkaya dengan berbagai ciri yang selanjutnya digabungkan dalam subtrat Austronesia melalui suatu proses sinkretis yang khas dan mempesona (Picard, 2006).

Pada abad ke-7 Masehi orang-orang Cina telah mengenal Bali dan memberi nama pulau ini dengan sebutan Dva-pa-Tan (Gde Agung, 1989). Pernyataan-pernyataan tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa hubungan kebudayaan Bali dengan kebudayaan asing bukan baru terjadi pada abad ke-18, melainkan jauh sebelum itu. Akibat adanya hubungan kebudayaan tersebut menyebabkan kebudayaan Bali juga mengalami perkembangan dan perubahan. Selain mendapat pengaruh dari kebudayaan India dan China, kebudayaan Bali juga mendapatkan pengaruh yang sangat intensif dari kebudayaan Jawa, terutama setelah ditaklukkan oleh kerajaan Majapahit. Sebelum ditaklukkan oleh kerajaan Singhasari tahun 1284 Masehi, dan oleh Majapahit tahun 1343 Masehi, Bali telah mengalami masa keemasannya. Raja Bali Kuna terakhir yang gilang-gemilang adalah Jaya Pangus, yang membuat tiga puluh buah prasasti, prasasti terbanyak dari raja-raja Bali Kuna yang lain (Goris, 1974). Setelah Bali ditaklukkan oleh Majapahit, dan Sri Astasura Ratnabhumi Banten, raja Bali terakhir dikalahkan, menurut Zoetmulder (1984),

Kraton-kraton di Bali sejak saat itu mengalami suatu proses “Jawanisasi” yang sistematis; demikian juga masyarakatnya. Para Brahmin dari Jawa kemudian menetap di Bali dengan membawa serta ajaran dan praktek keagamaan Hindu-Jawa yang berbeda dengan Hindu-Bali, memperkuat pengaruh India yang telah aktif sejak berabad-abad sebelumnya. Sejak pertengahan abad XIV Bali telah masuk ke dalam lingkup pengaruh “Hindu-Jawa” seperti terasa lewat berbagai pusat kebudayaan dan religi, di mana bahasa dan sastra Jawa Kuna dipelajari, ditiru, dan dikembangkan. Sejak saat itu Bali harus dipandang sebagai bagian dari dunia kebudayaan Hindu-Jawa.

Hubungan Bali dengan kebudayaan Barat baru mulai lebih mendalam sejak abad ke-18. Meskipun demikian, hingga awal abad XX hubungan kebudayaan Barat dengan kebudayaan Bali belum banyak membawa pengaruh perubahan terhadap kebudayaan Bali, karena hubungan tersebut lebih banyak diwarnai dengan peperangan dan penaklukan. Pengaruh intensif kebudayaan Barat terhadap kebudayaan Bali baru terjadi ketika Bali telah dikuasai sepenuhnya oleh Pemerintah Kolonial Belanda sejak awal abad XX, ketika seluruh kerajaan di Bali telah dikuasai pada tahun 1908.

Semakin dikenalnya Bali sebagai daerah tujuan wisata menyebabkan hubungan Bali dengan dunia Barat menjadi semakin intensif masuk ke dalam berbagai aspek kebudayaan Bali. Interaksi dengan dunia luar melalui pariwisata tersebut di satu sisi dapat memperkaya, namun juga memperlemah posisi kebudayaan Bali, tergantung dari kemampuannya menyaring masuknya pengaruh budaya luar. Ida Bagus Mantra (1995) mencatat bahwa dalam periode modern ketika Bali belum lama mendapat pengaruh dari budaya Barat, pada tahun 1930-an generasi pada saat itu telah berhasil menyaring unsur-unsur yang baik dari kebudayaan luar, sehingga seni dan budaya Bali mendapatkan potensi yang lebih besar untuk memperkaya masyarakatnya, baik dari segi rohani maupun rohani.

Diskusi-diskusi tentang modernisasi masyarakat Bali tergambar dalam tema-tema yang dikenal dengan baik dalam perdebatan akademis yang lebih luas. Pusat pembicaraan mereka tentang modernitas saat ini telah bergeser dari pembahasan tentang pengaruh budaya Barat yang dibawa oleh bangsa Eropa yang diidentifikasikan sebagai subalter dari modenisasi yang bersifat plural, sebagaimana dikemukakan Picard (1996), Vickers (1996), Vickers dan Darma Putra (2000). Diskusi-diskusi tersebut kini secara keseluruhan berkisar pada pertempuran serta perdebatan mengenai pengaruh modernisasi pada zaman Kolonial sebelum Perang Dunia II, atau ketegangan-ketegangan yang terjadi pada abad XX, yaitu ketegangan antara keinginan untuk berpatisipasi dalam realita kehidupan modern dan rasa kepedulian masyarakat Bali terhadap pelestarian tradisi dan budaya, serta kehidupan keagamaan mereka. Bagi masyarakat Bali sendiri, menjadi modern, sebagaimana halnya dengan masyarakat lain yang pernah dijajah, lebih merupakan sebuah proses daripada sebuah perwujudan final. Sebagaimana pernah dikhawatirkan oleh Vickers (1996), perkembangan modernisasi tidak dapat dilihat sebagai sesuatu yang terhubung secara mudah antara budaya Barat dengan budaya Bali. Vickers mengakui bahwa perubahan dan modernisasi telah terjadi dalam masyarakat Bali sebelum mereka bersentuhan dengan Kolonial Belanda, yang telah mengambil alih kehidupan sosial, politik dan kebudayaan masyarakat Bali. Meskipun demikian, banyak ahli berpendapat bahwa proses modernisasi yang terjadi dalam masyarakat Bali tidak dapat dilepaskan dari pengaruh datangnya dan intervensi kolonial Belanda di Bali. Sebuah periode perubahan kehidupan sosial dan budaya yang signifikan telah terjadi dalam masyarakat Bali setelah Bali ditaklukkan sepenuhnya oleh Belanda tahun 1906 melalui Puputan Badung dan 1908 melalui Puputan Klungkung.

Sumber :http://www.balipost.co.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s