Mengapa Orang Bali Gampang Pindah Agama ?

Diskusi tentang “Muhammad Kadek Rihardika bin Ketut Pandika” sekalipun terlihat main-main saja, sebenarnya mengandung dua pertanyaan yang cukup menarik. Mengapa orang Bali relative mudah pindah agama? Dan apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya? Sudah ada penelitian tentang orang-orang Bali yang pindah ke Kristen di Bali, dilakukan oleh Drs Nyoman Wijaya, dosen sejarah di Faksas Unud, untuk thesis S2. Penelitian ini dan hasilnya diterbitkan berupa sebuah buku tebal, dibiayai oleh sebuah Yayasan Kristen di Bali. Saya belum membaca buku tersebut. Menurut Pak Made Titib ada 7 atau 9 hal yang menyebabkan orang-orang Bali pindah ke agama Kristen. Sebab yang utama adalah masalah kemiskinan, masalah ekonomi. Sebab-sebab yang lain, adalah adat, kasta, agama (ini tidak menunjukkan urutannya) dll

 

Karena buku ini berdasarkan penelitian, wawancara dengan orang-orang Bali yang sudah menjadi Kristen, apa yang disampaikan di dalamnya dapat diterima kebenarannya. Jadi benar bahwa soal pindah agama, dalam ini ke agama Kristen lebih banyak didorong oleh masalah perut. Tetapi bagimana kita menjelaskan orang-orang Bali yang berpendidikan baik, berkedudukan baik, berasal dari keluaga puri, dari griya, bahkan putra pedanda, putra pendiri Dwijendra, PGA Hindu pindah agama, umumnya ke Islam, karena ikut istri?

Di bawah ini saya coba mengemukakan beberapa sebab, berdasarkan pengamatan saja, karena saya tidak melakukan penelitian, misalnya wawancara dengan mereka yang pindah agama.

Pertama, melaksanakan tanpa memikirkan.

Orang Bali lebih banyak melaksanakan agamanya dari pada memikirkannya. Ini juga dikatakan oleh Miguel Covarrubias di dalam bukunya “Island of Bali”. Ini tidak sekedar berarti orang Bali melaksanakan berbagai ritual saja, tetapi juga di dalam tingkah laku etiknya. Be good! Do good! Dua hal inilah sebetulnya inti agama Hindu. Itulah yang dilaksanakan oleh orang Bali. Dan ini saja sebetulnya sudah cukup, asalkan kita hidup di dalam masyarakat yang homogen (Hindu). Atau di dalam masyarakat majemuk dari agama-agama Timur. Tetapi ini saja sama sekali tidak cukup bila kita hidup di dalam masyarakat heterogin, yang terdiri dari agama-agama Kristen dan Islam. Kenapa? Karena kedua agama ini merupakan agama missi yang agresif.

Kedua, hegemoni makna keagamaan.

Konsep dan makna keagamaan dewasa ini ditentukan oleh agama Kristen dan Islam. Ini adalah hasil dari keaktifan mereka di dalam wacana keagamaan. Mereka dapat mendiktekan definisi dan menentukan mana agama yang benar dan mana yang salah. Misalnya soal paham ketuhanan monotheisme, agama bumi vs agama langit, tentang nabi dll. Orang-orang Bali (Hindu) karena tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang agamanya, apalagi tentang agama lain, tidak mampu berpartisipasi di dalam wacana ini. Akibatnya mereka hanya mengikuti saja apa yang didiktekan oleh agama Kristen dan Islam. Hal paling maksimal yang dapat dilakukan oleh orang Bali, adalah mematut-matut diri di depan cermin yang dipasang oleh agama lain (Kristen dan Islam). ini berarti, secara sadar atau tidak, kita mengakui bahwa agama mereka lebih tinggi,lebih bermutu dari agama kita. Kita menerima saja konsep yang didiktekan oleh Kristen dan Islam, tanpa daya kritis sama sekali. Kita mengikuti strategi “saya juga” (me too). Agama saya juga monoteis, agama saya juga punya nabi, agama saya juga agama langit.

Tetapi konsep yang kita terima secara formal tidak menemukan pijakan di dalam realitas. Misalnya soal monoteisme, di dalam praktek kita masih bicara tentang “Betara Pura Rawamangun” “Betara Pura Bekasi”. Betara Pura Rawamangun “lunga” ke Pura Bekasi, waktu piodalan di Bekasi. Betara pura Bekasi bersama para Ida Betara di seluruh Jabotabek “ngiring” Ida Betara Gunung Salak melasti ke Cilicing. Kemudian soal nabi. Kita sibuk mencari-cari siapa nabi Hindu.

Seharusnya kita mengkaji apa monoteisme itu? Bagaimana perbandingannya dengan paham ketuhanan yang lain seperti politeisme, panteisme. Betulkah monoteisme lebih unggul dari paham ketuhanan yang lain? Apa nabi itu? Bagaimana kehidupan para nabi itu, khususnya kehidupan moralnya, bila dibandingkan dengan para maharesi Hindu atau para pendiri agama-agama Timur seperti Mahavira, Buddha, Guru Nanak, Kong Hu Cu, atau dengan para maharesi baru Hindu seperti Vivekananda, Ramana, Gandhi misalnya.

Demikian juga tentang agama langit dan agama bumi. Kita seharusnya mempelajari apa isi dari agama-agama ini, apa keunggulan agama-agama ini? Apakah ia mengajarkan nilai-nilai yang cocok dengan kemanusiaan dewasa ini? Bagaimana dengan ajaran tentang kebencian dan kekerasan yang demikian banyak terdapat di dalam kitab suci mereka, dan juga di dalam praktek kehidupan nyata? Kita tidak mampu melakukan purwa paksa (kritik atas ajaran agama lain) karena kita tidak memiliki pengetahuan untuk itu. Dan tidak punya kemauan pula.

Di dalam sebuah wilayah jajahan, si terjajah, secara terang-terangan atau tersembunyi mengagumi bahkan memuja si penjajah. Fakta bahwa si pejajah dapat menjajah merupakan bukti bahwa si penjajah lebih hebat dari si terjajah. Si terjajah, secara diam-diam atau terang-terang ingin meniru si pejajah. Hal yang di bawah ini contohnya.

Ketiga, semua agama sama saja.

Pendapat ini biasanya berkembang di kalangan para penekun “spritiualitas” – tidak semuanya – yang kemudian diikuti oleh sebagian umat Hindu awam. Saya tidak asal menolak pandangan ini. Saya ingin ditunjukkan bukti atau argumenasi dimana samanya? Apakah ada kesamaan di antara ajaran-ajaran, doktrin-doktrin, dogma-dogma utama yang merupakan pilar dari agama-agama itu? Jawaban ini tidak pernah muncul. Jawab yang diberikan biasanya merujuk kepada “pengalaman”. Yang dimaksud disini adalah pengalaman mistis. Jawaban ini sama sekali tidak meyakinkan saya. Pengalaman ini bersifat sangat personal. Berapa banyak orang Hindu yang mau memiliki pengalaman ini? Dari yang mau berapa banyak yang mampu memperolehnya? Dari yang mengaku memperolehnya bagaimana ia dapat di verifikasi atau difalsifikasi? Dan apakah orang-orang dari agama lain juga mencari pengalaman semacam itu? Saya pikir tidak. Tugas utama dari agama-agama tersebut adalah mewujudkan perintah kitab suci atau pendirinya untuk membuat agamanya sebagai satu-satunya agama di dunia. Kita dapat menyebut ini adalah agenda imperialisme agama. Paham triumpalis ini yang menjadi daya dorong (driving force) yang melahirkan semangat dan gairah missi dan dakwah dari kedua agama tersebut. Mereka pergi ke seluruh pelosok dunia untuk mejalankan perintah agung (great commission) ini.

Sementara pengalaman itu pasti berharga bagi yang menginginkan dan mendapatkannya, mengatakan bahwa dengan pengalaman itu saja semua permasalahan dunia dapat diselesaikan, adalah pernyataan yang naïve dan menyesatkan. Urusan agama apalagi urusan dunia sama sekali bukan hanya soal pengalaman ini. Kita tidak dapat menyelesaikan suatu tantangan dengan sekedar lari ke dalam.

Dampak dari kesamenisme banyak dan serius. Di antaranya adalah, pertama tentu saja, ini mendorong atau tidak menghalangi orang Bali (Hindu) untuk pindah agama. Bila kita konsekuen dengan dalil bahwa semua agama sama, seharusnya kita tidak mempermasalahkan dan tidak perlu melakukan apapun. Kedua, pandangan ini tidak mendorong orang-orang Bali untuk mempelajari agama-agama lain. Digabung dengan yang pertama, hal ini menyebabkan kita semakin tidak mampu terlibat dalam wacana agama, tidak mampu merespon tantangan yang disampaikan oleh agama-agama yang lain, terutama yang berkaitan dengan upaya konversi mereka.

Sikap ini, menurut Dr Frank Gaetano Morales, membuat agama Hindu seperti cermin atau panggung kosong. Siapa saja dapat bermain di panggung itu, dengan lakonnya sendiri, dengan pemainnya sendiri, di depan para penonton Hindu atas biaya agama Hindu. Peran Hindu baru dibutuhkan, jika rombongan asing itu memerlukan satu tokoh antagonis. Tentu tidak aneh bila para penonton (yang adalah orang-orang Hindu) akan mengagumi dan memilih para pemain asing itu dari pada pemain Hindu yang hanya berperan sebagai tokoh buruk.

Siapakah yang akan memilih agama, yang justru mengagungkan agama-agama lain di atas dirinya sendiri? Tanya Dr Morales.

Di samping soal prinsip di atas, dari aspek citra, pernyataan bahwa semua agama sama saja, yang disampaikan oleh orang Hindu dalam kedudukan sebagai minoritas, dalam pandangan saya, mirip upaya orang miskin yang ingin sekali diakui saudara oleh orang kaya, yang justru terus-menerus menolak dan menghinanya. Siapakah yang ingin mengikuti suatu agama yang menumbuhkan mental terjajah?

Keempat, kemalasan intelektual.

Ketiga hal tersebut di atas menyebabkan kita terbuai dalam suasana aman dan nyaman. Kita bukan saja tidak mampu, tetapi juga tidak mau merespon wacana dari agama lain. Kita tidak ingin mengganggu rasa aman dan nyaman kita. Sekalipun jika rasa aman dan nyaman itu adalah palsu. Kita telah menjadi malas secara intelektual.

Ketika Media Hindu menerbitkan buku “Hindu Agama Terbesar di Dunia” tahun 2004, yang diselenggarakan oleh KMHDI Jakarta, yang bereaksi keras justru orang-orang Hindu (Bali) sendiri. Orang-orang dari agama lain, diam-diam saja. Ini tampak ketika acara bedah buku ini di Pura Bekasi pada awal terbitnya buku ini yang diselenggarakan oleh PHDI Bekasi dengan KMHDI Jakarta. Reaksi dari peserta demikian keras. Ada yang mempertanyakan apakah buku tidak akan menimbulkan reaksi dari pihak lain? Mengapa melakukan perbandingan semacam itu? Bahkan ada yang mengatakan saya (sebagai editor) berpandangan sempit. Mengapa tidak menulis buku yang memuat kebaikan-kebaikan semua agama?

Semula saya marah mendengar penyataan-pernyataan ini, bukan karena saya tidak suka dikritik, tetapi karena saya melihat semuanya itu muncul dari ketakutan. Apa yang membuat kita begitu ketakutan? Tetapi kemudian saya senang, karena saya berhasil membangunkan orang-orang Bali ini yang, terlalu lama terkantuk-kantuk dalam lamunan tentang dunia yang damai dan indah di dalam angan-angannya. Mereka memang bangun secara terkaget-kaget, seperti orang yang pantatnya tersundut bara keloping. Bukankah suasana semacam itu juga sering muncul di HDNet ini? Kita belum bisa membedakan purwa paksa dengan kebencian dan menjelek-jelekkan agama. Dan kita tidak mau belajar.

Demikianlah jawaban saya terhadap pertanyaan : mengapa orang Bali (relative) mudah pindah agama? Secara singkat dapat dikatakan penyebabnya adalah “kompleks rendah diri agama” (religious inferiority complex). Lalu pertanyaan kedua, bagaimana mencegah perpindahan agama yang begitu gampang itu? Masalah-masalah yang telah disebutkan oleh Nyoman Wijaya harus diselesaikan. Dan yang lebih penting kompleks rendah diri agama ini juga harus diselesaikan. Jika masalah kedua ini tidak dapat diselesaikan, penyelesaian masalah-masalah pertama tadi tidak akan ada gunanya. Banyak upaya diperlukan. Seluruh komponen masyarakat Hindu yang sadar harus mengambil tanggung jawab. Tugas Media Hindu bersama buku-buku yang diterbitkannya adalah untuk menghancurkan religious inferiority complex yang sudah kronis dan melumpuhkan ini!

(Seorang kawan, anggota HDNet juga, yang secara tetap tiap bulan menyumbang Rp. 1.000.000,- untuk Dana Punia Lokasamgraha (DPL), satu kali bertanya pada saya “apa yang ada dibelakang karakter Media Hindu dan buku-buku yang diterbitkannya? Apakah ada pengalaman pribadi?” Saya harap tulisan di atas menjawab pertanyaan tersebut).

selesai.

Diambil dari Tulisan Saudara Ngakan Putu Putra

  • betara kawitan

    masuk akal boss..

  • Indra_lorus1

    sangat disayangkan jika semakin tergerus umat Hindu di Bali untuk berpaling. Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi marilah kita simak penyebab asal terjadinya. hemat saya, salah satu faktor adalah terlalu banyaknya ritual upakara yang saya yakin sedikit falsafah yang bisa dimengerti selain nak mule keto. coba tanya ke generasi muda sekarang, mereka umumnya akan sulit memaknainya. beban hidup belajar anak-anak kita sudah demikian berat untuk dapat “bersaing” kelak didunia kerja. apakah kita hanya mau jadi penonton dan jadi jongos ditanah sendiri karena demikian sibuknya upakara dilakukan..tiada hari tanpa upacara…

    harusnya pihak PHDI di Bali khususnya, berani tampil untuk mengeliminir upakara yg tidak perlu dan tanpa tujuan. apakah persembahan (yang besar, mahal, menghabiskan tenaga, uang dan waktu) tersebut memang dimintakan oleh Hyang Widhi?. yang kita sembah adalah Tuhan Hyang Widhi, bukan para butha kala yang pinter memberikan wangsit dan menakut-nakuti umat.

    jangan disalahkan juga jika umat kita pindah karena merasa “tidak” pas dan cocok dengan “baju” Hindunya yang ribet dan ingin mencari bentuk lainnya yang simple. apalagi dengan aturan adat yang membelenggu tanpa memberikan kebebasan. coba bayangkan, sebagai karyawan swasta, hari libur kita habis bahkan minus karena harus ikut berbagai upakara dan kegiatan adat. kapan santainya?. umat lain bahkan bisa berlomba-lomba untuk melakukan investasi di Bali…kita?..bisanya membuat kesepekang antar warga jika ada warga yg malas….padahal hidup sudah berat…knapa agama menjadi penambah beban hidup?.

  • Sanisca

    Ampura, tulisan siapakah ini ? Tiang membacanya di hdnet beberapa tahun yg lalu, dan merupakan tulisan Pak NPP ?

  • Sbeningmbun

    Jika kondisi Hindu di Bali sudah demikian kronis, mari kita benahi Hindu di luar Bali yang masih belum terjamah, dengan wawasan yang baru dan futuristik

  • Anonymous

    Om Swastiastu, ini memang benar tulisan bapak Ngakan Putu Putra. Mohon maaf jika sebelumnya belum menampilkan sumber dari artikel ini.

  • Anonymous

    Om Swastiastu, ini memang benar tulisan bapak Ngakan Putu Putra. Mohon maaf jika sebelumnya belum menampilkan sumber dari artikel ini.

  • Rahgung

    om swastiastu ..wah sangat langka apa yang disampaikan diatas saya sebagai org hindu sangat setuju apa yang ditulis ini tulisan ini sangat masuk akal sebagai pemeluk hindu yg moderat karena saya orang bali yg hindu sangat jarang ada di bali dan slalu membandingkan umat hindu yang ada dibali dengan umat hindu yang ada di rantauan ataupun umat hindu yang memang di luar bali memang perbedaan segi pandangan umat hindu ynng di luar bali saya rasakan jauh lebih mengerti akan jati diri orang hindu yng sebenarnya disamping itu yg lebih penting saya rasakan itu lah dengan gampang sekali orang hindu pindah agama karena alasan yang tidak tau apa agama hindu yang dianutnya itu tidak memberikan tuntunan yang jelas sebab musababnya kenapa harus begitu dan kenapa harus ikut kesitu atau kenapa selalu begitu dan sebagainya itulah intinya kenapa orang hindu mau memeluk agama lain yang nota bene memang ada tuntunan yang jelas dan arah yng pasti tentang agama , tapi di akhir kepedulian saya saya harapkan dengan tulisan-tulisan seperti ini orang hindu akan mulai sadar dengan apa yang di ikutinya itu semakin mengerti sebagai pemeluk agama hindu semoga…………om santi santi santi om

  • Wputugelgel

    menurut saya (68th)mata pelajaran agama hindu tidak pernah mengajarkan arti ritual yang dilakukan. Malah guru agama anak2 kita di Bali tidak mampu menjelaskannya. Contoh:mengapa daksina dari kelapa(dan mengapa daksina. Dari sering baca sudah tua baru sayatau betara tri purusa :brahma,wisnu siwa (danghyang gni jaya,dewi danuh,putranjayamasih kecil dimasukkan buah kelapa|. lakon wayang bima swarga, pelukatan sudamala, topeng sidakarya, kidung2 al.sucita subudi, cupak grantang, SEMUANYA tak pernah diajarkan dan mungkin tak ada guru yang mampu menjelaskan, atau MENURUT YANG NGERTI AGAMA TAK PERLU DIAJARKAN. Begitukah? Jadi, menurut saya, bentuk lagi lembAGA kesatuan tafsir, DIANTARA PARA AHLI AGAMA BERDEBAT, HASILNYA DILAKSANAKAN.Yang terjadi sekarang, pelajaran agama di sekolah SAMASEKALI tak ditemukan di pura (tak tahuarti ritualnya.  Silahkan YANG MERASA AKHLI AGAMA HINDU BERDEBAT DULU BGMN CARANYAMaaf dan terima kasih

  • Wputugelgel

    usul saya yang awam agama hindu(conto upacarapitra yadnya:wayang untuk bimaswarga, pelukatan sudamala, angkung,gambang, putru saji angkung, gong, yang menyebabkan biaya tinggi DIHARAMKAN BAGI KELUARGA MENENGAH KEBAWAH, ATAU BIAR MUSNAH SEKALIAN. silahkan bagi para milyuner menghamburkan uangnya MELESTARIKAN BUDAYA ITU(?)

  • Wputugelgel

    SARAN: Parisada  lakukan seminar kesatuan tafsir agama hindu(lagi,stlh mahasaba 1986)dan masyarakatkan. Itu tidak muda. SEKARANG SEMUA ORANG BICARA. tidak baik Agama lain juga banyak tafsirnya dan jangn salah lihat BANYAK ALIRANNYA, malah lebih banyak dari kita. ADANYA BOM BALI akibatnya,KATANYA

  • cape de…

  • cape de..

  • Komangali

    kalau hindu itu ingin berkembang, kita seharusnya memberikan pendidikan sejak dini, seperti kita lihat di agama lain anak yang baru TK sudah diajarkan agama, mengapa kita tidak seperti merake? coba kalau kita jalankan seperti itu, astungkara, agama kita akan ajeg dan berkembang, semestinya di bali itu di kembangakan pesraman2, untuk mengajarkan tentang agama hidu yang lebih dimengerti oleh umat itu sediri, apa lagi dibali ini masih banyak orang beragama hindu itu kurang memahami agama hindu itu sendiri,khususnya agama hindu di bali yang berwawasan budaya, dan yang saya perihatinkan banyak orang bali sudah tidak memakai bahasa bali, itu sebenarnya yang harus kita malu, sebagai orang bali yang berbudaya.

  • Gusti_genta

    Wahh.. ceritanya cukup panjang ya !! hehehe… cukup miris… itu lah hindu yang berkembang di bali khususnya.. bahkan tidak tahu ke Hindu annya.. “nak mule keto” (gugon tuon)…. sayang sekali.. dan saya membaca dari tulisan diatas.. memang begitu adanya dilapangan..
    klo di agama lain itu misionaris murni.. sedangkan kita adalah para pencari TUhan sesungguhnya.. karena tidak ada misi.. maka belajarlah ke pasraman..
    pasraman dan tokoh2 agama hindu sudah saatnya menurunkan ilmu agama ke masyarakat luas… jangan jadi exluciv.. sehingga sepertinya pengetahuan hindu cuma ada di pedanda saja.. tetapi seharusnya dogma masyarakat nak mule keto itu harus di hapus.. maka rasa Hindu dalam tubuh ini semakin kental.. maka tidak ada satu pondasi pun yang dapat merobohkan itu..

    seperti pengalaman saya yang punya mertua Muslim… mertua saya mengajak saya masuk islam.. tetapi itu saya tolak.. dan saya berani menolaknya… karena apa… semua isi di al-quran itu hanya sebuah cerita.. yang tidak bisa dipraktekkan secara gampang… inti sari nya meraka susah menjawab..  maka mertua saya sampai mikir keras.. karena al-qurannya telah saya bantah.. tetapi saya tetap menyayangi mertua saya.. walau beliau islam.. tetaplah beliau seorang Manusia.. yang punya bayu sabda idep.. dan ciptaan hyang parama kawi juga…

    dengan sikap yang begitu.. mertua saya jadi sayang sama saya dan tentunya anaknya.. yang telah jadi istri saya.. hehehe… suksma _/_

  • Advokat Deddy Prihambudi SH MH

    salam. mengapa kita masih bicara agama ? dalam kategori pengetahuan, agama dibahas pada derajat kesekian, bukan derajat pokok. kita mesti memulai dengan pengetahuan. filsafat pengetahuan. filsafat ADA dan TIADA. segala kepercayaan, apapun itu, harus mampu menjelaskan dirinya baik secara teori, maupun secara praktik. ini berlaku untuk sistem kepercayaan apapun. berarti, kita kudu memulainya dari WORLD VIEW, atau Pandangan Dunia. dan, apa pentingnya pandangan dunia ini dengan pengetahuan (teoritis) dan kehidupan sehari hari (praktis).

    adapun soal Islam atau Muslim, tidak usah dibikin pusing. tidak perlu pula langsung membahas Kitab Suci Al Qur’an. pertanyaan sederhana saja adalah : apakah manusia meyakini bahwa itu kitab suci langsung dari Tuhan ? disinilah pengetahuan sangat diperlukan.

    saya pribadi tidak tertarik bicara dalam wilayah agama. panjang ceritanya. namun yang pasti, agama apapun yang dianut, jika GAGAL dibahas dalam tataran ETIK, sama saja nasibnya. sekali lagi, ini dalam koridor filsafat, bukan dalam arti sosial kemasyarakatan.

    terakhir, tidak usah khawatir. aliran saya minoritas dalam Islam. dan akhir akhir ini, oleh Islam “mainstream” dipersekusi, karena dianggap sesat. tidak masalah. kami mengembangkan pengetahuan. dan percayalah, minoritas di dalam Islam yang “besar” seperti kami ini, membaca Bhagavadgita dengan tetesan airmata.

    sumber: phdi-sby.org

     

     

Iklan

2 comments on “Mengapa Orang Bali Gampang Pindah Agama ?

  1. saya adalah orang yg mulai merasa putus asa dengan kehidupan ber”adat” di desa saya. saya dulu adalah seorang muslim yang tulus iklas ikut suami yg hindu. tetapi setelah 20 th ini saya merasa beban itu semakin berat. saya seorang PNS, dikampung saya, mulai dari seorang bayi mecolong, nelu bulanin, maoton 3x, ngodalin, melaspas merajan. potong gigi, dan menikah selalu ngalih nyama. satu acara tdk cukup didatangi 1 x, malah kalau nyama seka..tiap hari hrs dibantu sampai metelah2. beras, gula, telur, dupa ditambah lagi nasi 2 kg yg sialnya kalau pas dapat bagian bawa nasi bungkus pagi2. sudah bangun jam setengah 4 pagi,mungkus nasi ngurus anak2, lagi metulungan. tdk heran setiap ada orang punya hajat (di tempat saya lebih sering ada bbrp orang barengan punya hajat) saya akhirnya sakit. kini saya dalam kebimbangan…di usia saya yg sdh tdk kuat lagi secara fisik..beban fifik saya sangat berat. anak perempuan saya bahkan mengatakan tdk ingin menikah dengan orang hindu dan anak laki2 saya ingin merantau ke luar negeri.

    • semua emang melelahkan buu, tapi kalau di pikir” juga ini lah yang membuat kita menjadi keluarga, dan masih ada asas gotog royong ataupun saling membantu,,,, dan hasil dari itulah kita bisa bertahan dari pada para penjajah dan akhirnya merdeka, kalau jaman dulu pemikirannya seperti ibu dan anak” ibu tersebut ya ga merdeka” indonesia sampai sekarang…

      berpikir berkata dan berbuat baik o:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s