Dharma Tula dan Bedah Buku Perjalananku Menjadi Hindu (Saraswati 16 Juni 2012)

Kegiatan dharma tula merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan terkhusus di tujukan untuk pada kaum pemuda dan mahasiswa yang akan menjadi generasi penerus Hindu kedepannya. Karena melihat banyaknya kasus yang terjadi yaitu pemuda Hindu yang pindah ke agama lain, sehingga sangatlah perlu pelaksanaan kegiatan diskusi atau dharma tula ini yang akan memberikan motivasi spiritual kepada kaum muda dan mahasiswa agar mereka mempunyai keyakinan yang kokoh akan agama yang di anutnya yaitu Hindu. Kegiatan ini akan sangat membantu para mahasiswa dan pemuda untuk mengetahui kesaksian akan kebenaran Dharma di dalam Hindu seperti yang dibawakan oleh pemateri. Karena sasaran dari kegiatan ini bukan hanya mahasiswa Hindu, maka kegiatan ini dilakukan dengan bekerja sama dengan PERADAH Sul-Sel.

Sasaran kegiatan: Umat Hindu, Pemuda dan mahasiswa Hindu yang ada di kota Makassar.

Tujuan kegiatan :    Memberikan pemahaman kepada umat Hindu dan pemuda pada khususnya untuk senantiasa kokoh pada keyakinannya di jalan Hindu agar tidak mudah goyah terhadap doktrin – doktrin agama lain

Kegiatan dharma tula ini dilaksanakan dalam rangka merayakan hari raya Saraswati pada tanggal 16 Juni 2012 di Lantai 1 Gedung Vyata Satya Kharma Pura Giri Narha Makassar pada pukul 19.00 Wita hingga selesai pukul 23.00 Wita. Dharma tula ini, dilangsungkan dengan penuh istimewa karena mendatangkan pemateri dari luar Sulawesi yaitu Ibu Shika Satyadevi Vahnikanya (Penulis buku Perjalananku Menjadi Hindu) dan Bapak Dr. Lanang (Tokoh umat kota Makassar).  Kegiatan yang terlaksana karena kerja sama antara PD KMHDI Sulsel dan Peradah Sulsel ini, berlangsung penuh dengan hikmah dan begitu terlihat antusias dari umat Hindu kota Makassar terkhusus pemuda dan mahasiswa dalam menyimak pemaparan perjalan hidup Ibu Sikha dalam menjadi Hindu. Dalam pemaparannya Ibu Sikha mengatakan bahwa dirinya menjadi Hindu karena sebuah pengalaman mistik, namun setelah dia menjadi Hindu selama 3 tahun dia menemukan alasan logis dia menjadi Hindu. Dia juga mengatakan bahwa Hindulah jalan Dharma itu. Beliau memaparkan, bahwa pada agamanya yang dulu dia tidak menemukan suatu kedamaian, kebebasan dan hak wanita yang begitu tertindas. Mengapa demikian? Wanita boleh di poligami dan wanita tidak boleh memimpin sungguh hal ini bukanlah hal yang adil bagi dirinya, kata ibu tiga anak itu. Namun suatu kedamaian dan dharma dia temukan dalam Hindu, itulah sebabnya dia sangat senang ada dalam rumah Hindu.

Bersamaan dengan hal itu, ibu Sikha dan Bapak Lanang mengatakan bahwa Weda adalah suatu vibrasi suara Tuhan yang mengandung seluruh apa yang ada di dunia dan dalam hidup ini, sehingga sesuatu tidak mungkin jika kitab suci itu dikatakan mengandung semua sendi – sendi kehidupan jika tebalnya hanya setebal kitab suci pada umumnya yang kita lihat milik agama non Hindu. Selain itu, weda juga telah ada dari awal kalva itu ada sedangkan kitab suci yang lain ada setelah ada tanggal masehi, jadi patutlah bahwa weda is way of life.

Dharma tula yang berlangsung selama 3 ½ jam ini sangat memberikan manfaat yang besar kepada pemuda untuk lebih cinta dan kokoh keyakinannya terhadap Hindu karena menyimak kesaksian spiritual yang disampaikan oleh ibu Sikha yang memilih meninggalkan agama mayoritas menuju jalan Hindu karena menemukan jalan dharma itu sendiri pada Hindu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s