Pidato Kebangsaan Peringatan Pidato Bung Karno Oleh Ketua KWI

PANCASILA

ANUGERAH YANG INDAH DAN BERBUAH

UNTUK INDONESIA DAN DUNIA

(filosofis – religius-spiritual – moral – human dan sosial)

Jakarta, 1 Juni 2012

1. Konferensi Waligereja Indonesia seperti ‘lone ranger’ menyerukan kepada umat Katolik untuk terus memelihara dan menghayati Pancasila. Kami ‘tangisi’ ketika Pancasila dipakai sebagai alat politik dan indoktrinasi formal seremonial, kami panggil-panggil dan serukan supaya tetap hadir dan dihadirkan dalam ranah kehidupan pribadi dan bangsa, sejak tahun 1997 secara lebih lantang dan seterusnya secara berkesinambungan. Warga bangsa ini membahas dan membahasakan Pancasila itu sebagai filsafat yang substansif, komprehensif dan dinamis, Prof. Dr. Drijarkara.

2. Pernah kami serukan kepada umat Katolik: “…kami ingatkan kembali pentingnya Pancasila. Kenyataan bahwa Pancasila di bawah Pemerintah Orde Baru telah disalah gunakan sebagai ideologi penunjang Pemerintah yang tidak mau mencari legitimasi rakyat, tidak boleh menjadi alasan untuk meremehkan Pancasila. Hanya atas dasar Pancasila pluralitas etnik, budaya, religius dan sosial masyarakat seluruh Nusandara bersepakat mau bersatu dalam satu negara.  Demi persatuan dan kesatuan bangsa komitmen bangsa Indonesia pada Pancasila sebagai falsafah dasar negara perlu senantiasa ditegaskan kembali.”

3. Dalam usaha menangani, mengelola dan mencari jalan keluar dari masalah-masalah mendesak yang menimpa kita semua, kita menemukan Pancasila sebagai krangka dasar yang teguh. Dalam mencari jalan keluar dari masalah-masalah hidup bersama sebagai bangsa, mari kita berpedoman dan perpegang pada nilai-nilai luhur Pancasila. Nilai luhur itu haruslah mempengaruhi tata hubungan kita sebagai sesama warganegara, dengan alam dan dengan Tuhan. Dengan Pancasila itu terbangun tata hidup berbudaya dan bernegara yang jitu.

4. Sebagai orang beriman, mengamalkanm Pancasila juga menghayati iman. Dalam Pancasila kita dapat menemukan dasar untuk menembangkan persaudaraan sejati dengan sesama warga, siapa, saja, termasuk mereka yang memusuhi kita. Pertentangan dapat dimoderasi dan dimitigasi bahkan diselesaikan dengan Pancasila; ketertutupan dibuka dan diperluas oleh Pancasila; jika ada perpecahan dan keadaan tercerai berai, Pancasila dapat mengembangkan sikap terbuka bagi setiap warga bangsa ini. Nilai-nilai luhur agama dapat saling melengkapi dengan nilai-nilai luhur Pancasila. Agama sebagai lembaga saja dapat dengan mudah jatuh ke dalam ketertutupan dan ekslusivistik, dalam kesempitan dan jalan buntu menghadapi masalah-masalah kemajemukan. Agama tidak dapat berdiri seniri dan tidak boleh semua diagamakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

5. Dalam pertemuan-pertemuan dengan pimpinan dan tokoh lintas agama mencuat kesadaran bahwa Pancasila sepertinya tidak lagi dibicarakan, tidak lagi dijadikan landasan, acuan dan cakrawala pemikiran dan tindakan dalam kehidupan Pemerintahan dan kemasyarakatan dan kebangsaan. Ada kerisauan, kekhawatiran dan kecemasan nahwa Pancasila terus tergusur ke pinggiran kehidupan kita berbangsa dan bernegara.

6. Secara amat sederhana dan ringkas dapat dikatakan: kemajuan dan perkembangan yang dicapai bangsa kita akan jauh lebih besar, indah dan berkualitas sekiranya Pancasila tetap menjadi acuan dan pegangan. Keburukan, kelemahan, kemerosotan dalam moralitas, ketidakadilan, konflik-konflik, manipulasi-manipulasi faktual tidak akan seburam dan sebanyak ini sekiranya Pancasila kita pegang dan hayati sebagai nilai kebangsaan dan kemasyarakatan, termasuk kehidupan religus keagamaan.

7. Kesatuan
bangsa ini dari dan dalam keragamannya yang indah dan kaya hanya akan utuh dan kukuh dengan pengakuan, penghayatan dan pengamalan Pancasila. Kualitas bangsa ini akan prima, tahan uji dan bersinar kalau Pancasila tetap menjadi lanndasan, acuan dan cakrawala moral dan kebijaksanaan serta praktek kemasyarakatan, karena kita akan alot, tidak berantakan, bahkan berkontribusi pada kualitas kehidupan masyarakat bangsa-bangsa dalam arus dan gelombang sekularisme, materialisme, spiritualisme atau messianisme, dan banyak isme negatif di dunia global sekarang ini.

8. Pancasila menjadi dasar, acuan dan cakrawala kehidupan, di atas mana dibangun segala tatanan kehidupan bangsa (ipoleksosbudhankamnas), tolok ukur dan batu uji baik tidaknya dan benar salahnya semua unsur kehidupan bersama. Dia adalah ROH, IDENTITAS, KARAKTER bangsa kita. Dengan menghayati dan mengamalkannya dalam segala tingkat dan bidang kehidupan berbangsa kita selamat, kokoh, berkembang, bermutu, bersinar dan sejati. (tidak superfisial, parsial, kosmetik, insidental, kasual)

9. Ke depan segala peraturan dan perundang-undangan kita harus diuji dan diayak kembali dengan nilai-nilai Pancasila. Pembuatan undang-undang dan peraturan-peraturan harus lulus sensor Pancasila. Perencanaan pembangunan dan kebijakan ekonomi kita harus Pancasilais. Politik dan pemain politik berbendera dan berdarah Pancasila. Perlu pertobatan! Kesadaran bahwa kita telah abai, tetapi juga tekad untuk mulai lagi dengan tekad dan tegak!

10. Konsekwensi logis, perlu pendidikan, penyegaran, pendalaman, peresapan dan penghayan Pancasila secara sistematis diajarkan, tetapi lebih lagi dialami, dipraktekkan. Perlu pertobatan nasional, perlu kembali ke basic! Sebagai warga bangsa, masing-masing dan bersama-sama, menurut keyakinan iman masing-masing patut mensyukuri nikmat Pancasila ini sebagai anugerah indah dan amat berharga dari Tuhan kepada bangsa besar ini dan melalui bangsa ini kepada keluarga bangsa-bangsa di dunia. Jika tidak, kita melecehkan diri kita, menghina the founding fathers, menjual diri kepada pasar politik dan eknomi global!

Dengan Pancasila kita Indonesia! Tanpa Pancasila kita tidak siapa-siapa dan sia-sia belaka!

Mgr. Martinus D. Situmorang, OFM Cap

Ketua KWI

Sumber :http://www.mpr.go.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s