Mengintip Keberagaman di Banuroja

Perbedaan pendapat dan pemahaman, bahkan keyakinan sering menjadi pemicu ketidaknyamanan akibat perselisihan yang berkepanjangan. Apalagi sampai mendorong sejumlah orang untuk bertikai.

Namun tidak demikian yang terjadi di Banuroja sebuah desa yang letaknya berada di bagian ujung barat Provinsi Gorontalo, tepatnya di Kecamatan Randangan, Kabupaten Pohuwato. Desa dengan luas permukiman 56,90 Ha/m2 dan kepadatan penduduk 948 orang (278 Kepala Keluarga) itu dihuni oleh masyarakat dengan sejumlah perbedaan.

Perbedaan keyakinan atau agama kepercayaan yang terdiri dari Hindu, Islam, dan Kristen dengan sejumlah alirannya, kemudian beragam suku baik Bali, Nusa Tenggara Barat, Gorontalo dan Jawa justru membuat masyarakatnya hidup berdampingan dengan damai.

Di Banuroja sebuah pesantren besar berada di tengah-tengah antara ratusan pura dan sejumlah gereja, hal itu menjadi pemandangan yang menarik bagi mereka yang melewati kawasan tersebut.

“Pernah pada beberapa waktu lalu jadwal ibadah kami tepat bersamaan, hal itu menjadi momen yang khas bagi kami karena ketika hendak menuju ke tempat ibadah masing-masing kami saling bersalam-salaman dengan penuh hormat,” Kata Djeek Detamor Gandey (44) yang merupakan Penatua Jemaat Imanuel Banuroja Gereja Protestan Indonesia Di Gorontalo.

Menurut Djeek meski penganut agama kristen protestan di Banuroja hanya terdiri dari 7 Kepala Keluarga atau 25 jiwa namun mereka tidak pernah mendapat perlakuan diskriminasi dari pihak mayoritas baik Islam maupun Hindu. Selama 15 tahun dirinya hidup di Banuroja pun tidak pernah sama sekali terlibat pertikaian dengan para pemeluk agama lainnya.

Di lain pihak, Tokoh Islam yang juga adalah salah satu pendiri pesantren Salafiyah Safi’iyah di Desa Banuroja, Kiai Haji (KH) Abdul Ghofur Nawawi (50) menceritakan bahwa hampir tidak pernah ada pertikaian antar umat beragama yang terjadi di wilayah mereka.

Masyarakat Banuroja hidup berdampingan dengan penuh rasa kekeluargaan dan saling membantu dalam segala persoalan yang terjadi didalam kehidupan sosial kemsyarakatan, bahkan kata KH Abdul Ghofur dalam setiap peringatan hari keagamaan pun masing-masing sudah saling memahami bahkan saling mengundang dan menghargai undangan tersebut dengan datang ke acara yang dimaksud tanpa harus merasa risih.

“Namun ada beberapa hal prinsip di dalam agama yang jelas tidak bisa kita langgar, dan hal itu juga sudah di mengerti oleh kami di sini,” Kata KH Abdul Ghofur.

Tidak ketinggalan salah satu tokoh masyarakat dan mantan Parisade agama hindu di Dusun Bali Murni, I Wayan Runah (54) menuturkan bahwa dirinya selalu berpesan kepada masyarakat terutama yang berasal dari Provinsi Bali bahwa kesadaran untuk menjaga kerukunan itu sangatlah penting sebab pertikaian yang terjadi meski kecil akan tetap berkepanjangan.

Oleh karena itu dengan kemajemukan masyarakat di wilayah tersebut harus bisa disikapi dengan dengan penuh hormat. Alhasil kata I Wayan, sejak 1982 hingga saat ini tidak pernah terjadi perselisihan yang berarti antara mereka dari suku bali yang umumnya beragama hindu dengan warga lainnya.

“Dalam hukum karma, jika kita menghormati orang lain maka dipastikan orang pun akan menghormati kita,” Kata I Wayan.

Ia mengatakan bahwa setiap urusan keimanan atau keyakinan agama seseorang merupakan persoalan tersendiri bagi masing-masing pemeluk dengan tuhannya, sementara dalam ekonomi semua harus saling membantu.

Hal itu kata I Wayan mampu dijalankan oleh semua warga Banuroja dan sekitarnya dengan baik, terutama dalam soal toleransi antar umat beragama dan saling membantu memajukan perekonomian masyarakat.

Berbeda itu Indah

Dalam perayaan hari besar keagamaan baik Idul Fitri, Natal, maupun Galungan setiap tahunnya tradisi untuk saling memberi kue, minuman, makanan ataupun buah-buahan terus berlangsung di antara masyarakat Banuroja.

“Setiap Natal atau Galungan kami selalu mengantarkan bahan makanan atau minuman ringan kepada mereka yang beragama kristen dan hindu,” Ujar KH Abdul Ghofur.

Sebaliknya, saat Idul Fitri mereka yang beragama hindu datang membawakan buah-buahan dari kebun mereka masing-masing kepada warga penganut agama Islam.

“Yang beragama Kristen pun demikian, mereka datang membawa parcel yang isinya kebanyakan kue atau minuman ringan,” ungkapnya.

Hal tersebut kata KH Abdul Ghofur terus berlangsung hingga saat ini, dan hal itu membuktikan perbedaan keyakinan ataupun suku bukanlah persoalan sebab semua masyarakat di Banuroja paham betul bahwa berbeda itu indah.

“Kami semua berasal dari yang satu dan hanya akan kembali kepada yang satu, yang beda kan hanya jalan kita masing-masing,” katanya.

Ia menegaskan segala peristiwa pertikaian dengan membawa nama agama yang terjadi sejumlah daerah di Indonesia maupun negara lainnya tidak akan pernah mempengaruhi kehidupan umat beragama di Banuroja, contohnya ketika terjadi pembakaran kitab suci Al Quran di Amerika pada beberapa waktu lalu, masyarakat muslim di desanya menyikapinya dengan bijak.

“Itu tindakan oknum, bukan agamanya yang memerintahkan hal seperti itu jadi buat apa kita ribut-ribut,” kata Abdul Ghofur.

Djeek Detamor Gandey pun menceritakan bahwa peristiwa pembakaran gereja yang dilakukan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab di sejumlah daerah tidak pernah mempengaruhi mereka di Banuroja.

“Bahkan pasca kejadian tersebut mengingat dirinya selain penatua adalah seorang tenaga medis, dia masih tetap melayani anak-anak muslim yang akan melakukan pengkhitanan, dan para warga yang beragama hindu untuk berobat tanpa ada unsur sentimen sedikitpun,” katanya.

“Di banuroja kita sudah komitmen untuk tidak terpengaruh dengan isu-isu yang dapat menggangu kedamaian, apabila ada persoalan yang terjadi maka kami selalu bertemu untuk mencari solusi,” Tutur Djeek.

Djeek pun menegaskan bahwa setiap persoalan yang terjadi antar warga di Banuroja, tidak pernah di besar-besarkan dengan membawa label agama atau suku.

Pandangan yang sama pun lahir dari I Wayan Runah bahwa kejadian berupa bom bali cukup hanya terjadi di Bali, dalam pandangan agama hindu pun kata dia, peristiwa pengeboman itu sudah merupakan ketetapan tuhan dan tidak harus berimbas pada perpecahan umat beragama.

Di desanya saat ini kata I Wayan, kedamaian merupakan harta yang tak ternilai sebab hal itu merupakan salah satu kunci pokok dalam kehidupan bermasyarakat. “Semaju-majunya sebuah daerah, jika tidak ada kedamaian maka semuanya akan sia-sia,” Ujar I Wayan.

Banuroja yang sebagian orang mengatakan sebagai miniatur keberagaman masyarakat Indonesia selalu menjadi tempat tersendiri bagi mereka yang ingin mempelajari toleransi umat bergama di Provinsi Gorontalo.

Desa dengan bangunan masjid, pesantren, pura, serta gereja yang berada di satu lokasi itu selalu memiliki cerita tersendiri dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika di Indonesia. Masyarakatnya mampu membuktikan bahwa berbeda itu memang indah.

Sumber:http://oase.kompas.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s