Pesan Harmoni dari Himalaya

Lalu lalang turis dari sejumlah negara dan percakapan dalam bahasa Inggris mewarnai denyut kehidupan di kaki Pegunungan Himalaya, Nepal, saat musim pendakian tiba, awal Mei lalu. Jalan berbatu yang berkelok naik-turun dengan pemandangan puncak-puncak gunung es membeku justru mencairkan suasana hati.

Suku Sherpa, Tamang, dan Rai yang mendiami area Khumbu di kaki Himalaya sebagian besar penganut Buddha. Tak heran jika banyak batu bergurat doa dan stupa yang menghiasi jalan-jalan setapak. Alunan syair dan doa dari dalam rumah penduduk dan kuil pun kadang terdengar lamat-lamat hingga ke jalan.

Penduduk di kaki Himalaya menjalani hidup secara seimbang dengan alam. Hampir tak pernah terlihat sampah di jalan. Mata air pun terjaga dengan baik. Pesan harmoni di Himalaya ini semakin kuat karena tak ada suara bising kendaraan dan asap knalpot. Untuk berpindah tempat, orang berjalan kaki atau menunggang kuda, sementara barang dibawa oleh para pengangkut barang (porter) atau yak (sejenis kerbau).

Warga yang menyandarkan perekonomian dari pariwisata ini sebagian besar memang bekerja sebagai porter, penggembala yak, dan pemilik penginapan yang berjajar rapi di bukit-bukit berlatar belakang puncak bersalju. Ribuan turis di seluruh belahan dunia umumnya berdatangan ke kaki Himalaya pada April-Mei dan September-November saat cuaca baik. Alasannya? ”Di bawah Himalaya hati saya merasa damai,” kata Conny Volkleir (53), wisatawan asal Jerman.

Sumber : http://travel.kompas.com/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s