Pidato Ketua MPR RI Pada Acara “Peringatan Pidato Bung Karno”

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Yang saya  hormati,

–      Wakil Presiden, Bapak Boediono;

–      Saudara-saudara Pimpinan dan Anggota Lembaga-lembaga Negara;

–      Presiden Ke-3 Bapak BJ. Habibie;

–      Presiden Ke-5 Ibu Megawati Soekarnoputri;

–      Wakil Presiden 1993-1998, Bapak Try Sutrisno;

–      Wakil Presiden 2001-2004, Bapak Hamzah Haz;

–      Wakil Presiden 2004-2009, Bapak Jusuf Kalla;

–      Saudara2 Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II;

–      Saudara-saudara Keluarga Besar PPKI;

–      Saudara-saudara Pimpinan Partai Politik, Organisasi Kemasyarakatan, para Tokoh Nasional, serta

–      Para tamu serta hadirin sekalian yang berbahagia.

Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua,

Sebagai insan yang beriman, marilah kita bersama-sama  memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga pada hari ini kita dapat bersama-sama memperingati “Pidato Bung Karno Tanggal 1 Juni 1945” dalam keadaan sehat wal’afiat.

Memperingati suatu peristiwa yang terjadi di masa lampau, seperti yang kita lakukan hari ini, tak lain dimaksudkan untuk menyegarkan kembali ingatan kita, agar kita tidak mudah melupakan masa lalu. Begitu pentingnya masa lalu itu, bahkan kepahitan sejarah yang sering kita berusaha untuk menghapusnya dari ingatan sekalipun, tetap punya nilai positif sebagai guru yang menasehatkan kebajikan. Hal itu dimaksudkan agar kita semua sebagai bangsa mau bercermin pada kaca sejarah masa lalu, baik dari sisi buram maupun sisi jernihnya. Itu pula alasan mengapa bukan hanya di tempat-tempat bersejarah kita dirikan monumen, di tempat-tempat terjadinya tragedi memilukan pun, kita bangun tugu-tugu peringatan.

Hadirin yang kami hormati,

Pada hari ini, 67 tahun yang lalu, para pendiri bangsa, dalam Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yang mewakili aneka keragaman kebangsaan Indonesia, mulai bersidang sebagai tonggak penting dalam perwujudan Negara Republik Indonesia. Dalam pidato pembukaannya, Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wediodiningrat, meminta kepada sidang untuk mengemukakan dasar negara Indonesia merdeka.

Permintaan Dr. Radjiman ini tidak terjawab oleh para anggota BPUPKI. Menurut Bung Karno, yang diminta oleh Ketua adalah philosofiche grondslag, yaitu fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang kekal dan abadi.

Dalam pidato Bung Karno, pada 1 Juni 1945 di depan BPUPKI, yang antara lain dihadiri Soetardjo, dr Soekiman, Ki Bagoes Hadikoesoemo, Wahid Hasjim, M. Yamin, Ki Hadjar Dewantoro, Abikoesno,  dan Lim Koen Hian, Bung Karno mengutarakan pemikiran, gagasan dan prinsip-prinsip dasar negara merdeka yang dinamakan Pancasila sebagai dasar falsafah negara.

Gagasan tentang prinsip-prinsip dasar bernegara yang disampaikan oleh Bung Karno pada  tanggal 1 Juni 1945, kemudian prinsip dasar yang tertuang dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945, maupun prinsip dasar yang ada dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang disahkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945, semuanya itu adalah satu kesatuan proses kelahiran Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara.

Tidak dapat dimungkiri bahwa Pancasila sebagai ideologi dan dasar negara bersumber dari Pidato Bung Karno 1 Juni 1945.  Oleh karena itu Pidato Bung Karno tersebut menjadi sangat penting untuk senantiasa diperingati, hal ini sebagai wujud penghargaan atas jasa Bung Karno dan para Pendiri Bangsa lainnya dalam proses perumusan, pembahasan dan pengesahan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Hadirin yang berbahagia,

Penyelenggaraan peringatan Pidato Bung Karno 1Juni 1945 ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak perlunya kembali meneguhkan, merevitalisasi, dan mereaktualisasikan nilai-nilai Pancasila di tengah multidimensi persoalan bangsa yang ditengarai oleh krisis kebangsaan, akibat menurunnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. Berbagai pengamatan menunjukkan adanya tantangan yang signifikan terhadap sendi-sendi utama eksistensi bangsa, akibat berbagai perilaku yang mengabaikan Pancasila dan UUD 1945, mempertanyakan NKRI, dan mengingkari kebhinnekaan dalam masyarakat. Acara peringatan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya kami/Pimpinan MPR RI melakukan berbagai usaha untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, dengan cara membumikan dan menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kerangka pemantapan dan keutuhan bangsa.

Dalam kaitan itu, selaku Pimpinan MPR kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Saudara Wakil Presiden RI atas kehadiran sekaligus kesediaannya menyampaikan pidato kebangsaan. Terima kasih dan penghargaan serupa kami sampaikan kepada Saudara Ketua Umum PBNU, Saudara Ketua PP Muhammadiyah, Saudara Ketua PGI dan Saudara Ketua KWI atas segala sumbangsih pemikiran dan wawasan kebangsaan yang akan disampaikan. Kami yakin pidato kebangsaan yang disampaikan akan bermanfaat dan akan mencerahkan kehidupan kenegaraan dan kebangsaan kita.

Mengakhiri sambutan ini, kami ingin kembali menegaskan:

Tidak ada gunanya berbicara tentang Undang-Undang Dasar apabila melupakan Pancasila, karena Pancasila itulah yang menjiwai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pancasila itu pula yang memberi makna bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila itu juga yang memberi warna bagi kebhinnekatunggalikaan kita.

 

Wabillahittaufik Wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta, 1 Juni 2012

KETUA MPR,

H.M. TAUFIQ KIEMAS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s