PHDI Bali Harapkan Ada Dana ‘CSR’ Budaya

Ketua PHDI Provinsi Bali, Dr I Gusti Ngurah Sudiana  - [ist]

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali Dr I Gusti Ngurah Sudiana mengharapkan, ke depan ada dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di daerah itu yang diarahkan untuk bidang kebudayaan.

“Selama ini belum pernah ada CSR untuk budaya. Padahal daya tarik Bali itu bagi wisatawan dari sisi budaya,” kata Gusti Ngurah Sudiana dalam dialog bertajuk “Apakah Upacara Agama Mempengaruhi Kemiskinan di Bali, di Denpasar, Kamis (9/1).

Menurut dia, dengan dana CSR yang difokuskan untuk bidang kebudayaan itu, selanjutnya dapat diarahkan untuk membantu kegiatan adat dan budaya masyarakat Bali.

Ia menambahkan, kharisma Bali dapat terjaga karena selama ini masyarakat tetap melestarikan adat dan budaya yang kemudian diimplementasikan melalui kegiatan ritual keagamaan.

Di sisi lain, ujar Sudiana, terkait adanya pandangan yang menyebutkan pelaksanaan ritual keagamaan di Bali memberatkan umat, sesungguhnya tidaklah benar. Karena sudah terbagi dalam berbagai tingkatan yang dipilih umat.

“Kalau bagi yang tidak mampu, jangan memaksakan diri untuk menggelar tingkatan agung (tertinggi),” ucapnya.

Selain itu, umat Hindu sebaiknya juga memahami, bahwa untuk berbakti pada Tuhan dapat ditempuh melalui empat jalan (Catur Marga). Tidak hanya lewat ritual, tapi juga bisa lewat pendidikan, kerja dan yoga.

PHDI sebelumnya juga sudah mengeluarkan keputusan pada 1998, tentang pelaksanaan upacara yang dapat dilakukan secara massal, seperti halnya dalam upacara Ngaben.

Pihaknya sepakat, ke depan diperlukan upaya pencerahan yang lebih intensif pada umat. Sehingga dapat melaksanakan ritual sesuai dengan kemampuan.

Terkait hasil rilis Badan Pusat Statistik Provinsi Bali pada September 2014 yang menyebutkan bahwa dari kelompok orang Bali yang miskin di wilayah perdesaan, ternyata pengeluaran kedua yang tertinggi untuk kelompok non-makanan adalah upacara.

Sudiana mengharapkan ke depan, agar BPS juga menghitung tingkat kemakmuran dari pelaksanaan upacara.

“Seperti halnya hotel-hotel dan akomodasi wisata lainnya, kan mereka mendapat keuntungan dari ritual upacara yang telah dilaksanakan umat Hindu,” kata Sudiana.

Sumber : skalanews.com

 

BACA JUGA:

Mengintip Candi Tempat Semedi Raja Jawa di Nusantara

Di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tepatnya di Dusun Sukorejo, Desa Mulyoasri, telah ditemukan sebuah ‘pasraman’, tempat belajar ilmu agama bagi umat Hindu yang dipimpin oleh Sang Hyang Aji Pasupati, maha guru dari para resi, raja, mpu dan tokoh agama Hindu pada zaman kerjaan Majapahit.

Untuk sampai ke lokasi ‘pasraman’, Candi Jejawar itu, harus menempuh perjalanan kurang lebih empat jam, dengan menggunakan sepeda motor, dengan kondisi jalan tak beraspal. Lokasinya, tepat di lereng Gunung Semeru, hanya empat kilometer ke puncak gunung tertinggi di Jawa itu.

Di area ‘pasraman’ tersebut, ditemukan reruntuhan candi yang kini diberi nama Candi Jejawar. Selain itu pada tahun 1982 lalu, juga telah ditemukan Arca Dwarapala, yang kini sudah berada di Museum Trowulan.

“Keberadaan reruntuhan bangunan ‘pasraman’ ini masih belum diketahui tahunnya. Masih perlu penelitian lebih lanjut,” kata seorang arkeolog dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Jawa Timur, Danang Wahyu Utomo, yang ditemui saat acara peletakan batu pertama pemugaran pura Majapahit di area ‘pasraman’, Selasa (9/9/2014) kemarin.

Menurut Danang, dia hanya bisa mengomparasi gaya pahatannya, yang terlihat identik dengan masa kerjaan Majapahit di abad ke 13. “Sebenarnya ini bukan candi. Tapi, batur (lantai dasar bangunan) yang di atasnya ada bangunan kayu, seperti pendapa, yang menjadi tempat istirahat,” kata dia.

Danang menduga, area ‘pasraman’ yang kini diyakin umat Hindu adalah tempat semedinya para resi, mpu dan leluhur para raja di Jawa itu, masih masuk halaman dua. “Jika ada area seperti ini, menurut saya ada tiga tahap lokasi. Halaman luar, dalam dan tengah. Halaman tengah itu adalah bangunan suci,” kata dia.

Hanya, kata Danang, di area ‘pasraman’ tersebut belum ditemukan secara pasti, di mana tempat suci tersebut. “Kemungkinan tempat suci itu, di tempat yang paling tinggi. Yang ada saat ini, baru pintu masuk ke tempat suci itu,” kata dia.

Biasanya, reruntuhan batur atau lantai dasar itu adalah gapura sebagai pintu masuk tempat suci. “Karenanya, sekali lagi memang butuh penelitian lebih lanjut di area ‘pasraman’ Sang Hyang Aji Pasupati ini,” kata dia lagi.

Harus dicari data lebih detail, mulai dari batas pagar hingga bangunan di dalam. “Sekarang masih memetakan dan melakukan zonasi. Lahan mana yang inti dan zona penyangga,” ungkap Danang.

Tempat suci
Sementara itu, menurut Jero Mangku I Wayan Swarsana, tokoh umat Hindu sekaligus juru kunci di Pasraman Sang Hyang Aji Pasupati, area ‘pasraman’ yang ada candi Jejawar itu, adalah tempat suci untuk berkomunikasi dengan Tuhan yang kuasa.

“Tempat sembahyang para maha guru maha resi. Tempat sucinya di sini, di Candi Jejawar ini,” kata dia sembari menunjukkan reruntuhan Candi Jejawar tersebut.

Untuk menjadi “orang suci”, supaya segala permintaannya dikabulkan oleh Tuhan, kata Mangku I Wayan, terlebih dahulu dilakukan penyucian diri dari segala perbuatan tidak baik dan terus melakukan meditasi (yoga) menyambungkan diri kepada Tuhan yang suci.

“Begitu upaya yang dilakukan para maha resi, mpu, yang ada di nusantara serta para raja-raja di Jawa, sebelum Nusantara itu terbentuk. Candi Jejawar ini, tempat suci berkumpulnya para maha resi, setelah membangun Candi Borubudur dan Candi Dieng,” kata dia.

Berdasarkan sejarah Babad Tanah Jawa, katanya, di Candi Jejawar itulah para maha resi, leluhur para raja Jawa dan mpu, bersembahyang. “Sang Hyang Aji Pasupati, yang memimpinnya. Beliau itu pimpinan dari pandita-pandita di tanah Jawa,” kata pria yang sudah 12 tahun menjaga candi Jejawar itu.

Saat itu, Sang Hyang Aji Pasupati, memimpin 16 pandita, yang bertugas merintis tanah Jawa. “Dalam sejarahnya, Candi Jejawar adalah stana Dukuh Ampel Gading atau Sang Hyang Aji Pasupati. Cikal bakal leluhur raja-raja tanah Jawa dan Kutai,” kata dia.

Dalam lontar Raja Purana Sesana Candi Supralingga Bhuwana dan lontar Kutarakanda Dewa Purana Bangsul disebutkan, bahwa pada saat Balidwipa (Bali) dan Silaparangdwipa masih dalam keadaan labil, Sang Hyang Aji Pasupati memerintahkan Sang Badawangnala, Sang Ananthaboga, Sang Naga Basukih dan Sang Naga Taksaka untuk memindahkan bagian dari Gunung Semeru dari Jawadwipa ke Balidwipa.

“Setelah tanah Bali stabil, barulah Sang Hyang Aji Pasupati menurunkan tiga putranya, yakni Hyang Gni Jaya, yang berstana di Gunung Lempuyang, Hyang Putranjaya berstana di Gunung Agung dan Hyang Dewi Danuh berstana di Gunung Batur,” kata dia.

Ditemukannya ‘pasraman’ yang menjadi tempat suci Sang Hyang Aji Pasupati berawal dari seorang Pandita bernama Ida Pandita Mpu Nabe Dwi Prama Dharma dari Desa Manggis, Kecamatan Amplapura Bali yang menderita sakit ajaib, seperti dipukul-pukul secara gaib yang dirasakan di sekujur tubuhnya.

“Karena sakit yang tak sembuh-sembuh, beliau menjalani semedi. Dalam semedinya beliau didatangi Sang Hyang Aji Pasupati, yang memerintahkan Ida Pandita untuk memuja dengan menggunakan Siwa Krana. Dari banyak semedi yang dilakukan, didapat pentunjuk melalui gambar gambar pelinggih yang ada di lereng selatan Gunung Semeru,” kata dia.

Dari petunjuk tersebut kisah I Wayan, ditemukan ‘pasraman’ yang di dalamnya terdapat Candi Jejawar tersebut pada tahun 1967 lalu. “Yang tinggal di sini, jika dizinkan akan jadi raja. Jika tidak dizinkan tak akan jadi raja, resi dan mpu. Jejawar artinya “tanah yang maha agung”. Semoga lokasi ini nantinya, bisa steril dari sikap yang tidak suci. Nanti akan kita ditanami pohon cemara sedikit demi sedikit di sini,” kata dia.

I Wayan juga menegaskan, bahwa reruntuhan candi Jejawar itu, bukan sebuah makam. Karena, selama ini banyak kalangan yang salah tafsir. “Tapi tempat suci Sang Hyang Aji Pasupati, yang buka Nusantara ini. Tapi, tempat ini bukan hanya untuk umat Hinda. Tapi untuk seluruh umat,” kata dia.

Namun, dia menyarankan, jika akan masuk ke area ‘pasraman’ tersebut, harus dalam kondisi harum, sudah mandi, badan dalam kondisi suci. “Karena ini memang tempat suci. Khusus ritual. Jika bukan untuk ritual, saya yakin akan ada peringatan dari yang maha kuasa,” tegas dia.

Sumber: http://regional.kompas.com/

BACA JUGA: