Kantor Pos Lama di Jakarta, Saksi Sejarah Perkembangan Kota Jakarta

Kantor Pos Pasar Baru
Kawasan Pasar Baru mempunyai arti penting bagi sejarah perkembangan sosial-ekonomi-budaya Kota Jakarta tempo dulu.

Kawasan Pasar Baru tidak dapat dipisahkan dari sejarah kawasan Weltevreden yang menjadi pusat kota Nieuw Batavia sebagai titik tolak ukur perkembangan kawasan kota Jakarta Pusat yang pada waktu itu berpusat di sekitar Lapangan Banteng-Gambir dan Senen (dulu disebut sebagai kawasan Weltevreden).
Sebagai kawasan Pecinan dan perbelanjaan elite Belanda pada masa lalu, kawasan Pasar Baru mulai berkembang sejak masa pemindahan Kantor Administrasi Gubernur Jendral Hindia Belanda dari Oud Batavia (Kota Lama) ke Nieuw Batavia (Kota Baru) – Weltevreden (sekarang kawasan Lapangan Banteng).
Kawasan Pasar Baru sebagai kawasan yang masih memiliki “signifikansi sosial budaya dan kesejarahan” bagi Kota Jakarta. Kantor Pos Lama Pasar Baru, Gedung Antara, Gedung SMK Boedi Utomo, Gedung Kimia Farma, Gedung Biara, serta Gedung Sekolah Santa Ursula.
Bangunan Kantor Pos Lama yang sekarang ada merupakan generasi kedua. Sebelumnya, bangunan yang ada masih sederhana dengan atap teras menjorok ke depan, kemudian pada tahun 1919 dibangun gedung yang ada sekarang. Arsitektur gedung Kantor Pos ini mengingatkan pada arsitektur Gedung Stasiun Kota dengan lengkungan yang relatif lebar. Fisik dan konstruksi bangunan berlantai dua ini relatif masih utuh dan terpelihara, rangka-rangka kayu pada langit-langit menjadikan gedung ini menarik. Konstruksi lantai yang terbuat dari papan kayu terlihat masih utuh dan kuat, akses naik ke lantai atas ditempuh melalui tangga dari arah dalam.
Pegawai kantor pos di sana biasanaya menyebut “Kantor Pos Lama atau Gedung Lama” karena sudah ada gedung kantor pos baru. Jadi aktivitas pelayana jasa pos yang ada telah dipindahkan ke gedung baru yang disebut Gedung Pos Ibukota (GPI). Gedung berbentuk persegi enam, berlantai enam menghadap ke Lapangan Banteng.
Jadi Kantor Pos Lama, sendiri sekarang menjadi bagian kompleks GPI dengan bangunan terbesar dan tertinggi berlantai enam yang menghadap ke Lapangan Banteng. Sejak berfungsi sebagai kantor pelayanan fialteli (sehingga di lingkungan PT Pos Indonesia dikenal sebaga Gedung Kantor Filateli Jakarta) lingkungan kantor pos lama menjadi sepi karena terjadi penurunan kegiatan pelayanan pos menjadi sebatas filateli dan penjualan bendapos filateli lainnya ; tidak seberapa ramai dibandingkan dengan aktivitas pelayanan jasa pos.
Mengenai gedung Kantor Pos Lama Pasar Baru dulunya pernah menjadi kantor pusat PTT atau Jawatan Telepon dan Pos milik pemerintah Hindia Belanda sebelum dipindahkan ke Bandung.
Hingga sekarang gedung tersebut masih dipergunakan bersama-sama oleh PT Pos Indonesia (pada bagian kanan dan tengah bangunan) dan PT Telkom untuk layanan telepon umum pada bagian kiri.
Kantor Pos Cikini
Kantor Pos Lama lain yang menarik di Jakarta Pusat adalah Kantor Pos Cikini yang merupakan salah satu gedung bergaya arsitektur Art Deco. Arsitektur Art Deco Kantor Pos Cikini sudah disesuaikan dengan alam tropis Indonesia. Art deco senriri merupakan aliran gaya arsitektur yang sangat populer pada awal abad 20 di benua Eropa dengan bercirikan “elemen-elemen bangunan yang dibuat dengan konsep dekoratif”. Contoh Art Deco yang masih “lugu dan vulgar” diterapkan gedung LKBN Antara yang terletak persis di seberang depan Kantor Pos Lama Pasar Baru.
Saat ini meskipun bangunan Kantor Pos Cikini masih dimanfaatkan sebagai kantor pos akan tetapi kondisinya kurang terpelihara. Meskipun demikian, lokasi Kantor Pos Cikini berpeluang menjadi tempat yang potensial untuk aktivitas selain pelayanan jasa pos karena posisinya di pertigaan jalan yang sangat strategis serta berdekatan dengan Taman Ismail Marzuki, Monumen Nasional dan berada di pusat kota Jakarta.

Kantor Pos Taman Fatahillah

Tepat di depan Museum Searah Kota Jakarta berhadapan Kantor Pos Taman Faahillah yang dibangun memanfaatkan bekas lapangan kecil Balai Kota Batavia. Lingkungan ini merupakan pusat kota Jakarta Lama yang disebut Oud Batavia yang merupakan cikal bakal perkembangan Kota Jakarta atau Batavia. Sampai sekarang denyut sejarah masa lalu masih terasa bila kita berjalan-jalan menyusuri jalan ini. Gedung-gedung tua bergaya arsitektur Eropa yang menjadi pembentuk karakter kawasan kota lama ini berderet di sepanjang jalan antara depan Stasiun Kota, Jalan Cengkeh hingga kawasan Kalibesar.

Gedung Kantor Pos Fatahillah yang merupakan bangunan kolonial hingga saat ini melayani jasa pos di bagian Kota dan Jakarta Barat. Bangunan berlantai dua, dulunya dipakai oleh Dinas Lalu Lintas dan Jalan Raya.

Bangunan didominasi adanya lubang-lubang jendela vertikal mengimbangi bangunan yang “horizontal” melebar. Ketinggianb langit-langit yang relatif tinggi memungkinkan penghawaan alamiah sehingga mendukung kenyamanan bangunan. Sayang taman parkir kendaraan di kawasan ini sangat sempit seperti pada kawasan Jakarta Kota. Mengapa kantor pos ini dibangun di depan Sthaduis atau Balai Kota menunjukkan bahwa pada masa lalu keberadaan kantor pos sangat dibutuhkan. Banyak potensi wisata yang berpeluang untuk dikembangkan sehingga kantor pos dapat mengisinya dengan fungsi-fungsi aktivitas baru yang disesuaikan dengan kebutuhan lingkungan.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s