Malaikat Maut Bernama “Ujian Nasional”

Stres, Siswi SMP Tabanan Gantung Diri, ya itulah salah satu headline artikel di sebuah media online. Kabar seorang siswi SMP yang gantung diri setelah mengikuti UN yang disebut-sebut karena terlalu stres setelah merasa tidak bisa menjawab dengan baik pada ujian matematika. Leony Alvionita (14) siswi SMPN 1 Tabanan Bali nekat mengakhiri hidupnya pada tanggal 6 Mei bertepatan dengan hari kedua Ujian Nasional setelah sepulang mengikuti ujian matematika.

Lantas kematian gadis belia ini menjadi tanggung jawab siapa? Apa harus menyalahkan pemerintah yang menetapkan standar Ujian Nasional yang terlalu tinggi tanpa memikirkan dampak apa yang terjadi dengan standar yang terlalu dibuat sedemikian rupa dengan menganggap kemampuan semua siswa itu sama tanpa berfikir kemampuan setiap siswa itu tidaklah sama. Apakah salah orang tuanya, tidak mengawasi anaknya sehingga berujung gantung diri? tentulah tidak orang tua mana yang mau anaknya meninggal secara tragis apalagi karena masalah sepele. Saya yakin orang tuanya sudah mengawasi anaknya dengan baik, mungkin orang tuanya hanya kurang peka melihat perubahan sikap anaknya setalah mengikuti UN matematika. Tapi itu bukan menjadi alasan juga untuk menyalahkan orang tuanya, karena saya yakin ini mungkin memang sudah kehendak yang maha kuasa.

Lebih lanjut kita harus mencermati fenomena ini, secara kasat mata mungkin tidak akan ada yang berfikiran hanya gara-gara tidak bisa menjawab soal Ujian Nasional dengan baik seorang anak akan bunuh diri. Pada kenyataannya ini terus berulang setiap tahun, ada saja siswa yang berbuat nekat mengakhiri hidupnya karena frustasi tidak lulus Ujian Nasional.

Kita tidak bisa serta merta membabi buta menyalahkan pemerintah karena kasus ini. Kalau melihat berita-berita di media saya rasa banyak media yang terkesan memojokkan pemerintah dengan pengulasan yang terlalu berlebihan menurut saya. Standar UN terlalu tinggi, itu memang saya akui dan semua orang juga mengakui itu. Ada baiknya kita juga berprasangka baik kepada pemerintah terkhusus buat Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, saya yakin pemerintah sudah melakukan berbagai pengujian untuk menetapkan standar kelulusan Ujian Nasional di Indonesia, cuma mungkin sebagian atau kebanyakan siswa belum siap dengan standar tersebut. Banyak alasan yang bisa menyebabkan hal tersebut, terutama bagi sekolah-sekolah di daerah yang minim fasilitas, sehingga banyak siswa tidak mendapatkan standar pendidikan yang layak.

Satu lagi, kalau kita cuma baca dan lihat media pasti kita akan berfikiran kematian Leony Alvionita adalah karena tidak mampu menjawab UN matematika dengan baik. Ayo kita berfikiran positif, mungkin saja ada hal-hal lain diluar itu yang menyebabkan Almarhumah nekat mengakhiri hidupnya yang sama sekali kita tidak tahu. Tapi meskipun begitu Pemerintah hendaknya tetap menjadikan ini sebagai bahan untuk mengevaluasi Ujian Nasional supaya kedepannya tidak ada lagi Leony Alvionita lainnya. Buat para orang tua juga meningkatkan pengawasan kepada anaknya serta lebih banyak lagi memberikan pengajaran agama jangan hanya sekedar yang didapat di sekolah dan terkhusus buat Adek-adek yang sedang atau telah mengikuti Ujian Nasional tetap semangat dan jangan pernah putus asa. Jangan jadikan Ujian nasional sebagai malaikat pencabut nyawa.

BACA JUGA:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s