ARTIKEL

KLIK DISINI UNTUK MELIHAT “ARTIKEL” YANG ADA PADA BLOG PD KMHDI SUL – SEL INI..

Halaman Artikel berisi artikel – artikel yang telah ditulis atau berasal dari sumber – sumber yang di mediakan pada blog ini. terima kasih anda telah mengunjunginya.

Iklan

2 comments on “ARTIKEL

  1. Haruskah Perbedaan Keyakinan atau Opini Diselesaikan dalam Penumpahan Darah?
    (Should Differences of Belief or Opinion be resolved in bloodshed?)
    Oleh, Rabban Kharba Awraham 19 Februari 2011 _____________________________________________________________________________
    Kita hidup dalam dunia yang berbeda keyakinan, opini dan nilai. Sikap, “Bagi tiap miliknya sendiri” adalah terpuji dalam dunia ini, tapi jarang dipraktekkan pada tataran tingkat yang semestinya. Maka keyakinan berbeda ini, opini dan nilai, seringkali berakhir dengan mengijinkan jalan kekerasan dan penumpahan darah dalam dunia.
    Tapi apakah perbedaan opini atau keyakinan dan jalan hidup, menyerukan ukuran – ukuran ekstrim? Apakah sikap tak bertoleransi ini bagian aksi terbaik ketika dikonfrontasi oleh mereka yang tak percaya persis sama sebagaimana anda yakini?
    Baru-baru ini kita menyaksikan bangsa Mesir dan bangsa-bangsa lain di Timur Tengah memprotes demi hak azasi dan persamaan, bersamaan, di Mesir, kaum Koptik, sekte Kekristenan menjadi target penyerangan oleh aktivis Muslim, buntutnya terjadi penyerangan terhadap gereja-gereja mereka dan tewasnya orang-orang beriman dari pihak mereka. Ini terjadi sebelum dan selama protes di Negara Mesir, tapi dunia diam saja terhadap aksi – aksi ini, menurunkan kondisi mereka itu kepada semacam gangguan domestik.
    Selama beberapa minggu terakhir di Indonesia, komunitas lokal Ahmadiyah, sekte dari Islam (atau sebagaimana banyak Muslim memandangnya, suatu kultus yang lahir keluar dari Islam dan bukan Islam itu sendiri), dianiaya, diserang dan anggota-anggotanya dibunuh. Pernyataan misi Ahmadiyah adalah “Kasih Bagi Semua Orang. Nihil Kebencian”, ini tragis permusuhan semacam itu diarahkan kepada suatu komunitas yang berpegang pada cita – cita lebih tinggi. Juga, permusuhan yang sama ditujukan kepada komunitas – komunitas Kristen di Indonesia akhir – akhir ini.
    Gambar ini melukiskan seorang anggota awal dari Iman Agama Baha’i yang dianiaya oleh karena keyakinan agama mereka oleh anggota-anggota mayoritas Muslim Shia di Iran.
    Insiden – insiden semacam ini bukan hal baru, umat agama Bahai’ di Iran terus – menerus dianiaya oleh mayoritas Muslim Shi’a, sebelum dinasti Pahlavi dan setelah revolusi pada penghujung tahun 70-an. Komunitas agama tradisional Zoroaster dari Iran hampir tidak tampak lagi dibiarkan sendirian.
    Di Irak, pribumi penganut agama Mandaean asli, agama Yezidi dan komunitas-komunitas Kristen dan Nasraya, dianiaya, sehingga mereka harus terpaksa meninggalkan negeri asal mereka, lainnya dalam bahaya hampir disapu bersih seluruhnya.
    Di Tibet, masyarakat pribumi terus menerus menjadi target oleh pemerintah Komunis Cina. Jika ini adalah semuanya masalah keamanan negeri, kemudian mengapa begitu banyak waktu diluangkan dan energi dihabiskan oleh pemerintah Cina untuk menghancurkan biara – biara, kitab-kitab, pembunuhan dan penyiksaan terhadap para bhiksu dan bhiksuni, dan berusaha melenyapkan populasi etnis, atau berusaha merekayasa kepalsuan, negara mensponsori para Lama untuk menentang mereka kaum Tibet asli? Ini bukan hanya sekedar tentang negeri atau properti, tapi suatu serangan terhadap keyakinan dan jalan hidup mereka, atau keberadaan mereka yang paling hakiki.
    Di India, segera setelah terjadinya pembunuhan Indira Ghandi, kekejaman brutal dilakukan pada populasi kaum Sikh oleh anggota-anggota ekstrimis Hindu, pemerintah sedikit berbuat untuk memadamkan kekerasaan dan banyak orang tak bersalah, wanita dan anak-anak kehilangan nyawa mereka.
    Di Myanmar, semua orang menderita, kebanyakan dari mereka adalah kaum Buddhis, tapi ada juga Yahudi Myanmar dan komunitas-komunitas Kristen, yang sangat menderita hebat disebabkan aniaya oleh militer Myanmar. Orang-orang Kristen Thomasin Myanmar (Kepatriakan Jemaat Yerusalem), khususnya, diburu semua sementara kaum Buddhis dan komunitas-komunitas Roma Katolik Myanmar menanjak maju tanpa adanya rasa keberatan atau menawarkan pertolongan kepada individu – individu ini. Jadi tampaknya, penganiayaan diijinkan oleh sejumlah orang sebagai selama penganiayaan hanya mempengaruhi orang lain.
    Litani pelanggaran hak asasi manusia ini menjadi fakta dalam sejarah kuno kita, tapi ini adalah dunia modern. Di mana kesamaan persaudaraan global manusia dibicarakan tapi jarang terwujud.
    Jika nasib dunia ini bersandar pada orang-orang yang bergaul yang sama dengan yang lain, maka planet ini akan menjadi dingin, tandus, batu tak bernyawa mengambang di angkasa.
    Sangat mudah untuk berbicara tentang perdamaian sejagat dan persaudaraan, tetapi apakah idealis ini bisa diraih? Hal ini membutuhkan semua orang terlibat untuk berbagi visi ini dan secara aktif bekerja menuju tujuan ini, atau impian perdamaian dunia hanya akan menjadi mimpi. Saat ini, apa yang kita miliki adalah alternatifnya: mimpi buruk intoleransi.
    Perhatikanlah, ini bukan orang yang mendukung hidup damai dan eksis bersama yang tampaknya melancarkan perang intoleransi, tapi mereka yang mendukung rezim totalitarian atau Agama absolutis, bahwa waktu dan waktu lagi, berusaha untuk “membersihkan” suatu kawasan provinsi, sebuah wilayah, daerah atau dunia. Dari sudut pandang Ishmael Nabatean dan kaum Esseni para penganut Agama Terang, sementara kita memiliki keyakinan yang jelas tentang apa yang Baik dan Jahat, Benar dan Salah, dan kami akan membela diri terhadap mereka yang berusaha untuk mencelakai orang-orang kami, kami tidak percaya bahwa perbedaan keyakinan atau pendapat filosofis atau nilai sebagai titik pijak dasar bagi aksi kekerasan dan pertumpahan darah. Seseorang mungkin percaya antitesis dari apa yang kita percaya, bahwa adalah hak mereka, sama seperti itu adalah hak kita untuk percaya apa pun yang kita percayai. Pada titik ini tidak ada alasan, apakah keyakinan saya mengharuskan saya untuk menyakiti orang yang tidak bersalah. Hidup dan biarkanlah hidup itu adalah model penting bagi kaum kita. Kami tidak setuju dengan semua orang tentang apa yang paling penting dalam hidup. Kami tidak setuju dengan semua orang tentang cara terbaik untuk hidup di dunia ini, walaupun semua itu, tidak ada dasar bagi kita mewajibkan orang-orang atau mendorong untuk sebab kerugian kepada orang lain karena mereka tidak berbagi keyakinan-keyakinan, filosofi atau nilai-nilai yang sama kita anut. Ini hanya ketika saat orang-orang kita dihadapkan dengan orang-orang yang berusaha untuk menyerang keyakinan kami, filosofi, cara hidup kami dan kami diserukan untuk tegak berdiri sebagai ksatria dan melawan penindasan, kejahatan dan korupsi.
    Sama seperti kita tidak ingin memiliki orang atau kelompok lain memberitahu kita apa yang kita diijinkan untuk percayai dan berlatih atau apa yang kita tidak diperbolehkan untuk percayai dan praktekkan, demikian juga, kita tidak diizinkan untuk memberitahu orang lain apa yang mereka “harus” percayai , atau apa yang mereka “harus” praktekkan … atau yang lain. Itu bukan hak kita dan itu bukan hak agama apapun, atau rezim atau kerajaan atau bangsa. [1]
    Jika semua orang menghidupi keyakinan mereka dan cara hidup dan membiarkan orang lain untuk melakukan hal yang sama, maka bukankah Alaha yang menjadi hakim dari semua jiwa-jiwa? Alaha tidak akan menentukan siapa yang dan siapa yang tidak di sebelah kanan? Jika demikian, maka mengapa manusia begitu ngotot menganiaya mereka yang berusaha untuk hidup ada damai di dunia ini? [2]
    Apakah seseorang atau kelompok percaya seperti yang kita lakukan, atau dengan cara yang sama seperti yang kita lakukan, atau mereka percaya sebaliknya dari apa yang kita percayai, bahwa itu adalah hak mereka. Itu adalah jalan mereka dan mereka harus diizinkan untuk melakukan perjalanan di jalan mereka tanpa hambatan. Perbedaan keyakinan atau pendapat tidak perlu diselesaikan dengan penyalahgunaan, kekerasan dan pertumpahan darah. Ini adalah si Jahat yang memacu manusia untuk menyelesaikan masalah dengan cara biadab. Dalam iman kita, kita percaya ada empat kelas pembagian jiwa manusia:
    1. Eelanoo (Orang yang mengasihi dan taat kepada Alaha) [3]
    2. Palookha (Orang yang takut Alaha tapi tidak memiliki perjanjian dengan Alaha) [4]
    3. Betanookh (Orang yang percaya pada Alaha tapi mengikuti jalan terpisah dari apa yang Alaha wahyukan kepada umat manusia) [5]
    4. Lobeteel (Orang yang bukan Umat Alaha. Orang yang tak percaya pada Alaha, yang menentang Alaha atau yang menyembah sesuatu selain dari pada Alaha, yang termasuk diri mereka sendiri. Kami bersekutu dengan mereka yang mengasihi atau takut Alaha dengan bebas. Kami juga bersekutu dengan mereka yang melakukan perjalanan jalan hidup mereka sendiri, ini hanya mereka yang terang – terangan menentang atau menolak Alaha dan menginginkan kita untuk mengadopsi sudut pandang ini atau intoleransi dari sudut pandang kita, yang kita memilih tidak bersekutu dengan mereka. Bahkan dengan ini, tidak ada dasar kami mempercayai sesuatu yang kami memiliki hak azasi dan tidak ada celah melakukan apa yang kami percayai sehingga kami memiliki hak untuk menganiaya atau melukai bahkan mereka yang percaya antitesis dengan apa yang kami yakini.
    Jika tidak dipahami dalam konteks, orang dengan pemahaman yang buruk terhadap keyakinan kita, bisa memilih untuk menjadi tidak toleran dan melakukan sesuatu yang berbahaya terhadap orang lain, tetapi jika ada orang diantara kita yang berbuat yang demikian itu, mereka tidak mewakili iman, suku atau kerajaan kita, mereka bertindak bodoh dan di luar aturan-aturan Suku, dan mereka harus mempertanggungjawabkan atas tindakan tersebut. Intinya, sekalipun kita memiliki pandangan jelas tentang Baik dan Jahat, Benar dan Salah dan bahkan adanya kerinduan luhur bersekutu dan berkeinginan untuk menghindari kumpulan orang jahat di dunia ini, pada titik ini, tidak ada alasan apapun menyerang pihak lain atau kelompok lain disebabkan mereka tidak mau menganut keyakinan kita, nilai-nilai yang kita anut atau jalan hidup kita. Kami selalu tunduk kepada Kehendak Alaha sebagaimana disampaikan oleh Tangan Kanan Alaha di dunia ini dan sejarah menunjukkan, lagi dan lagi, bahwa Dia selalu mengajarkan jalan yang lebih tinggi yakni perdamaian, persatuan, dan persaudaraan, tetapi di atas semua itu, jalan belas kasih (Istilah agama Timur menyebutnya: “Welas Asih”).
    Saya melihat banyak manifestasi dari Maha Guruku yang terkasih, Anak Alaha (Aramaik: “Ilmashalwah” = Tangan Kanan Alaha, Maran Yeshua Mshikha bar Alaha) dan tidak ada satu titikpun saya melihat contoh adanya anjuran atau motif pemicu melakukan kekerasan atau bermakna yang jahat. Bahkan aksi militer diijinkan adalah untuk menghapuskan kejahatan dari dunia: tidak lebih, tidak kurang. Bahkan keadilan mengakibatkan eksekusi dalam suatu budaya oleh hukum agama, hanya untuk menjaga perdamaian dan keadilan yang dilakukan dalam suatu masyarakat tertentu, sehingga kesejahteraan masyarakat orang percaya terjaga. Selama ini, jalur damai dan kebajikan selalu merupakan aturan harian. Anak Alaha (Bar Alaha) selalu mengajarkan orang percaya, dalam setiap kebudayaan di dalam banyak hal, “Untuk mengaktifkan Pipi Yang Satunya lagi,” dan tidak mengambil jalan roh-roh jahat di dunia ini. [6]
    Saya melihat keadaan dunia saat ini, dan saya tidak melihat Pengajaran Murni Guruku tercermin dalam masyarakat dunia, dan hal ini sangat jelas tidak ada pada mereka yang memberlakukan kekejaman atas nama agama. [7]
    Perbedaan kepercayaan atau filsafat atau cara hidup, tidak pernah menjadi alasan untuk tidak membiarkan orang lain hidup dan mengijinkan hidup.
    Jika tidak ada keinginan anda menyakiti orang lain, maka tidak ada yang tersakiti. [8]
    Jika anda tidak mau orang lain berbicara negatif terhadap diri anda, jangan berbicara yang menyakitkan kepada siapapun. Jika anda tidak mau ada orang lain mengangkat tangannya melawan anda, jangan lalukan tanganmu pada orang lain.
    Segala apapun yang kita perbuat menyakiti orang lain, seperti meludah ke atas terpercik muka sendiri, biasa masyarakat mengatakan “segala perbuatan ada upahnya.”[9]
    Ketika anda memperlakukan diri sendiri sedemikian rupa dengan baik hati, meskipun orang lain berpikir negatif tentang anda, berbicara buruk tentang anda atau mengangkat tangan mereka terhadap anda, maka, pada saat itu, anda sedang berjalan dengan orang-orang kudus. Untuk itulah apa yang semua orang kudus harus alami dalam kehidupan mereka. [10]
    Terlepas dari semua itu, Hidup dan Biarlah Hidup. Jika tidak ada yang berusaha untuk berbuat jahat, maka tidak pernah ada surat perintah atau lisensi untuk melakukan kejahatan lain, terlepas dari keyakinan mereka, filsafat atau cara hidup. Keyakinan kami menegaskan bahwa semua orang baik mencerminkan sifat dari Tangan Kanan Alaha, atau sebaliknya mereka mencerminkan sifat dari Iblis. Tidak ada alternatif ketiga. Karena Tangan Kanan Alaha tidak akan pernah melepaskan tali kekang pertimbangan, kekerasan dan pertumpahan darah pada seseorang yang hanya karena berbeda sudut pandang atau keyakinan atau cara hidup, maka menurut sifat siapakah kita cerminkan ukuran-ukuran yang kita pakai untuk melegalkan keinginan kita?
    *http://kharba.wordpress.com/2011/02/19/should-differences-of-belief-or-opinion-be-resolved-in-bloodshed/
    __________________________________________
    Catatan Kaki:
    [1] Salah satu dari kedua pemicu pembunuhan umat manusia di dunia adalah AGAMA MISIONARIS (AGAMA SYIAR/ DAKWAH). Agama –agama ini selalu ingin menundukkan dan jadi penguasa semesta alam dengan asumsi mewartakan jalan keselamatan agar semua orang masuk sorga. Benarkah? Contoh, dalam dunia Agama Yahudi yang disebarkan kepada Non-Yahudi menjadi agama Kristen: Sejak kapan Rabbeinu Yeshua menyuruh kita untuk pergi menginjili semua orang? Orang akan berkata, berdasarkan Injil Mattai 28:20. Tapi kita membaca hanya Rasul-rasul Yahudi yang disuruh pergi ke seluruh dunia, bukan non-Yahudi. Mengapa? Sebab bangsa Yahudi sejak zaman raja Salomo dan setelah dia mangkat Kerajaan Salomo terpecah menjadi dua yakni Kerajaan Israel di sebelah utara dan Kerajaan Yehuda di selatan. Setelah masa kemurtadan nasional ini, mereka dibuang ke seluruh dunia dan menjadi warganegara bangsa-bangsa lain di mana berdomisili. Kepada mereka inilah Yeshua datang (Mattai 15:24), sebab Yeshua datang untuk mereka yang menerima Perjanjian Gunung Sinai dan Torah Moshe dan bangsa-bangsa lain tidak ada perjanjian dengan Alaha Israel sama sekali. Kematian Yeshua di Salib adalah sebagai “Anak Domba” yang dikorban bagi penebusan dosa-dosa Israel yang penerima Torah Moshe, maka Yeshua harus mati sebagai korban penebus dosa para pelanggar Torah. Apakah kaum Goyim pelaku jalan Torah Moshe? Tidak. Apakah kaum Goyim memiliki perjanjian Sinai dengan YHVH? Tidak. Lalu mengapa anda mengutip Injil Mattai 28:20? Sejak kapan anda kaum goyim menjadi keturunan Ibrani?
    Hampir 90 % dalam dialog-dialog Yeshua pada kitab-kitab Injil semuanya dalam konteks Yudaisme, bukan Goyim (bangsa-bangsa non-Yahudi). Memang, banyak juga orang-orang non-Ibrani dari suku-suku yang ada di kawasan Mesir dan Kanaan yang ikut bergabung dalam 12 Suku Israel di zaman Moshe di Padang Gurun Sinai dan mereka ini adalah satu bangsa yang disebut “Israel” sebab kaum goyim tersebut telah dientenkan (engrafted into) kedalam Suku-suku Israel, dan mereka ini disebut Gerim haBerith yang memiliki hak yang sama dalam Torah dan kewarganegaraan serta perjanjian (Bilangan 15:15-16), demikian pula di zaman Rasul-rasul di mana banyak kaum Goyim menjadi penganut agama Yahudi berkat misi Rabbi Hillel (tahun 100 S.M) seperti yang kita baca pada Kisah Rasul 2:11. Mereka para Goyim penganut Agama Yahudi /Israel ini tidak bertindak bodoh dengan mengambil alih agama Yahudi menjadi miliknya sendiri!
    Mereka tetap mengikuti kepemimpinan Yudaisme. Namun, sejarah pada Abad Kedua Masehi berbalik gagang setelah kaisar Hadrian tahun 135 Masehi menguasai Tanah Suci, maka kaum Goyim (Klal Kristiana) yang percaya kepada Yeshua/Yesus itu dan tadinya dientenkan kedalam kaum Nesarim/Nasrani (Jemaat Yerusalem) mengambil alih dan memformulasi sendiri Agama Yahudi menjadi Agama Kristen Teologi Pengganti. Selanjutnya, setelah abad ke-4 Masehi, berbalik arah menjadi musuh besar dari Agama Yudaisme itu sendiri.
    Saat Agama Yahudi yang diformulasi menjadi Agama Kristen, maka syiar agama Kristen mulai menginvasi dunia dan pertumpahan darah tak terelakkan lagi. Dengan didukung oleh tangan besi dan senjata para kaisar Romawi serta raja-raja Kristen, khususnya wilayah jajahan Romawi mulai dari Eropa, Afrika dan Asia Kecil memegang kendali keagamaan. Iman Nasrani Yahudi Perjanjian Baru ditafsirkan menurut konsep Kristen yang bersifat “kolonialisme” dan ekspansif. Pada abad ke-7 lahirlah Islam sebagai tandingan yang sama, maka dua agama besar ini berkompetisi dalam kancah dunia ini sampai sekarang.
    Adakah catatan kekerasan dianjurkan dalam Injil dan Surat-surat kenabian dari Mar Ya’aqub haTzadik dan Surat – surat Rasul lainnya? Tidak ada.
    Saat Agama Yahudi Nasrani diambil alih maka sejak saat itulah potensi kekerasaan agama mulai terjadi, sebab setiap orang bebas menafsirkannya dan hal ini sudah dilihat sejak zaman Rasul, sehingga Jemaat Yerusalem menegaskan Shahadatnya, pada tahun 100 Masehi: “… Aku menyatakan perlawananku terhadap mereka yang merampas semua yang kudus dari Tanah Suci.” – Butir 9.
    Kekerasan berdasarkan agama akan terjadi di tangan para pemimpin yang tak berhak mewarisinya. Dalam sejarah Yudaisme itu sendiri kita tahu dalam sejarah, saat kepemimpinan Agama Yahudi di tangan Para Rabbi Farisi dan Sadduki mereka menjadi biang keladi kesesatan umat dan pemicu kekerasaan agama terjadi, itulah sebabnya, dalam segala hal Maran Rabbi Yeshua selalu mencela mereka ini!
    Begitu pula, setelah Agama Yahudi Nasrani (Mshikhanut) diambil alih kaum goyim, terutama di Eropa di mana para Paus dari Gereja Katolik Roma berkuasa telah melembagakan dewan Inkuisisi (pengadilan agama) dengan jalan pembunuhan, siapa saja yang tak sejalan dengan Paus-isme harus dibantai sebagaimana kita baca dalam sejarah Zaman Kegelapan di Eropa.
    Dalam masa era Reformasi Protestantisme juga melakukan perbuatan yang sama di Eropa, di mana kaum mayoritas akan memaksakan kehendaknya terhadap golongan minoritas lainnya. Rasa kebencian terhadap kelompok tak sepaham, tidak sama dogma dan doktrin selalu lengket di hati para pemeluk agama. Mereka selalu berusaha menundukkan orang lain, berusaha orang lain harus sepaham dengan pendapatnya atau kelompoknya dan sikap semacam ini datangnya dari Agama Bias yang bukan berasal dari Alaha!
    [2] Jika Alaha ingin bertindak menyeragamkan semua keyakinan, ini adalah hal mudah bagi-Nya, tetapi apakah itu yang dikehendaki-Nya? Tidak. Alaha ingin mendidik manusia dalam bumi ini untuk BELAJAR memahami dalam PERBEDAAN demi kematangan spiritualitas orang beriman kepada-Nya. Perbedaan adalah keindahan, tetapi perbedaan bukan peleburan. Jika semua warna dicampur jadi satu maka warna asli masing-masing akan hilang dan tidak menjadi indah melainkan warna gelap!
    Tetapi tidak juga semua keyakinan yang berbeda itu sejajar benar, murni dan suci di mata Alaha. Alaha sudah memberikan jalanNya bagi kita apa yang sesuai dengan kehendakNya.
    [3] Eelanoo, ini adalah tipe keagamaan Perjanjian yang tidak putus sejak zaman Moshe di Sinai sampai zaman Yeshua hingga hari ini. Mereka ini adalah pengikut Agama Terang yang disebut kaum Yahudi Khasidim/Nasrani/Esseni dari Jemaat Suku Esseni Qumran yang dikenal akhirnya dibawah kepemimpinan Ya’aqub haTzadik sebagai Jemaat Yerusalem Yahudi hingga hari ini.
    [4] Palookha, tipe orang semacam ini disebut “Orang-orang Takut Alaha” (Kisah 10:1-2). Tipe ini ada dalam tiap lapisan agama apapun. Dalam agama apapun selalu ada orang-orang yang tulus mencari kehendak Alaha sesuai taraf pengetahuan terang keagamaan yang dimilikinya. Oleh sebab itu, kita jangan heran jika kita melihat bahwa akan ada banyak orang-orang dari agama Islam, Hindu, Buddha, Tao, Bahai, Sikh, Agama-agama Suku Primitif, dll yang berada di sorga bersama orang-orang kudus, sementara kita yang banyak mulut dengan sombong banyak membicarakan tentang keselamatan, Tuhan dan Alaha Esa dan berbagai kesalehan tetapi justru tidak masuk kedalam sorga itu sendiri. Waspadalah? Alaha itu HAKIM.
    [5] Betanookh, dalam menjawab kesombongan kaum Nosrim/ Klal Kristiana/ Kekristenan Goyim sejak abad ke-2 Masehi sampai sekarang Mar-Yah Yeshua Mshikha bar Alaha menurunkan wahyuNya:
    “Ilah palsu mereka itu BUKAN Anak-Ku, tetapi Anak-Ku itu adalah Raja Perjanjian yang dibuat dengan kamu saat orang-orang Yahudi sesat ditawan ke Babilonia…Aku tidak memilih Yunani dan Aku tidak memilih Roma sebagai hamba-Ku, tetapi Aku memilih Israel dan Perjanjian-Ku dibuat bersama kamu, Khasidim-Ku saja.” – Sefer Shakhynah.
    Ucapan Ilahiah ini adalah merespons para Teolog Pengganti Kristen yang lupa kacang dari kulitnya, seperti:
    Antagonisme orang-orang Kristen Awal terhadap orang-orang Yahudi direfleksikan dalam tulisan-tulisan Bapa-bapa Gereja Awal.
    Contohnya:
    – Justinus Martir (tahun 160 M) dalam berbicara tentang Yahudi dia berkata: “Kitab-kitab Suci bukan milikmu, tapi milik kami.”
    – Irenaeus, Uskup Lyon (177 M) mendeklarasikan: “Orang-orang Yahudi hak warisnya dicabut dari anugerah Alaha.”
    – Tertullianus (160-230 M), dalam risalatnya, “Melawan orang-orang Yahudi,” mengumumkan bahwa Alaha telah menolak orang-orang Yahudi demi kepentingan Orang-orang Kristen.
    Pada awal abad ke-4, Eusebius menulis bahwa janji-janji yang terdapat pada Kitab Suci Ibrani adalah untuk orang-orang Kristen dan bukan untuk Orang-orang Yahudi, dan kutukan-kutukan itu ditimpakan kepada Orang-orang Yahudi. Dia berargumentasi bahwa Gereja itu adalah kelanjutan Perjanjian Lama, dan oleh sebab itu menggantikan Yudaisme. Gereja muda ini mendeklarasikan dirinya sendiri menjadi Israel sejati, atau “Israel menurut sang Roh,” mewarisi janji-janji ilahi. Mereka menemukan hal itu penting sekali untuk mendiskreditkan “Israel menurut daging” untuk membuktikan bahwa Alaha telah mencampakkan UmatNya (Yahudi) dan mentransfer kasihNya kepada orang-orang Kristen.
    Pada awal abad ke-4 Masehi, peristiwa monumental terjadi bagi Gereja, yang memposisikan “Gereja Menang” atas “Israel Yang Kalah.” Pada tahun 306 M, Konstantinus menjadi Kaisar Romawi Kristen pertama. Pada awalnya, dia pandangan sedikit agak pluralistik dan menganggap Agama Yahudi punya hak yang sama seperti orang-orang Kristen. Akan tetapi, pada tahun 321 Masehi, dia menjadikan Kekristenan sebagai Agama Resmi kekaisaran dan melarang semua agama-agama lainnya. Ini merupakan sinyal akhir masa penganiayaan terhadap orang-orang Kristen, tetapi ini menjadi awal diskriminasi dan penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi.—(Stephen Pingha. Anti Semitism: 2005)
    [6] Injil Matius 5:39
    [7] Yeshua berkata, “Aku adalah Terang” (Yokhanan 8:12) dan kita adalah “Anak-anak Terang” (Yokhanan 12:36; 1 Tes.5:5) dan Agama kita adalah Agama Terang (Mshikhanuth) sebab berasal dari sang Terang itu sendiri sehingga kita harus merefleksikan terang itu (Mattai 5:13-16) dan didalam terang tidak ada gelapan.
    [8] Injil Matius 7:12
    [9] Injil Matius 12:33-37 10 dan Injil Matius 5:3-12
    Sumber:
    *http://kharba.wordpress.com/2011/02/19/should-differences-of-belief-or-opinion-be-resolved-in-bloodshed/
    Kepada Situs Blog yang saya kasihi, saya tidak ada maksud untuk infiltrasi iman dalam hal ini, melainkan membagikan suatu wacana dari persfektif kami sendiri terhadap diri kami dalam melihat saudara-saudara kita di luar tembok agama kami. Dengan hati yang tulus kami ingin membagikan ‘persfektif’ agar kita saling mengenal satu sama lain, khususnya PD KMHDI SULSEL atau Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Pimpinan Daerah Sulawesi Selatan. Dengan maksud supaya saudara-saudari bisa memahami saudara kita kaum Kristiani itu siapa sesungguhnya. Dengan demikian, saat berdialog kita bisa mengantisipasi pembicaraan agar tidak meluap mengarah pada anarkis ucapan dan aksi.
    Sesungguhnya agama itu ‘baik’ adanya, persoalannya pada si pelaku agama itu sendiri, tidak kurang lebih; dalam agama apapun ada orang baik dan ada orang jahat. Orang baik selalu bertemu dengan orang baik maka menghasilkan perdamaian tetapi orang baik dan orang jahat bertemu menghasilkan konflik dan keduanya sulit berinteraksi dan berkomunikasi. Lebih mudah dua orang yang saling tak mengerti bahasa masing-masing duduk bersama berdialog dari pada dua orang berbeda paradigma!
    Dalam arena dialog, kita tak bisa bertemu dalam konsep Vertikal (dogmatic, doktrin, ideology, tradisi dan adat istiadat, iman dan ajaran), tetapi kita bisa bertemu dalam konsep Horizontal yakni kesejajaran sebagai umat manusia dalam ikatan rasa welas asih sesama.
    Artikel ini saya bagikan bukan sebagai bahan untuk disebarluaskan tetapi sebagai materi kontemplasi pada diri kita masing-masing. Dan sekali lagi, biarlah artikel ini tetap menjadi bahan pelajaran dalam komunitas PD KMHDI SULSEL bukan untuk bahan antithesis fidei propaganda.
    Kami sangat dekat dengan nilai-nilai Hinduisme dan Buddhisme dari pada lainnya, sebab berasal dari akar yang sama!
    Salam kasih,
    Shamasha (Panditta) Hotman Lumbantoruan

    • tdk semestinya seperti itu..
      pasti ada jalan lain selain penumpahan darah dalam mnyelesaikan suatu perbedaan pendapat. namun perbedaan keyakinan tdk perlu disesalkan atau dijadikan suatu masalah, bukankah perbedaan itu akan membuat manusia menjadi orng hebat, menjadi orng yg tidak angkuh terhadap apa yang dia miliki, bukan kah perbedaan itu akan membuat orang akan merasa hidup lebih indah dan tidak akan ada rasa bosan krn hnya itu-itu saja yang ia hadapi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s