Parade Ogoh-ogoh Sambut Perayaan Nyepi

Menjelang puncak perayaan Tahun Baru Saka 1936 yang jatuh pada Senin (31/3) hari ini, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Makassar menggelar dengan parade patung ogoh-ogoh di Pura Giri Natha, kemarin.

Ogoh-ogoh atau patung besar tersebut dianggap sebagai Butha Kala atau pemilik energi negatif. Ketua PHDI Makassar I Nyoman Supartha menyebutkan, selain Bhuta Kala, ada juga ogoh-ogoh berenergi positif yang dibuat. Energi positif ini bernama Barong. Para parade ogoh-ogoh ini, kedua energi ini akan disandingkan lalu ditempatkan ke asalnya. “Ogah-ogah diarak keliling Pura, selanjutnya, usai itu kami bakar,” jelasnya kepada wartawan kemarin. Parade ogoh-ogoh ini diharapkan mampu menyelaraskan dan mengharmoniskan kehidupan manusia.

Sebelum melakukan parade ogoh-ogoh, akan dilakukan upacara Tawur Kesanga atau disebut dengan Wisuda Bumi, untuk memohon keselamatan bumi beserta isinya. Menurutnya, dalam ajaran agamanya, Bhuta Kala berarti kekuatan alam semesta (Bhu) dan waktu yang tidak terukur dan tidak terbantahkan (Kala). Namun, meski demikian, ogoh-ogoh hanya merupakan salah satu pelengkap ritual Nyepi dan tidak mutlak ada dalam setiap perayaan hari besar.

“Istilah ogoh-ogoh berasal dari bahasa Bali yang artinya digoyang-goyangkan. Ogohogoh ini sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung dengan ritual Nyepi,”jelas dia. Bhuta Kala digambarkan sebagai wujud raksasa berambut panjang dengan perut yang sedikit buncit yang memiliki energi negative. Bhuta Kala dianggap dapat mengganggu umat manusia saat melakukan ibadah Nyepi pada pergantian waktu. “Pergantian dari pagi ke siang atau dari siang ke sore seperti ini cukup berbahaya. Jika pikiran umat dalam keadaan kosong, bisa saja dia dirasuki energi negatif itu,” jelas dia.

Sementara itu, salah satu jemaah yang ditemui di Pura Giri Natha mengatakan, ogoh-ogoh yang dibentuk tidak selamanya harus berbentuk seram dan berenergi negatif, melainkan bersimbol dewa atau dewi yang memiliki unsur positif. Seperti, berbentuk perempuan cantik atau kendaraan dewa seperti garuda dan sebagainya. Bahannya terbentuk dari kertas, kayu dan karton. “Hanya saja kita sengaja memilih si Bhuta Kala ini,” jelas dia.

http://www.koran-sindo.com/node/378747

BACA JUGA:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s