Pidato Kebangsaan Peringatan Pidato Bung Karno Oleh Ketua Umum PGI

I.               Penghargaan dan Apresiasi

Pertama-tama saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pimpinan MPR-RI yang membiasakan kita mengadakan perayaan Hari Lahirnya Pancasila setiap 1 Juni. Itulah hari ketika Bung Karno menyampaikan pidato bersejarah di depan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPK) 67 tahun lalu, yang belakangan dikenal sebagai “Pidato Lahirnya Pancasila”. Memang Bung Karno lah “Penemu” Pancasila, kendati beliau sendiri dengan rendah hati mengatakan, “hanya” sebagai penggali Pancasila. Pernah di dalam sejarah kita, ada yang meragukan, bahkan menafikan peranan beliau sebagai Penemu Pancasila. Beliau dikatakan bukan penemu Pancasila, melainkan hanya “nama” Pancasila. Namun Bung Hatta, seorang negarawan yang sangat jujur dan berintegritas tinggi, di dalam wasiatnya kepada Guntur Sukarno Putra menegaskan, Bung Karno lah penemu Pancasila. Kita harus mengakui dan menegaskan hal itu, agar kita tidak kedapatan sebagai bangsa pengkhianat di depan mahkamah sejarah. Kita jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Saya juga menyampaikan apresiasi atas diperkenalkan (kembali) dan disosialisasikannya 4 (empat) pilar kehidupan berbangsa dan bernegara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Di dalam keriuhrendahan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara saat ini, 4 (empat) pilar ini harus terus-menerus direvitalisasi agar kita tidak kehilangan visi. Alkitab kami mengatakan: “Di mana tidak ada visi,maka rakyat akan binasa” (Amsal 29:18). Dalam bahasa Inggris: “Where there is no vision the people perish.” (Proverb 29:18).

II.    “Djiwa Kita Djiwa Indonesia-Djiwa Kita Bernafas Pantja-Sila”

Bahwa peringatan ini ditempatkan di bawah tema, “Djiwa Kita Djiwa Indonesia-Djiwa Kita Bernafas Pantja-Sila”, memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa Indonesia tidak bisa difahami tanpa Pancasila. Pancasila adalah identitas bangsa, yang memberikan daya vitalisasi terhadap masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Bahkan hampir-hampir bisa dikatakan, Indonesia adalah Pancasila, Pancasila adalah Indonesia. Itu juga berarti, ketika kita menyimpang dari Pancasila, kita tidak lagi melihat Indonesia di dalamnya. Mungkin “Indonesia” bisa saja tetap ada, tetapi ia bukan lagi Indonesia sebagaimana dicita-citakan oleh para pendiri bangsa. Ia adalah Indonesia tanpa nafas, alias mati.


III.          
Kebangsaan Sebagai Proyek Bersama

Prof. Dr. Ben Anderson, dari Cornell University pernah mengatakan, “nationalism is a common project”, nasionalisme adalah sebuah proyek bersama. Sebagai demikian, nasionalisme/kebangsaan tidak bisa diwariskan begitu saja kepada generasi berikutnya sebagai sebuah barang jadi. Sebagai proyek bersama, kebangsaan harus terus-menerus dibangun. Maka akan mandeklah kita sebagai bangsa kalau di tengah-tengah upaya membangun proyek bersama itu ada anasir yang terus-menerus menggerogotinya. Bukan kebetulan kalau Bung Karno, di dalam pidato 1 Juni 1945 itu mendahulukan prinsip kebangsaan sebagai dasar. “Kita mendirikan satu negara kebangsaan Indonesia”, kata Bung Karno. “Satu Nationale Staat”. Dengan mengutip  Ernest Renan, Bung Karno menegaskan bahwa yang mau menjadi bangsa adalah satu “gerombolan manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu.” Tetapi mengapa mau bersatu? Beliau mengutip Otto Bauer yang mendefenisikan “bangsa”: “Eine Nation ist eine aus chiksals-gemeinschaft erwaschene Charactergemeinschaft” (Bangsa adalah satu persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib), demikian kutipan. Indonesia sebagai satu bangsa adalah sebuah novum di atas panggung sejarah dunia. Sebelumnya kita terpisah-pisah sebagai bangsa Jawa, Batak, Dayak, Timor, Ambon, Papua, dan seterusnya. Tetapi nasib bersama mempersatukan kita, yaitu sebagai yang sama-sama menderita di bawah penjajahan dan penindasan kolonialisme dan imperialisme asing. Karena merasa senasib itu pulalah, kita berjuang untuk bersatu.

Tantangan di depan kita sekarang adalah, masihkah kita merasa senasib setelah sekian puluh tahun merdeka? Masihkah kita satu perangai, ketika ada yang merasa dirinya lebih berhak atas kekayaan negeri ini, sementara sebagian lainnya terlantar? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, dan masih bisa ditambahkan, tetap dibutuhkan agar kita terus menguji diri dan melakukan introspeksi, apakah kita masih tetap berada di atas jalur yang benar dari pembentukan bangsa dan negara ini, atau kita sudah menyimpang. Kalau Bung Karno menegaskan, bahwa kita  mendirikan “suatu negara, ‘semua buat semua’, bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi ‘semua buat semua’”, maka prinsip solidaritas, kesetiakawanan, gotong royong dan keadilan sosial sangat jelas terlihat di dalamnya. Di tengah-tengah maraknya apa yang disebut “market ideology” dewasa ini, di mana pertumbuhan dan perkembangan hanya diserahkan kepada kebebasan pasar, dengan akibat yang kuat makin kuat dan yang lemah makin lemah, maka prinsip kebangsaan yang menekankan kepada solidaritas,  kesetiakawanan dan gotong royong ini sangat perlu dibangkitkan kembali. Ini berarti bahwa perlindungan Negara terhadap yang lemah harus lebih nyata di dalam berbagai kebijakannya. Undang-undang dan berbagai peraturan lainnya yang diciptakan mestinya memperlihatkan keberpihakan kepada mereka yang paling lemah di dalam masyarakat.

IV.                    Pancasila Adalah Sebuah Kesatuan

Rumusan Pancasila sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan UUD 1945 mestilah difahami sebagai suatu kesatuan. Pengamalan sila Ketuhanan Yang Maha Esa tidak boleh dilepaskan dari sila-sila lainnya. Mengamalkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” boleh jadi membuat kita ‘saleh’, tetapi kalau dilepaskan dari pengamalan sila “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, maka dengan mudah kita menafikan keberadaan orang lain. Bahkan bukan tidak mungkin dengan menyeru Nama Tuhan kita melakukan pembunuhan. Kecenderungan-kecenderungan intoleransi yang marak akhir-akhir ini, bisa saja disebabkan oleh pemahaman dan pengamalan keliru terhadap Pancasila. Kita juga ber-“Ketuhanan Yang Maha Esa” di tengah-tengah persatuan Indonesia. Iman kita kepada Tuhan tidak pernah boleh melupakan bahwa kita adalah satu bangsa. Itulah yang oleh Bung Karno dirumuskan sebagai, “segenap rakyat Indonesia hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada ‘egoisme agama’. Dan hendaknya Negara Indonesia suatu Negara yang bertuhan.” Kita adalah bangsa yang sangat majemuk dari segi suku, agama, etnis dan seterusnya. Ini bukan lagi wacana, melainkan fakta yang terterima (given). Maka pilar Bhinneka Tunggal Ikayang ditemukan oleh para pendiri bangsa kita hendak menegaskan, bahwa perbedaan-perbedaan tidak pernah boleh melemahkan kesenasiban itu. Alhasil, tidak pernah boleh ada yang memaksakan sebuah keseragaman, lebih-lebih lagi di dalam berekspresi dan berpendapat. Pemaksaan keseragaman adalah sikap “menang sendiri”, mengklaim diri sebagai paling benar, dan merendahkan martabat orang lain yang juga berhak berpendapat dan berekspresi.

Ketika kita mengamalkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dengan mengabaikan sila “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, maka kita akan terperangkap dalam formalisme, dogmatisme dan ritualisme agama, yang kalau pun berguna, namun tidak ada manfaatnya bagi kehidupan bersama sebagai satu bangsa. Pada hal agama adalah rahmat untuk seluruh alam. Maka wujud rahmat itu mestilah nyata di dalam mengamalkan keadilan bagi siapa saja, tanpa memandang suku, agama, ras, etnis dan kelompok.

Dewasa ini kita memang merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Tetapi demokrasi bukan sekadar mengandalkan suara terbanyak. Suara terbanyak tidak selalu bertindih tepat dengan suara terbaik. Ada nilai-nilai yang mesti diperhatikan dengan saksama, yang mengacu kepada kemanusiaan yang adil dan beradab dan persatuan Indonesia. Maka adalah sebuah kearifan para pendiri bangsa kita apabila mereka memahami demokrasi sebagai “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”.

Alhasil, kita adalah bangsa yang beragama yang mengamalkannya dengan wajah manusiawi di dalam Indonesia yang bersatu, dengan hikmat dan kebijaksanaan guna mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Itulah identitas kita: Pancasila.

Dari perspektif ajaran Kristen, ini tidak lain dari wujud kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia, yang tidak boleh dipisah-pisahkan (Matius 22:34-40).

V.                      
Pancasila dan Masa Depan Indonesia

Tidak ada pilihan lain bagi bangsa ini apabila tetap ingin mewujudkan kesatuan dan persatuan Indonesia selain dari merevitalisasi, mereaktualisasi dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pancasila adalah sebuah idiologi terbuka, yang mampu menerima nilai-nilai baru dari mana pun dan sekaligus memfilternya guna mewujudkan civil society (masyarakat berkeadaban) di Indonesia. Oleh sebab itu pendidikan Pancasila, tidak dalam arti indoktrinasi perlu digiatkan lagi. Pendidikan Pancasila tidak lain dari memberikan keteladanan, yaitu satunya kata dan perbuatan, sikap kenegarawanan dan berintegritas tinggi. Hal kedua, nilai-nilai Pancasila hendaknya menjadi landasan bersikap etis dan moral di dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ketiga, di dalam pembentukan UU dan berbagai peraturan-peraturan lainnya, hendaknya Pancasila dikembalikan lagi pada kedudukannya yang syah sebagai  sumber dari segala sumber hukum.

Demikianlah beberapa pemikiran saya. Mudah-mudahan bermanfaat.

__________________

*) Disampaikan Dalam Peringatan Pidato Bung Karno Tanggal 1 Juni 1945 di Gedung Nusantara IV, Kompleks MPR/DPR/DPD RI Senayan.

**) Semua kutipan pidato Bung Karno diambil dari buku “Lahirnya Pancasila”, Penerbit Guntur Yogyakarta, Cetakan kedua, 1949, Publikasi 28/1997 Laboratorium Studi Sosial Politik Indonesia.

**) Ketua Umum PGI.

Jakarta, 1 Juni 2012

Sumber :http://www.mpr.go.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s