Mengintip Candi Tempat Semedi Raja Jawa di Nusantara

Di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya di Dusun Sukorejo, Desa Mulyoasri, telah ditemukan sebuah ‘pasraman’, tempat belajar ilmu agama bagi umat Hindu yang dipimpin oleh Sang Hyang Aji Pasupati, maha guru dari para resi, raja, mpu dan tokoh agama Hindu pada zaman kerjaan Majapahit.

Untuk sampai ke lokasi ‘pasraman’, Candi Jejawar itu, harus menempuh perjalanan kurang lebih empat jam, dengan menggunakan sepeda motor, dengan kondisi jalan tak beraspal. Lokasinya, tepat di lereng Gunung Semeru, hanya empat kilometer ke puncak gunung tertinggi di Jawa itu.

Di area ‘pasraman’ tersebut, ditemukan reruntuhan candi yang kini diberi nama Candi Jejawar. Selain itu pada tahun 1982 lalu, juga telah ditemukan Arca Dwarapala, yang kini sudah berada di Museum Trowulan.

“Keberadaan reruntuhan bangunan ‘pasraman’ ini masih belum diketahui tahunnya. Masih perlu penelitian lebih lanjut,” kata seorang arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur, Danang Wahyu Utomo, yang ditemui saat acara peletakan batu pertama pemugaran pura Majapahit di area ‘pasraman’, Selasa (9/9/2014) kemarin.

Menurut Danang, dia hanya bisa mengomparasi gaya pahatannya, yang terlihat identik dengan masa kerjaan Majapahit di abad ke 13. “Sebenarnya ini bukan candi. Tapi, batur (lantai dasar bangunan) yang di atasnya ada bangunan kayu, seperti pendapa, yang menjadi tempat istirahat,” kata dia.

Danang menduga, area ‘pasraman’ yang kini diyakin umat Hindu adalah tempat semedinya para resi, mpu dan leluhur para raja di Jawa itu, masih masuk halaman dua. “Jika ada area seperti ini, menurut saya ada tiga tahap lokasi. Halaman luar, dalam dan tengah. Halaman tengah itu adalah bangunan suci,” kata dia.

Hanya, kata Danang, di area ‘pasraman’ tersebut belum ditemukan secara pasti, di mana tempat suci tersebut. “Kemungkinan tempat suci itu, di tempat yang paling tinggi. Yang ada saat ini, baru pintu masuk ke tempat suci itu,” kata dia.

Biasanya, reruntuhan batur atau lantai dasar itu adalah gapura sebagai pintu masuk tempat suci. “Karenanya, sekali lagi memang butuh penelitian lebih lanjut di area ‘pasraman’ Sang Hyang Aji Pasupati ini,” kata dia lagi.

Harus dicari data lebih detail, mulai dari batas pagar hingga bangunan di dalam. “Sekarang masih memetakan dan melakukan zonasi. Lahan mana yang inti dan zona penyangga,” ungkap Danang.

Tempat suci
Sementara itu, menurut Jero Mangku I Wayan Swarsana, tokoh umat Hindu sekaligus juru kunci di Pasraman Sang Hyang Aji Pasupati, area ‘pasraman’ yang ada candi Jejawar itu, adalah tempat suci untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang kuasa.

“Tempat sembahyang para maha guru maha resi. Tempat sucinya di sini, di Candi Jejawar ini,” kata dia sembari menunjukkan reruntuhan Candi Jejawar tersebut.

Untuk menjadi “orang suci”, supaya segala permintaannya dikabulkan oleh Tuhan, kata Mangku I Wayan, terlebih dahulu dilakukan penyucian diri dari segala perbuatan tidak baik dan terus melakukan meditasi (yoga) menyambungkan diri kepada Tuhan yang suci.

“Begitu upaya yang dilakukan para maha resi, mpu, yang ada di nusantara serta para raja-raja di Jawa, sebelum Nusantara itu terbentuk. Candi Jejawar ini, tempat suci berkumpulnya para maha resi, setelah membangun Candi Borubudur dan Candi Dieng,” kata dia.

Berdasarkan sejarah Babad Tanah Jawa, katanya, di Candi Jejawar itulah para maha resi, leluhur para raja Jawa dan mpu, bersembahyang. “Sang Hyang Aji Pasupati, yang memimpinnya. Beliau itu pimpinan dari pandita-pandita di tanah Jawa,” kata pria yang sudah 12 tahun menjaga candi Jejawar itu.

Saat itu, Sang Hyang Aji Pasupati, memimpin 16 pandita, yang bertugas merintis tanah Jawa. “Dalam sejarahnya, Candi Jejawar adalah stana Dukuh Ampel Gading atau Sang Hyang Aji Pasupati. Cikal bakal leluhur raja-raja tanah Jawa dan Kutai,” kata dia.

Dalam lontar Raja Purana Sesana Candi Supralingga Bhuwana dan lontar Kutarakanda Dewa Purana Bangsul disebutkan, bahwa pada saat Balidwipa (Bali) dan Silaparangdwipa masih dalam keadaan labil, Sang Hyang Aji Pasupati memerintahkan Sang Badawangnala, Sang Ananthaboga, Sang Naga Basukih dan Sang Naga Taksaka untuk memindahkan bagian dari Gunung Semeru dari Jawadwipa ke Balidwipa.

“Setelah tanah Bali stabil, barulah Sang Hyang Aji Pasupati menurunkan tiga putranya, yakni Hyang Gni Jaya, yang berstana di Gunung Lempuyang, Hyang Putranjaya berstana di Gunung Agung dan Hyang Dewi Danuh berstana di Gunung Batur,” kata dia.

Ditemukannya ‘pasraman’ yang menjadi tempat suci Sang Hyang Aji Pasupati berawal dari seorang Pandita bernama Ida Pandita Mpu Nabe Dwi Prama Dharma dari Desa Manggis, Kecamatan Amplapura Bali yang menderita sakit ajaib, seperti dipukul-pukul secara gaib yang dirasakan di sekujur tubuhnya.

“Karena sakit yang tak sembuh-sembuh, beliau menjalani semedi. Dalam semedinya beliau didatangi Sang Hyang Aji Pasupati, yang memerintahkan Ida Pandita untuk memuja dengan menggunakan Siwa Krana. Dari banyak semedi yang dilakukan, didapat pentunjuk melalui gambar gambar pelinggih yang ada di lereng selatan Gunung Semeru,” kata dia.

Dari petunjuk tersebut kisah I Wayan, ditemukan ‘pasraman’ yang di dalamnya terdapat Candi Jejawar tersebut pada tahun 1967 lalu. “Yang tinggal di sini, jika dizinkan akan jadi raja. Jika tidak dizinkan tak akan jadi raja, resi dan mpu. Jejawar artinya “tanah yang maha agung”. Semoga lokasi ini nantinya, bisa steril dari sikap yang tidak suci. Nanti akan kita ditanami pohon cemara sedikit demi sedikit di sini,” kata dia.

I Wayan juga menegaskan, bahwa reruntuhan candi Jejawar itu, bukan sebuah makam. Karena, selama ini banyak kalangan yang salah tafsir. “Tapi tempat suci Sang Hyang Aji Pasupati, yang buka Nusantara ini. Tapi, tempat ini bukan hanya untuk umat Hinda. Tapi untuk seluruh umat,” kata dia.

Namun, dia menyarankan, jika akan masuk ke area ‘pasraman’ tersebut, harus dalam kondisi harum, sudah mandi, badan dalam kondisi suci. “Karena ini memang tempat suci. Khusus ritual. Jika bukan untuk ritual, saya yakin akan ada peringatan dari yang maha kuasa,” tegas dia.

Sumber: http://regional.kompas.com/

BACA JUGA:

Mengenal Pura Mandara Giri Semeru Agung

Pura Mandara Giri Semeru Agung adalah pura yang sangat diagungkan oleh masyarakat pulau jawa. Terletak di desa Senduro 17 km dari kota Lumajang Jawa Timur dan 39 km dari desa Ranupani lereng gunung semeru. Disamping pura ini sangat besar serta menjadi pusat keagaaman umat hindu bahkan orang bali berbondong-ondong ketempat tersebut. Pura ini dibangun pada tahun 1991, latar belakang pemilihan lokasi Pura Semeru Agung di kaki Gunung Semeru berkaitan dengan mite pemindahan puncak Gunung Mahamèru dari India ke Jawa dengan maksud agar Pulau Jawa tidak jungkat-jungkit, sebagaimana dikisahkan dalam naskah Tantu Panggêlaran.

Dengan demikian Gunung Semeru dianggap suci oleh masyarakat Jawa sejak dahulu.
Gaya, struktur dan komponen-komponen arsitekturnya mengikuti gaya arsitektur pura-pura di Bali, yaitu arsitektur trdisional Bali yang masih mengikuti gaya arsitektur zaman kerajaan Majapahit. Gaya arsitektur ini dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu dengan dasar-dasar filsafat dalam ajaran agama Hindu. Landasan filosofis arsitektur terteliti dipaparkan dengan latar belakang alam pikiran keagamaan pemangkunya, yaitu agama Hindu, yang visualisasinya tergambarkan pada tata ruang (tata letak), bentuk bangunan dan bahan bangunan yang digunakannya.

Jika ingin kesana dengan transportasi umum, maka ada dua versi perjalanan pertama jika dari Jakarta anda harus menuju malang transit di desa tumpang  dengan menaiki mobil jeep atau truk lalu menuju lereng gunung semeru yaitu desa ranupani yang berjarak 43 km dari tempat tersebut. Sesampainya di ranupani dilanjutkan ke pura mandara giri agung semeru yang berjarak 39km dengan menyewa mobil melalui jalan yang berliku dan cukup rusak serta kanan kiri dikelilingi hutan. Bahkan ketika tim inspirasi menyambangi pura ini melalui desa ranupani, kami harus dihadapkan dengan tumbangnya pohon besar ditengah perjalanan. Butuh 30 menit untuk mendapatkan bantuan dari salah seorang warga yang sukarela membelah pohon tersebut.

Dari belahan Indonesia manapun kalian hanya perlu ke Surabaya terlebih dahulu kecuali yang disekitar Jawa Timur, setelah itu dari terminal bus Surabaya silahkan mengambil jalur bus yang menuju Banyuwangi atau Jember. Perjalanan dengan bus dari Surabaya akan menempuh waktu kurang lebih 4 jam. Sampai di terminal Lumajang (Wonorejo) dilanjutkan naik angutan umum kearah Lumajang kota dan turun di Klojen. Dari situ banyak angkutan ke Senduro dengan mobil Elf. Naik saja turun di Pura Mandhara Giri, atau paling mentok ya di bawah pura sebelum tanjakan tau naik ojek kalau diturunin di pasar hehe. Perjalanan ke Senduro dari Klojen Lumajang ditempuh sekitar 1 jam.

Suasana didalam Pura Mandhara Giri Semeru Agung salah satu Pura Mandhara Giri Semeru Agung mbak-mbak mejeng di depan Pura Mandhara Giri Semeru Agung Setiap weekend ada saja rombongan yang berkunjung ke pura ini. Kebanyakan pengunjung adalah dari pulau seberang, pulau Bali. Dan acara paling ramai yang diselenggarakan disini adalah pada saat ulang tahun pure (Piodalan) atau sekitar pertengahan-akhir Juni.

sumber: http://www.majalahinspirasi.net/

BACA JUGA: