Ekspresi Kultural Nyadran

SADRANAN atau nyadran bermula dari ritual craddha (Bahasa Sanskerta=pemujaan arwah) di India menurut ajaran Hindu, yaitu persembahyangan arwah dan mengirim sesaji yang dilakukan di candi (bahasa Sanskerta candikagrha=bangunan kematian) pada tiap bulan Phalguna, bulan ke-8 Kalender Saka (Caka).

Ketika agama Hindu masuk ke Jawa berikut Kalender Saka, ritual itu tidak secara langsung menjadi bagian tradisi masyarakat. Kitab Pararaton dan Negarakretagama karangan Mpu Prapanca menyebut tradisi tersebut baru muncul pada era Hayam Wuruk (1362) di candi-candi keramat penyimpan abu jenazah raja-raja.

Saking banyaknya candi yang harus dikunjungi, prosesi bisa berlangsung 3 bulan dari tanggal 4 bulan 8 (Phalguna), sepanjang bulan 9 (Cetra), sampai tanggal 7 bulan 10 (Wesakha). Masyarakat awam yang mengikuti raja, hanya melakukan ritual pada bulan 8 (Phalguna). Bukan ke candi melainkan ke sungai atau laut karena abu jenazah masyarakat awam tidak disimpan di candi.
Rasulullah Muhammad SAW juga selalu menyempatkan diri berziarah ke makam leluhur dan sahabat. Tapi Nabi pernah melarang umatnya untuk ikut berziarah kubur meski akhirnya memperbolehkan sepanjang tidak menjurus ke perbuatan syirik.

Pada era Islam setelah masa Majapahit, tradisi craddha (lidah Jawa melafalkan menjadi sadra atau sadran) tetap dilestarikan sebagai wujud kompromi budaya antara agama Hindu dan Islam. Pelaksanaannya bukan lagi di sungai/ laut melainkan di kuburan karena Islam melarang kremasi jenazah.

Ziarah kubur dan nyadran merupakan dua ekspresi kultural keagamaan yang memiliki kesamaan ritus dan objek. Perbedaannya hanya terletak pada waktu pelaksanaannya karena nyadran biasanya pada waktu tertentu, yakni menjelang puasa. Hal ini berbeda dari ziarah kubur yang bisa dilakukan sewaktu-waktu.
Demi nyadran, orang rela mengeluarkan biaya yang kadang cukup besar, misalnya untuk pulang kampung bersama-sama atau mengadakan pengajian dengan mengundang tetangga guna mendoakan arwah leluhur. Bahkan pimpinan tempat kerja kadang memberi toleransi guna memberi kesempatan pegawainya berziarah ke kampung halaman.

Kesiapan Batin

Bersuci diri sebelum memasuki Ramadan, juga dilakukan oleh sebagian masyarakat dengan saling bermaaf-maafan menjelang berakhirnya bulan Syaban. Tujuannya supaya ketika menjalani puasa pada bulan Ramadan, secara batin meraka merasa sudah bersih dari beban dosa antarsesama (hablum minannas).
Adapun pembolehan pelestarian ziarah kubur bagi umat Islam dalam konteks rasionalitas, semata-mata untuk mengingatkan bahwa kelak kita yang hidup seperti mereka: meninggal dan dikubur. Untuk itu, kita diingatkan supaya memanfaatkan sisa hidup dengan mencari bekal akhirat melalui peningkatan iman dan takwa, kualitas ibadah, termasuk memperbanyak amal dan sedekah.

Dari konteks sosial dan budaya, nyadran P> dapat menjadi wahana dan medium perekat sosial, sarana membangun jati diri bangsa, rasa kebangsaan, dan nasionalisme (Gatot Marsono). Sekelompok orang berkumpul bersama tanpa ada sekat kelas dan status sosial, tanpa ada perbedaan agama dan keyakinan, golongan, ataupun partai.
Dari tata caranya, kita bisa melihat bahwa tradisi itu bukan semata-mata ziarah ke makam leluhur mengingat ada nilai-nilai sosial budaya, seperti gotong royong, guyub, pengorbanan, dan ekonomi. Praktiknya seusai kegiatan itu ada orang mengajak saudara atau tetangga ikut merantau, bekerja di kota yang stratanya lebih besar.
Realitas itu makin memperjelas adanya nilai transformasi budaya dan tradisi dari yang tua kepada yang muda, dari yang kuat secara ekonomi kepada mereka yang masih perlu dibantu. Dalam aspek kekinian, tradisi itu juga bermetamorfosis menjadi wisata rohani kelompok masyarakat di tengah kesibukan sehari-hari.

Sumber :http://www.suaramerdeka.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s