Kita Harus Lawan Egoisme Sempit

 


Wakil Presiden Republik Indonesia Boediono
Wakil Presiden Boediono mengatakan eksistensi bangsa Indonesia menghadapi risiko yang paling besar, yaitu tumbuhnya egoisme sempit seperti egoisme agama, egoisme etnis, egoisme suku, egoisme kekuasaan, dan egoisme harta.

“Setiap bentuk egoisme itu akan menyingkirkan orang lain dan merebut hak-hak bersama, serta akan menimbulkan konflik yang mendatangkan korban jiwa dan harta. Egoisme sempit itulah yang harus kita tolak. Kita harus melawan egoisme seperti itu,” kata Boediono pada Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni, di Nusantara IV, Komplek MPR/DPR/DPD, Jakarta, Jumat 1 Juni 2012.

Peringatan Pidato Bung Karno 1 Juni dihadiri para Wakil Ketua MPR RI Hajriyanto Y. Thohari, Lukman Hakim Saifuddin, Ahmad Farhan Hamid, dan Melani Leimena Suharli. Ketua MPR Taufiq Kiemas berhalangan hadir karena kesehatan yang terganggu. Pidato Ketua MPR disampaikan Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saifuddin.

Hadir pula Presiden Ke-3 BJ Habibie, Presiden Ke-5 Megawati Soekarnoputri, Wakil Presiden Ke-6 1993-1998 Try Sutrisno, Wapres Ke-9 2001-2004 Hamzah Haz, dan Wapres Ke-10 2004-2009 M. Jusuf Kalla, serta beberapa Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II.

Peringatan itu diisi dengan pidato kebangsaan dari tokoh keagamaan, yaitu Ketua Umum PBNU Said Agil Sirad, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua PGI Andreas a. Yewangoe, dan Ketua KWI Mgr. Martinus D. Situmorang.

Menurut Boediono, Bung Karno dan para pendiri bangsa telah memberi fondasi yang menjadi pijakan bangsa Indonesia yang berbeda latarbelakang untuk hidup bersama. “Fondasi itu telah menopang eksistensi bangsa Indonesia,” katanya.

Setelah reformasi, kata Wapres, persoalan bangsa tidak berkurang. Tidak hanya masalah korupsi yang sudah menjadi kanker selama bertahun-tahun dalam tubuh Indonesia, juga masalah politik yang masih dikuasai uang, serta perbedaan antara sesama yang tidak jarang berbentuk kekerasan dan perusakan.

“Di negara kita masih terjadi pertumpahan darah antar-kelompok yang berbeda suku dan agama. Kita masih ingat konflik Maluku, Kalimantan, beberapa tahun lalu,” kata Boediono.

Boediono mengutip perkataan Bung Karno pada pidato 1 Juni, bahwa dalam perbedaan-perbedaan yang ada perlu dicari modus yang sama. “Dan beliau (Bung Karno) menemukan bahwa modus itu adalah kebangsaan Indonesia. Hari ini modus itu telah kita dapatkan. Tapi itu belum cukup, kita harus merawat dan memperkuatnya,” katanya.

Boediono menambahkan, ikhtiar merawat dan memperkuat kebangsaan tidaklah mudah. “Bahkan tujuh dasawarsa kita mempunyai Pancasila, politik lokal kita masih diwarnai semangat kedaerahan yang sempit. Saatnya kita menyusun agenda kebangsaan yang kuat dengan fondasi Pancasila,” ucap Boediono.

Sumber:http://www.mpr.go.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s