Sungsang

Rubag dan kawan-kawan, Rabu (17/8) menyaksikan perayaan Hari Kemerdekaan ke-66 Republik Indonesia lewat layar kaca. Selain di Istana Merdeka Jakarta, perayaan di beberapa daerah juga ditayangkan dengan mata acara serupa, yakni menaikkan Sang Saka Dwiwarna yang diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya sebagai klimaksnya. Langkah tegap bergaya robotik para pasukan pengibar bendera pusaka, yang terdiri dari puluhan pelajar SMU se-Indonesia dan beberapa anggota TNI, cukup mengesankan.

Kudengar para pelajar itu dikarantina dan dilatih dengan disiplin ketat selama beberapa hari, sehingga penampilan mereka seragam dan menawan. Kalau aku disuruh melangkah dengan hentakan kaki seperti itu, bisa rontok tulangku, jangan-jangan sakit pinggangku kambuh. Bila saja semua warga bangsa memiliki semangat dan rasa cinta Tanah Air seperti ditunjukkan para anggota Paskibraka itu lewat mimik wajah yang serius, kurasa, bangsa ini tidak seterpuruk sekarang. Aku tidak tahu, apakah ini perasaanku saja atau juga dirasakan orang-orang lain, perayaan 17 Agustus sekarang tidak sesemarak belasan tahun silam. Bahkan ketika masih duduk di SMA tahun 1960-an, aku menyambut hari kemerdekaan seperti datangnya hari raya keagamaan seperti Galungan dan Nyepi. Para pelajar yang terpilih untuk mengikuti aubade berhari-hari dilatih menyanyi lagu kebangsaan dan perjuangan. Pokoknya meriah, tutur Rubag.

Perasaan sepertimu agaknya juga dirasakan banyak orang, meski tidak semua.Suasana khidmad dan serius hanya tampak di tempat-tempat upacara saja, sedangkan di luar masyarakat menganggap 17 Agustus sama seperti hari-hari biasa. Mereka seakan tidak peduli kalau 66 tahun silam, para bapak bangsa dan para pejuang melakukan tindakan luar biasa yang berisiko membahayakan keselamatan raga dan jiwa mereka. Padahal mereka mengubah status bangsa ini dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka. Bangsa yang selama ratusan tahun harkat dan martabatnya disetarakan dengan binatang, pada Jumat 17 Agustus 1945 diubah lewat proklamasi menjadi bangsa yang sama kedudukannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Sejak hari itu tidak ada lagi rumah orang Belanda atau orang asing lainnya yang berani memasang pengumuman dan anjing dan inlander dilarang masuk di depan gerbangnya, sahut Lonjong.

Aku juga merasakan seperti yang kau rasakan Bag! Kasihan juga para penjual bendera merah-putih dan atribut kemerdekaan lainnya yang memajangkan dagangannya di pinggir-pinggir jalan, sepi pembeli. Padahal jumlah mereka tidak sebanyak beberapa tahun lalu,yang biasanya beberapa hari sebelum peringatan sudah menggelar dagangannya di trotoar jalan-jalan protokol dan dikerubuti para pembeli. Malah dulu, bukan hanya setiap rumah yang terletak di pinggir jalan maupun gang, juga pintu mobil dan stang sepeda motor dipasangkan bendera merah-putih. Anak-anak pun dengan riang gembira memegang bendera bertangkai rautan bambu sambil menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. Kini suasana seperti itu seperti menguap kayak spritus, tidak seperti di zaman kita dulu Bag ! Apakah ini akibat krisis ekonomi atau krisis nasionalisme dan patriotisme ? Bahkan kini tidak ada lagi aubade lagu-lagu perjuangan yang dilakukan sore hari sebelum dilakukan penurunan Sang Saka, ungkap Widia.

Indonesia tanah air beta. Pusaka abadi nan jaya.Indonesia sejak dulu kala. Tetap dipuja-puja bangsa. Di sana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua. Tempat akhir menutup mata. Sungguh indah tanah air beta. Tiada bandingnya di dunia. Karya indah Tuhan Maha Kuasa. Bagi bangsa yang memujanya.Indonesia ibu pertiwi. Kau kupuja kau kukasihi. Tenagaku bahkan pun jiwaku. Kepadamu rela kuberi, lantun Rubag berupaya mengingat lagu ciptaan Ismail Marzuki yang kerap dinyanyikan saat aubade ketika masih duduk di SMA dulu.

Indonesia tanah air siapa. Katanya tanah air beta. Indonesia sejak dulu kala. Terjarah dan selalu terperkosa. Di sana tempat lahir beta. Dibuai oleh propaganda. Bisakah berlindung di hari tua. Atau cuma tempat menutup mata, hahaha, sambung Saichu sembari bergelak.

Sompret kamu Chu, Rubag lagi bernostalgia kau ganggu dengan plesetanmu ! Apakah kau sudah kehilangan patriotisme sebagai warga bangsa? Kau tidak sadar kalau lagu-lagu perjuangan dan nasionalisme karangan Ismail Marzuki dan para komposer lain seangkatannya di awal kemerdekaan, selain berfungsi sebagai perekat rasa persatuan dan kesatuan bangsa, juga membangkitkan rasa cinta pada Tanah Air. Berkat lagu-lagu mereka dan keikhlasan para pemimpin saat itu yang berjuang tanpa pamrih, negara dan bangsa ini tetap bersatu meski digoyang dari kiri dan kanan oleh anasir-anasir asing. Lagu Rayuan Pulau Kelapa Ismail Marzuki juga menyadarkan bangsa Indonesia bahwa negeri mereka indah, aman dan makmur. Tolong hentikan plesetan itu agar mereka tidak menangis di tempat peristirahatan terakhirnya! saran Batu.

Aku sadar dan sepenuhnya maklum lirik yang ditulis para komposer tempo dulu tersebut benar adanya. Dulu negeri ini kaya, makmur dan aman, sangat benar! Bahkan Koes Plus di tahun 1960-an menegaskan lagi lewat lagu ”Kolam Susu”, dengan lirik yang meyakinkan. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Keluarga Koeswoyo itu juga paham kalau samudera yang mengelilingi Nusantara adalah kolam susu, bukan sekadar lautan. Artinya penuh kekayaan hayati dan nabati, bahkan mineral di perut buminya. Coba dengar, tiada badai tiada topan kau temui, ikan dan udang menghampiri dirimu ! Tapi kenyataannya kini bagaimana ? Aku tidak perlu mengomentari, sebab kalian setiap hari menyaksikannya di media elektronik dan cetak. Masihkah makmur dan kaya negeri ini ? Kalau aku cuma memlesetkan lagu sebenarnya tidak lebih jahat dibanding mereka yang mendistorsi tujuan kemerdekaan negeri ini dengan pesta pora korupsi tanpa malu sedikit pun !

Persis! Tujuan kemerdekaan adalah melindungi bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan melaksanakan ketertiban dunia. Kalau menyimak kondisi sosial, ekonomi, politik, keamanan beberapa tahun belakangan, agaknya, gambaran kondisi bangsa justru kelihatan terbalik alias sungsang. Yang mendapat kesejahteraan dari kekayaan negeri yang berlimpah ini, hanya segelintir orang yang memiliki hak istimewa karena kedudukannya. Mereka pula yang bisa menikmati pendidikan setinggi-tingginya. Berkat harta dan tahtanya mereka juga yang mendapat perlindungan, baik secara hukum maupun keselamatan fisiknya, sementara mayoritas awam terlantar. Makanya aku tidak ikut menyalahkanmu Chu dengan lagu plesetanmu. Mendengar liriknya, aku simpulkan kau masih merasa terjajah karena kondisi sungsang ini, kata Sudara.

Terserah kau menilai ! Lirik itu anggap saja sebagai dekonstruksi atas lagu Rubag, yang tidak sesuai dengan kenyataan dewasa ini. Para pedagang tipat cantok di Badung , kukira, juga akan setuju mendengar lirik itu. Gagasan untuk mengenakan pajak bagi dagang tipat cantok yang berpenghasilan Rp 1 juta per bulan, bagiku adalah proses pemiskinan. Ini pun peraturan sungsang yang menciptakan kemiskinan struktural atau buatan. Jadi tidak salah kan kalau aku bertanya, bisakah tempat kelahiranku jadi tempat berlindung di hari tua ? tanya Saichu yang tanpa menunggu jawaban ngeloyor pergi. (aridus)

Sumber :http://www.balipost.co.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s