Pesona yang Tak Lekang oleh Waktu di Pura Uluwatu

Pemandangan dari Panggung Kecak

foto : Pemandangan dari Panggung Kecak

Bali tidak salah disebut sebagai Pulau Dewata. Setiap sudut tempatnya cantik untuk disaksikan. Keluhuran budaya dan agama Hindu tertuang di banyak tempat, salah satunya Pura Uluwatu.

Siang itu cuaca cerah benar-benar mendukung rencana kami, saya dan seorang teman, berkendara menuju semenanjung selatan Bali. Tujuan utama kami adalah Pura Luhur Uluwatu, pura suci bagi umat Hindu yang dianggap sebagai tempat memohon karunia untuk menata kehidupan di bumi ini.

Ini pertama kalinya saya mengunjungi Pura Uluwatu. Tapi bagi teman saya, ini adalah yang ketiga kalinya, itu alasan kenapa saya mengajaknya ikut, supaya tidak tersesat. Alasan lain tentu lebih menyenangkan kalau pergi ada yang menemani.

Matahari sudah tidak tepat diatas kepala, saat kami selesai santap siang di salah satu kedai nasi tempong yang berada tidak jauh dari GWK, lalu kami memutuskan langsung tancap gas ke tujuan utama kami. Jalan Uluwatu kini sudah semakin ramai, berbeda dengan 4-5 tahun yang lalu.

Walau jaraknya hanya beberapa menit saja dari Jimbaran, yang lebih dulu dikenal para pelancong, Uluwatu sepertinya masih belum tersentuh saat itu. Belum banyak wisatawan wara-wiri ke tempat ini, kecuali untuk mengunjungi Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana untuk melihat patung Dewa Wisnu berukuran raksasa dan Garuda yang menjadi tunggangannya.

Kalau sekarang jangan ditanya, jalan Uluwatu kini sudah memiliki jam-jam macet apalagi di ruas jalan menuju persimpangan Ungasan. Tempat makan kaki lima, hingga sekelas kafe, mudah ditemukan di ruas jalan ini, begitu juga dengan mini market hingga swalayan.

Jangan lupa juga, kalau dulu hanya satu atau dua resor megah yang ada di Uluwatu, kini seiring dengan ramainya wisatawan yang datang baik domestik maupun mancanegara fasilitas akomodasi untuk berbagai tingkatan juga semakin mudah dijumpai. Hal ini bukan tanpa alasan. Semenanjung selatan Bali ternyata menyembunyikan banyak pesona yang menunggu untuk dijelajahi, apalagi pantainya.

Sebut saja Pantai Pandawa yang baru dikenal, namun langsung melejit popularitasnya dikalangan wisatawan. Atau Pantai Balangan yang memiliki tebing berlatar belakang laut lepas dan menjadi lokasi paling disukai pasangan untuk mengucap janji setia.

Pantai Padang Padang dan Bingin yang menjadi surganya peselancar atau Pantai Nyang Nyang dan Green Bowl yang kecantikannya sungguh sepadan dengan perjalanan yang harus ditempuh untuk mencapai keduanya. Sedangkan Pura Uluwatu sendiri adalah satu dari sekian magnet yang selalu berhasil memikat wisatawan.

Tujuan kami semakin dekat ditandai dengan gapura Selamat Datang yang baru saja kami lewati. Beberapa menit kemudian kami sudah tiba di portal penjagaan dan membayar dua ribu rupiah kepada petugas untuk jasa parkir motor.

Gapura Selamat Datang

foto : Gapura Selamat Datang

Areal parkir pura cukup luas dan tertata, bahkan sepertinya, mampu menampung puluhan bus sekaligus, meskipun sebagian digunakan sebagai lokasi berjualan berupa deretan kios dan kedai minuman. Setelah membayar tiket masuk sebesar dua puluh ribu rupiah kami diberikan Senteng (selendang) untuk diikatkan di pinggang sebelum memasuki area pura.

Senteng dalam kepercayaan Hindu memiliki nilai penting sebagai simbol yang bermakna mengendalikan emosi dan hal-hal buruk yang dimiliki manusia dan wajib dikenakan sebelum memasuki area suci seperti pura. Oya, sangat penting mengindahkan peringatan Bapak penjaga loket untuk terlebih dulu menyimpan kacamata, topi, jepit rambut dan aksesoris lainnya yang mudah lepas. Karena monyet-monyet disini yang dipercaya sebagai penjaga kesucian pura terkenal jahil.

Sesaat memasuki area pura kami dihampiri seorang nenek yang menawarkan potongan buah yang dibungkus dalam plastik kecil. “Untuk monyet. Dua ribu saja,” katanya sambil tersenyum.

Saya pun mengambil dua bungkus. Dan benar. Baru beberapa langkah saja kami sudah dihadang kawanan monyet yang menagih diberi makanan. Salah satu dari kawanan itu bahkan agresif melompat ke punggung lalu memanjat ke bahu supaya bisa meraih bungkusan buah di tangan kiri saya.

Selanjutnya bisa ditebak, dalam sekejap bungkusan buah tadi sudah berpindah tangan tanpa sempat dibuka. Untunglah kacamata yang biasa saya pakai sudah duduk manis di dalam tas. Kalau tidak? pasti sudah diambil monyet.

Kawanan Monyet di Pelataran Pura

foto : Kawanan Monyet di Pelataran Pura

Sampai di pelataran pura saya tidak langsung menuju ke pura, melainkan menyusuri tebing di sisi kiri lebih dulu. Pinggiran tebing di sisi kiri berbatas pagar beton dan berundak-undak menyesuaikan kontur sehingga aman dilewati.

Walaupun begitu, saat itu saya melihat masih ada saja turis yang nekat melompat keluar pagar hanya agar bisa berpose dipucuk tebing dengan latar belakang pura. Bukan tindakan yang bijaksana dan beresiko menurut saya dan sebaiknya tidak dicontoh supaya acara jalan-jalan tidak berubah jadi petaka.

Panggung pertunjukan tari kecak yang dipentaskan setiap menjelang matahari terbenam itu juga ada di sisi ini dengan pintu masuk terpisah yang hanya dibatasi dengan pagar tumbuhan. Konon panggung ini mampu menampung hingga 700 orang dan letak dipilih sestrategis mungkin dengan pemandangan lepas ke Samudera Hindia dan semakin indah ketika matahari terbenam.

Rasa ingin tahu membawa saya melanjutkan perjalanan hingga pagar pembatas habis. Melewati jalan setapak diantara hutan dan sesekali dikagetkan dengan kawanan monyet yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.

Ternyata pemandangan diujung tebing kiri tak kalah cantik. Hamparan rumput hijau segar dan pepohonan meluas hingga ke bukit di satu sisi berhadapan langsung dengan laut lepas di sisi yang lain. Kagum sekaligus bersyukur bisa menikmati mahakarya Yang Maha Esa.

Puas dengan acara narsis dan selfie, kami lalu kembali menuju ke pura utama yang lokasinya berada di depan pelataran. Pura Uluwatu berada di ujung tebing yang menjorok ke laut dengan ketinggian mencapai hampir 100 meter diatas permukaan laut.

Kedudukannya yang berhadap-hadapan langsung dengan tiga pura penting lainnya yaitu Pura Andakasa, Pura Batur dan Pura Besakih, membuat Pura Uluwatu mendapatkan kekuatan spiritual yang diyakini dapat memberikan anugrah keseimbangan hidup yang paripurna bagi umat Hindu.

Namun, untuk menjaga kesuciannya, Pura Uluwatu hanya terbuka bagi yang bersembahyang saja. Pengunjung lain maupun wisatawan hanya bisa melihat dari luar pagar setinggi dada yang berlapis batu kapur.

Saya baru menyadari kalau dari sekian banyak kawanan monyet yang terlihat hampir di setiap sudut ternyata justru tidak terlihat di sekitar bangunan pura. Kalaupun ada, hanya satu atau dua ekor saja itupun di pagar beton pembatas tebing sisi kanan saja. Mengapa bisa begitu? Entahlah.

Saya berencana melanjutkan menyusuri tebing sisi kanan pura ketika teman saya mendapat telepon sehingga kami terpaksa harus segera kembali. Terlihat dari kejauhan pagar pembatas ini lebih panjang dan diujungnya seperti ada sebuah bale. Apakah sama cantiknya pemandangan kalau dilihat dari sini? Saya akan kembali lain kali untuk memastikannya.

sumber: http://travel.detik.com/

BACA JUGA:

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s